Apakah kau percaya bahwa ternyata dunia paralel itu ada?

Jawabannya adalah

"Tidak mungkin..."

Sejujurnya aku berusaha berpikir seperti itu. Tetapi, setelah melihat benda setinggi kurang lebih 8 meter dengan wujud mirip gundam sedang mangkir di halaman belakang rumahku sendiri, mau tidak mau aku harus percaya.

Apalagi jika benda itu bisa menjelma menjadi seorang gadis dengan penampilan yang membuatmu tidak bisa berkedip sama sekali.

Saran dariku, jangan pernah percaya pada sebuah benda asing setinggi tiang lampu jalanan, terutama jika benda itu ngakunya adalah sebuah automata dari dunia parallel. Jika kau gagal melakukannya, selamat. Hidupmu sudah bukan milikmu lagi.

Pengalaman pribadi.

Kematian gadis yang sebenarnya baru kukenal beberapa minggu entah kenapa benar-benar membuatku terpukul. Saking terpukulnya, aku mungkin bisa bunuh diri saat ini juga. Namun, ada beberapa hal yang tidak bisa kutinggalkan begitu saja di dunia ini. Salah satunya yaitu histori browser di laptopku.

Dari sini, kalian bisa ambil konklusi. Jangan lupa untuk mengaktifkan mode incognito sebelum menjelajahi website yang tidak-tidak.

Namun, semua ini terjadi 6 bulan sebelum kejadian horror itu.

Kau tahu, terkadang hidup itu memiliki rasa-rasa yang berbeda. Apa rasa yang kau bayangkan disaat melihat sepasang kekasih sedang bermesraan?

Cemburu? Memangnya itu rasa? Jika kau memang merasakan seperti itu, sebaiknya salahkan dirimu sendiri karena tidak bisa dapat pasangan hidup sampai detik ini.

Ya, aku tahu hidupku menyedihkan. Aku masih memiliki banyak pertanyaan menggantung di kepalaku, dan salah satunya adalah

"Umm, Tatiana? Apa yang kau lakukan di atas sana?"

Seorang gadis berambut pirang dan bermata biru yang kupanggil Tatiana ini adalah, bagaimana bilangnya ya. Sebuah malaikat dengan sayap yang salah tempat?

Dan sekarang dia sedang duduk diatasku, dengan santainya sembari memasang pose garang ala film dewasa bergenre sadism. Sembari mengibaskan rambut pirang yang kelewat cerahnya itu.

"Ya, aku adalah malaikat. Lebih tepatnya, malaikat kematianmu.."

Wajarnya, semua lelaki akan mendapati fantasi yang tidak-tidak jika hal seperti ini terjadi. Namun, tidak bagi situasi kami. Karena tubuh anak kecil yang masih belum melalui masa puber tidak bisa membuatku berpikir yang aneh-aneh.

Karena aku masih normal, setidaknya sampai mereka merubah definisi global dari normal itu sendiri.

"Uh, Lyan.. Mendadak wajahmu jadi kelihatan mesum.."

Eh, apa baru saja aku memikirkan sesuatu yang seharusnya tidak kupikirkan?

"Kau pasti sedang berpikir yang tidak-tidak tentangku kan?!"

"Maaf, tapi aku sedang tidak ada mood untuk bermain dengan papan gilesan.."

Plok..

Sebuah tamparan mulus mendarat diatas pipi kananku.

"A-aa-apa yang kau sebut papan gilesan ha?!"

Memangnya apa? Selain meja belajarku, hanya ada satu hal lagi yang datar di kamar ini.

"Aku hanya sedikit terlambat, itu saja! Dasar bodoh!"

Aku akan tertawa jika kau mengatakan itu lagi. Maksudku, mana ada gadis 17 tahun yang komposisi tubuhnya seperti itu? Adik temanku yang masih sekolah dasar saja mungkin terlihat lebih dewasa darimu.

Terima saja kenyataan, dan menyerah untuk menjadi sesuatu yang bukan dirimu.

Jika kau ingin pujian, maka akan kukatakan sesuatu. Wajah yang cantik dan paha yang mulus setidaknya masih bisa kau banggakan. Dan aku yakin diantara sekian orang yang tinggal di kota ini, tidak ada gadis manis yang memiliki rambut pirang alami dan mata biru seindah dirimu.

Kalaupun ada, akan kuturunkan luas seleksinya menjadi satu komplek sehingga kau tetap tidak ada tandingannya.

Masih kurang? Bagaimana jika satu kediaman ini?

Sepertinya pikiranku semakin menyeleweng.

"Jadi, bisa kakak turun sekarang?"

"Aku tidak akan turun sebelum kau memujiku dengan benar!"

Jadi kau mau pujian yang bagaimana? Pujian yang ditujukan untuk gadis kecil atau yang versi dewasanya? Karena yang kedua benar-benar tidak cocok untukmu.

"Memangnya apa bedanya?!"

Beda referensi neng..

Plok...

Kenapa hari ini aku mendapat banyak sekali tamparan?

"Sebaiknya kau tidak terlambat hari ini.. Karena jika kau sampai terlambat.."

Sebelum pintu kamarku sempat tertutup, Tatiana berbalik dan menatapku dengan wajah super dingin yang bisa kau bandingkan dengan frosty freeze yang baru turun dari mesin.

"... aku akan menggunakan autoritas ketua osis untuk menghukummu. Dengan sangat keras.."

Brak...

Bagus, sekarang aku punya motivasi untuk bangkit dari ranjang dan berangkat ke sekolah.

Jarak dari kediaman Heisenberg ke sekolahku tidak begitu jauh. Hanya berjarak sekitar 4 stasiun dari sini.

Ya, hanya berjarak sekitar 4 stasiun dari sini.

Kau tahu apa yang membuatku tidak pernah terlambat meskipun harus ngantri mandi dengan seorang kakak yang selalu menguasai daerah kamar mandi selama satu jam penuh?

Sebuah motivasi

Kalian telah mendengar sendiri dari mulut kecil gadis itu. Wewenangnya sebagai ketua osis mampu membuatku berharap tidak pernah datang ke sekolah lagi. Jangankan untuk itu, kalau mau dia bisa saja melenyapkan nama Lyan Excel dari daftar absensi kelas.

Kekuatan macam apa itu?

Namaku Lyan Excel, dan aku adalah anak adopsi dari keluarga Heisenberg. Aku sengaja tidak mengganti nama margaku, karena suatu alasan. Setidaknya, memiliki nama marga yang berbeda tidak terlalu menjadi masalah besar disini.

Kesulitan satu-satunya hanyalah mengurus surat-surat yang berhubungan dengan wali. Terutama disaat kepala sekolah sudah memberikan tatapan tajamnya kearahku. Beliau mungkin berpikir aku memalsukan tanda tangan, karena nama terang yang ditulis disana memiliki myoji yang berbeda.

Aku juga pernah hampir dipukuli satu komplek karena dikira maling. Terkadang, numpang tinggal di rumah orang itu tidak menyenangkan. Meski statusku sebagai anak adopsi, kesanku tinggal di rumah itu masih seperti orang numpang.

Papan nama bertuliskan "Kediaman Heisenberg" terpampang di depan pagar bukan tanpa alasan.

Bayangkan saja, lompat pagar dan memanjat untuk naik ke kamarku sendiri tanpa melalui pintu depan bisa membuatku dicap sebagai pencuri. Ketidakadilan macam apa yang merajarela ini.

Sebagai catatan, aku punya alasan bagus kenapa aku tidak ingin lewat pintu depan.

Kau tahu apa yang lebih buruk daripada salah baca label harga di supermarket?

Salah baca label pintu kamar mandi

"Jika kau punya alasan bagus untuk melakukan ini, sebaiknya keluarkan sekarang juga. Karena kantor polisi berada tepat di ujung jalan sana."

Tolong jangan sok jadi illegal, itu menjengkelkan. Beberapa menit yang lalu, gadis ini baru saja menyombongkan tentang sesuatu yang jelas-jelas menamparkan pernyataan bahwa dia sudah dewasa. Tetapi

Kenapa urusannya malah menjadi seperti ini?

"Polisi akan tahu mereka harus percaya siapa, jika melihat situasinya. Dan tanpa kartu pelajarku, kau tidak bisa membela diri."

"Tolong jangan katakan seolah-olah aku adalah pedofil yang berusaha menyerang gadis kecil!"

"Eh, kau bukan?"

Tentu saja bukan! Aku seratus persen bahan katun, bebas gula, dan tanpa tambahan merkuri! Dengan kata lain, aku normal!

"Kalau begitu jawab pertanyaanku dengan cepat."

"Baiklah.."

"Kau lolicon atau siscon?"

"Siscon!"

Jeduk..

Sebuah tendangan keras meluncur kearah-, kau tahu kemana tendangan itu meluncur.

"A-duh, selangkanganku..."

"Lain kali berpikir duakali sebelum membuka pintu kamar mandi.."

Tatiana meninggalkanku yang sedang digelimpangi rasa sakit luar biasa.

Kau tahu, sebenarnya aku tidak begitu percaya bahwa melahirkan itu terasa menyakitkan. Aku yakin, hal paling menyakitkan di dunia adalah ditendang bijimu dengan sekuat tenaga. Aku sudah sering mendengar seorang wanita mengeluh ingin punya anak lagi, tetapi aku belum pernah mendengar seorang lelaki minta ditendang bijinya lagi.

"Kau seharusnya bersyukur."

Karena jika dia bukan kakakku, aku pasti sudah dipenjara atas tuduhan yang bahkan tidak kulakukan.

Begitulah kehidupanku setiap hari dengan putri tertua keluarga Heisenberg, Tatiana.

Gadis itu memiliki tubuh yang lebih kecil untuk gadis seumurannya. Mungkin karena masalah genetika, sehingga pertumbuhannya tidak maksimal. Dia memiliki rambut pirang yang indah, tatapan yang tenang, dan sifat yang tidak mencolok. Matanya terlihat biru sebiru lautan, dan bibirnya berkilauan bak mutiara di dasar laut, bahkan tanpa pelembab bibir.

Jika bukan karena kejenjangan umur dan relasi kami dalam keluarga, aku mungkin sudah jatuh cinta kepadanya. Selain itu, status kami adalah kakak dan adik. Meski kami tidak memiliki hubungan darah, hukum tetap tidak melegalkan hal itu.

Jika aku dan Tatiana berjalan berdua, mungkin orang sudah mengira aku kakaknya. Padahal yang terjadi adalah sebaliknya.

Lagipula, kau tahu apa yang dikatakannya saat aku bilang bahwa aku suka padanya?

"Lyan. Di dunia ini, yang mau berpacaran dengan lelaki yang lebih muda darinya hanya ada satu."

Yaitu laba-laba janda hitam

"Dan setelah itu, dia akan memakan pasangannya.."

Aku jelas-jelas tidak akan membiarkan seorang gadis kecil memakanku hidup-hidup. Tetapi jika 'memakan' yang ia maksud adalah dalam arti lain, garasiku terbuka lebar untuknya.

Mungkin beberapa dari kalian memang membenci dengan apa yang namanya 'Time Jump'. Tetapi untuk kali ini, aku akan benar-benar meng-skip seluruh kegiatanku di sekolah dan tidak menghabiskan lembaran untuk sebuah narasi sia-sia yang aku yakin tidak banyak orang yang akan baca.

Lagipula, siapa juga yang mau kehidupan pribadinya diumbar di media sosial?

Dan aku cukup yakin, tidak akan ada orang yang mau baca rangkuman 30 halaman soal kehidupanku yang sudah sangat 'miserable', meskipun mereka dibayar.

Jika ada orang yang berani menulis serial yang serupa dengan kehidupanku, aku harus bertemu dengannya dan membicarakan banyak hal.

Aku yakin di belahan dunia manapun yang namanya menyelinap masuk ke rumah orang lain tanpa izin adalah sesuatu yang bisa dianggap tidak sopan. Namun sepertinya hukum itu tidak berlaku bagi sebagian orang yang baut di kepalanya sudah karatan.

"Unit – 001, 'Maid Automata', Axia. Siap menerima perintahmu."

Adalah kalimat kedua yang gadis itu ludahkan dari mulut manisnya sesaat setelah kalimat pertama dikeluarkan. Dia masuk melalui jendela tanpa salam tanpa ketukan, seolah-olah hal itu adalah sesuatu yang normal dilakukan.

Untuk informasi, kalimat pertama yang dia katakan sebelum ini adalah "Hai perjaka". Meskipun itu kenyataan, entah kenapa aku sangat kesal. Bukan kesal dengan apa yang ia katakan, namun kesal karena yang mengatakan bahkan bukanlah seorang manusia sungguhan. Aku tidak peduli walau harus perjaka, lagipula nantinya Tatiana akan merebutnya dariku.

Aku harap begitu.

Terkadang apa yang ingin kita percaya dengan apa yang kita lihat seringkali berkontradiksi, sehingga kita kurang bisa menerima kenyataan. Tetapi jika kenyataan itu sendiri telah benar-benar menampar wajahmu, urusannya sudah beda chapter.

Entah kenapa sepertinya aku pernah melihat plot serupa seperti ini. Apakah penulisnya kehabisan ide sehingga menggunakan template pasaran? Dan aku tidak menyetujui apapun tentang kontrak ini, ataupun mengapa aku harus membuat kontrak dengannya.

Berdebat dengan wanita itu tidak ada gunanya. Jika diibaratkan, itu seperti kau sedang membaca Terms of Service dari sebuah software. Pada akhirnya, kau akan mengabaikan segalanya dan menekan tombol "I agree".

Sesaat kemudian, listrik padam.

"Lyaaaan, jika kau tidak bisa menghentikan penggunaan listrik yang berlebihan di kamarku, kau berada dalam masalah besar."

Aku benar-benar diam dalam diam. Kau tahu kenapa?

Tidak ada barang elektronik di kamar ini yang benar-benar memakan penggunaan listrik dengan ukuran yang disebutkan. Kalau iya, alasan satu-satunya hanyalah sebuah mobil listrik salah cetak yang sekarang sedang berada di kamarku.

"Kau dengar apa katanya, sebaiknya kau menurunkan penggunaan listrik kamarmu"

"Jika aliran listrik yang jebol ini itu berasal darimu, ini benar-benar tidak lucu. Jadi aku minta kau berhenti melakukannya, atau aku akan mengusirmu dari sini"

"Mohon maaf dengan sangat, namun mesinku tidak menggunakan listrik sama sekali. Mesinku terlalu sempurna untuk menggunakan energi kelas rendahan seperti itu. Namun kurasa manusia dengan IQ rendahan sepertimu tidak akan faham"

Aku yakin di belahan dunia bagian manapun, listrik adalah sumber daya yang sangat-sangat dibutuhkan. Namun sepertinya otak gadis ini sudah pergi jauh di belahan dunia dimana peradaban manusia sudah entah terlalu maju, atau terlalu miring.

"Kita baru bertemu beberapa menit yang lalu, dan kau sudah berani menghinaku."

Jika dia berani menghinaku seperti ini lagi lain kali, akan kubongkar mesin rongsokan ini. Dan secara teknis, listrik mati ini bukan karena penggunaan berlebihan. Karena meteran listrik masih naik, sehingga aku yakin penggunaannya masih dalam tingkat wajar. Secara spontan, aku menyeret gadis ini ke dalam kamarku dan menyembunyikannya di bawah selimutku.

"Tunggu disini, aku akan memeriksa darimana gangguan ini berasal"

Beranda kamarku berada di lantai dua, setidaknya aku bisa melihat seluruh blok dari sini.

Segera setelah memastikan gadis itu tidak terlihat mencolok di kamarku, aku mengambil teropong jarak jauh dari peti harta karun di kamarku dan memantau seluruh blok, berusaha mencari sumber gangguan listrik yang kumaksud tadi.

"Mungkin bukan berasal dari blok ini"

Aku yakin pasti pembangkit listrik sedang melakukan perawatan, atau salah satu tiang disini ada yang lagi sedeng sehingga listirknya padam.

Turun dari beranda kamarku sungguh melelahkan, terutama jika kau tidak pernah melakukan olahraga.

Alasan aku tidak keluar rumah lewat pintu depan, adalah karena sekarang sudah lewat pukul sembilan. Dan Tatiana tidak akan mengijinkanku keluar rumah tanpa alasan yang jelas. Karena mencari penyebab listrik padam di tengah malam sampai harus keluar rumah benar-benar alasan yang tidak bisa diolah dalam kepala.

Terakhir kali listrik padam adalah salah satu anak tetanggaku sedang bermain layangan di tengah malam. Dan entah bagaimana, arus pendek membuat salah satu tiang listrik menjadi kehilangan perannya pada malam itu.

Anak-anak jaman sekarang memang sudah kehilangan gerigi di lutut mereka.

Oh tidak, seharusnya aku membawa senter tadi

Entah kenapa, blok seberang mendadak jadi gelap gulita. Semua lampu-lampu di pinggir jalan mati, dan pencahayaan dari tiap rumah juga terlihat padam. Meninjau dari sinyal yang kudapat dari smartphone, hanya blok ini yang mengalami pemadaman listrik.

Berkeliling di sekitar blok ini selama 10 menit tidak membuahkan hasil, dan yang ada aku bisa-bisa tersesat karena rabun yang kumiliki. Yap, aku tidak bisa melihat dengan baik dalam gelap. Mungkin beberapa orang menyebutnya Nyctalopia atau Rabun Senja. Ada beberapa yang menyebutnya Rabun Ayam, ah memang aku peduli apa sebutannya?

Sekarang aku hanya bisa mengandalkan pencahayaan dari smartphone yang kubawa, yang bahkan baterainya tidak sampai 20 persen. Dan naasnya lagi, aku lupa membawa power bank yang biasanya selalu kubawa kemana-mana. Mungkin hari ini bukan hariku.

Smartphone ku berdering.

"Halo, Lyan disini"

"Lyan, apa kau sudah menyalakan kembali listriknya? Karena jika tidak, aku akan membuatmu menyesal telah dilahirkan"

Entah kenapa meskipun melalui telepon, suaranya tetap terdengar dingin di telingaku.

"Kau sendiri sedang apa?"

"Jangan panggil 'kau', aku kakakmu. Dan aku sedang melakukan terapi 'tidur dengan tenang di kamar', jadi aku berharap kau segera membereskan semua benda-benda yang kelebihan beban di kamarmu.."

Satu-satunya benda yang makan beban di kamarku hanyalah sebuah pc dengan pendingin liquid dan juga kartu grafis berkapasitas 8 giga memori virtual. Itupun aku mengaturnya pada frekuensi tertentu sehingga meskipun rice cooker, microwave, dan air conditioner di kamar Tatiana sedang menyala listrik tidak akan padam karena kelebihan beban.

"Sedang kuusahaka-"

Panggilan terputus.

Sial, sinyalnya mendadak hilang seketika. Sekarang, aku hanya bisa mengandalkan insting dan pencahayaan yang minim dari flash kamera smartphone ku. Yah, lebih baik daripada tidak sama sekali

Seharusnya aku minta dia menghubungi customer service pelayanan masyarakat.

Sesaat kemudian, terlihat sebuah siluet bayangan memantul dari belakangku. Sebuah bayangan besar sekitar 5 sampai 7 meter, aku kurang yakin. Karena pencahayaan disini sangat minim. Bukan hanya minim, hampir tidak ada pencahayaan sama sekali di sini, kecuali smartphone yang kubawa.

Kuberanikan diri untuk berbalik, dan melihat apa yang ada di belakangku.

"..."

Oke, sekarang aku benar-benar ketakutan

Sosok itu benar-benar besar, dan karena pencahayaan yang minim, aku tidak bisa melihat wujud benda ini. Jika harus mendeskripsikan dari apa yang ku tangkap, benda ini seperti perpaduan dari baju zirah ukuran ekstra besar dengan pergelangan tangan sebesar ban truk. Bandol di pergelangan tangannya sekilas mirip seperti gelang pemberat yang digunakan oleh para Martial Artist di dojo-dojo.

Kuarahkan lampu dari flash smartphone ke arah makhluk itu, dan wujud sebenarnya dari makhluk itu mulai terlihat sedikit jelas. Mataku terbelak, tidak percaya dengan apa yang kulihat. Meskipun aku memiliki hal tidak normal di dalam kamarku, sesuatu seperti ini sangatlah membuat orang syok, apalagi saat kau tau bahwa benda seperti itu tidak berada di pihakmu.

Makhluk itu,- lebih tepatnya mesin itu mengedipkan matanya beberapa kali, seolah-olah sedang memindai sesuatu. Beberapa saat kemudian, terdengar raungan yang tidak terlalu keras dari bagian belakang mesinnya. Dan dari tebakanku, sebentar lagi dia akan melancarkan serangannya.

Dugaanku benar, dia kemudian mengangkat tangannya keatas, dan menghantamkannya ke arahku.

"..."

Untuk kali ini, aku sangat sangat beruntung, karena memiliki reflek yang lumayan hebat. Mungkin karena memainkan game bertema hack 'n slash bukanlah sebuah omong kosong belaka. Namun reflek saja tidak cukup. Diperlukan fisik yang mampu mengikuti pace dari reflek itu sendiri agar semuanya dapat berjalan sempurna. Dan kekalahan telakku ada pada fisikku yang lemah.

Menghindari serangan seperti ini sangat mudah, bahkan aku tidak perlu berusaha untuk menghindarinya. Dengan kemampuan analisis ku yang lebih hebat daripada orang yang mengidap autisme dan sindrom savant, semua gerakan mesin ini telah kutebak, bahkan sampai akhir. Sepertinya aku terlalu banyak menonton acara hollywood.

Maaf, aku bercanda soal kemampuan analisisku yang dilebih-lebihkan.

Ayunan keduanya datang, dan kali ini lebih cepat dari sebelumnya.

Dan tidak seperti yang kuharapkan, kali ini aku tidak beruntung. Ayunannya yang kedua membuat paving di blok jalan berterbangan, dan menghempaskanku kearah tiang lampu di sudut jalan. Benda ini benar-benar tahu cara mengajakku berkelahi. Namun apadaya manusia biasa sepertiku tidak bisa melawan mesin setinggi delapan meter dengan kekuatan setara buldozer dan kepintaran setara simpanse.

Sial, dia terlalu kuat. Disamping pergerakannya yang lambat, kekuatan tangannya benar-benar menutupi kelemahan mesin ini. Yang sampai sekarang aku tidak 'ngeh' adalah raungan tidak-keras nya yang keluar dari mesin bagian belakang. Karena tiap kali benda itu berbunyi, serangannya menjadi semakin cepat.

Setelah berhasil sadar dari hempasan paving blok, aku melakukan roll samping untuk menghindari ayunan tangan miliknya. Dan sepertinya aku berhasil menghindarinya.

Namun posisinya tidak baik.

Karena, dia telah mendapatkan apa yang sedari tadi ia incar, yaitu Tiang lampu jalanan.

Tiang lampu jalanan itu akan menjadi expander jarak serang yang sesuai untuk petarung jarak dekat sepertinya. Dia menggenggam tiang itu dengan kuat menggunakan tangan kanannya, lalu menariknya keatas hingga tiang itu lepas dari tanah.

"Sial, lagi-lagi raungan itu"

Gerakannya sekarang menjadi sedikit cepat. Tiang lampu yang ia pegang sama sekali tidak menghambat pergerakannya. Malahan, sekarang gerakannya terasa lebih cepat. Dan dengan jarak serang seperti itu, mungkin hanya masalah waktu untukku di hajar habis-habisan oleh benda itu.

Benda itu berhenti sejenak

"Ada apa? Apa dia menyerah?"

Biasanya di film-film zombie, karakter protag akan mendekati mayat lawan dengan senjata tetap dalam posisi siaga, dan menendang-nendang tubuh tak bernyawa milik lawan untuk memastikan mereka telah benar-benar ditiadakan.

Tapi mana mungkin aku melakukannya? Senjata saja tidak ada, apalagi nyali?

Aku benar-benar yakin bahwa orang yang bilang modal pertama dalam melawan sepasukan zombie adalah nyali itu baut dikepalanya mungkin sudah benar-benar longgar. Tetapi nyali tidak bisa membunuh lawanmu, cinta tidak bisa memberi makan keluargamu, dan juga kare tidak seharusnya dicampur dengan coklat meskipun beberapa orang menyukainya. Tetapi hal itu tetap terasa menjijikkan.

Aku bahkan masih ingat kemarin ada seseorang yang mengatakan di youtube bahwa modal utama dari melakukan vlog adalah percaya diri. Dan dalam hati aku berpikir, bukannya modal utama adalah kamera?

Aku benar-benar yakin orang itu sedang mabuk saat mengatakannya, karena percaya diri tidak bisa merekam gambar.

Benda itu berkedip sebanyak 3 kali, kemudian mengangkat tinggi-tinggi tiang lampu yang ia gunakan sebagai senjata tersebut. Kemudian, dia menghantamkan tiang lampu tersebut ke arahku.

Butuh lebih dari sekedar reflek dan fisik yang kuat untuk menghindari serangan benda raksasa seperti dia, dan baru kusadari beberapa detik yang lalu. Satu hal yang terpenting, adalah keberuntungan.

Jika terus seperti ini, hanya masalah waktu sampai aku benar-benar terbunuh oleh benda itu. Aku tidak bisa memberikan perlawanan, karena aku tidak bersenjata. Dan fisikku tidak kuat. Jika kalian berfikir ingin beradu fisik dengan mesin yang dapat menggunakan tiang lampu sebagai senjata satu tangan, kalian benar-benar kehilangan baut di kepala kalian.

Sebaiknya aku telepon polisi.

"..."

Lupakan saja, baterainya habis.

Ternyata, serangannya tidak berhenti disana. Dia memanfaatkan kondisi tiang lampu yang menghantam retakan pada paving di tanah, lalu mengayunnya dengan kencang, sehingga semua paving disekitarnya terbang dan menghempasku ke sudut jalan, lagi.

"..."

Aku bukanlah pahlawan yang seperti di film-film. Aku tidak kuat, aku juga tidak tampan. Aku tidak terkenal, aku juga tidak memiliki fans. Jadi semisal aku menyerah disini dan mati ditangan mesin penghancur bertenaga kuda, sepertinya tidak akan ada yang keberatan.

Aku menutup mataku untuk terakhir kalinya, dan berusaha untuk bersandar setenang mungkin, memposisikan diriku pada posisi yang nyaman untuk mati. Sembari mendengar dengan setia raungan mesin itu. Secara tak disadar, aku tidak mampu membendung perasaan ini.

Tangisan?

Oh iya, pipi ku basah. Mungkin aku memang sedang menangis.

Mungkin sekarang penampilanku benar-benar menyedihkan.

"Seseorang, siapapun, tolong aku..."

Sepertinya novel ini akan tamat lebih cepat dari yang kuduga.

"..."

Tiba tiba, seseorang memelukku dari belakang dan menutup mataku. Kehangatan dari pelukannya membuatku lupa bahwa aku sudah siap mati beberapa menit yang lalu, namun sekarang aku benar-benar tidak ingin mati. Aku masih ingin merasakan kehangatan ini. Aku masih ingin hidup. Aku masih ingin merasakan cinta. Aku masih ingin bersama dengan seseorang yang kusayangi.

"Permohonanmu, terdengar jelas di telingaku"

"Memuat database inti"

"Menjalankan urutan perintah satu sampai empat"

"Service tidak ditemukan, menjalankan Cronjob service untuk daemon utama"

echo "Installing main daemon driver..."

sudo yum -y software-common-properties

sudo wget " overlord/katafrakt/~repos/latest"

sudo cmake

make ./config

sudo make config

sudo ./CONFIG

echo "Loading database"

echo "Connecting to Overlord"

echo "Connection established"

"Menghubungkan konektor neuron satu sampai empat"

"Menjalankan urutan pemetaan brainware"

"Materialisasi..."

/

"..."

Malam itu, aku kehilangan kesadaran. Aku tidak ingat sebagian besar kejadian yang terjadi malam itu. Tapi aku sangat jelas, ingat bahwa ada seorang gadis yang memelukku dari belakang, dan menutup mataku.

Sentuhan tangannya sangat lembut, aku bahkan tidak ingat itu tangan siapa. Pelukannya sangat menenangkan perasaanku, sampai aku lupa siapa diriku. Bisikannya benar-benar menggoyahkan keraguanku, sehingga aku tidak melakukan hal yang ceroboh.

Namun tanda tanya terbesarku, siapa dia?

Semua pertanyaan yang ada dikepalaku serasa di blender dengan kecepatan tinggi, lalu di guncangkan di dalam shaker, untuk kemudian disajikan kepada audien. Dan yang dimaksud audien itu adalah aku.

Mungkin meminum segelas air akan menyegarkan kepalaku

Suasana rumah benar-benar sangat tenang. Dan bagiku, ini hal yang tidak biasa. Karena yang namanya Tatiana Heisenberg, dia adalah orang yang tidak pernah tidak mengkritik setiap hal yang ada didalam rumah, berbeda dengan dia saat diluar rumah. Perilakunya di luar rumah sangat mencerminkan perilaku seorang kakak. Tenang, dan berwibawa. Namun sepertinya orang sering salah tanggap karena melihat sosoknya yang mirip kayak anak SD yang baru lulus.

Dimanapun kau berada, pasti suasananya akan berubah drastis ketika seseorang yang selalu buat kasus setiap menitnya tiba-tiba mendadak diam dan tenang.

Kubuka pintu kamar Tatiana secara perlahan, setelah mengetuknya sebanyak tiga kali. Disana, aku melihat seorang gadis kecil sedang tiduran sambil membaca buku, dengan pose yang sangat menggugah mata yang sakit ini. Jika aku bukan adiknya, dan dia bukan kakakku, pasti sudah jelas bahwa aku akan main kuda bersama tubuh gadis yang tidak memiliki pertahanan ini sama sekali. Sayangnya, aku masih normal. Cukup normal untuk tidak terangsang pada pertunjukan sekilas yang di sampaikan oleh kakakku sendiri.

Namun namanya manusia, pasti juga ada batasnya.

Dan aku tidak bisa menyangkal bahwa Tatiana itu gadis yang cantik. Meski aku tidak mengerti definisi sebenarnya dari kecantikan itu. Anggap saja, kecantikan itu adalah serangkaian faktor-faktor utama dan penunjang yang disusun sedemikian rupa dengan komposisi dan nirmana yang seimbang, sehingga terciptalah apa yang disebut "keharmonian".

"Lyan? Apa yang kau lakukan berdiri disana?"

Aku yakin alasanku benar-benar konyol, tetapi untuk suatu alasan aku ingin melihat wajahnya.

"Ada apa?"

"Kemarilah, dan tutup pintunya"

Masih tidak berkutik dari posisi nyamannya, dia semakin serius dengan buku yang dibacanya. Matanya dengan jeli menerjemah setiap kata yang ada, sehingga dapat di terima oleh otaknya. Mulutnya memainkan lolipop yang sedari tadi sudah berada di dalam mulutnya. Sesekali terdengar suara gemeretak dari permen berbatang yang sedang ia kulum.

"Lalu, ada apa?"

"Duduklah disitu"

Tatiana menunjuk sisi ranjang disebelahnya, dan menyuruhku untuk duduk disana. Setelah aku duduk disampingnya, dia masih tetap fokus kepada buku yang ia baca selama kurang lebih 15 menit. Ia kemudian mendorongku dengan kakinya, dan mengisyaratkanku untuk mengambil satu lagi permen lolipop yang berada agak jauh darinya.

"Jadi aku hanya berperan sebagai kurir?"

"Jangan banyak bicara dan turuti aku"

Terkadang menjengkelkan melihatnya seperti ini. Tapi hal-hal seperti ini terkadang tidak buruk juga. Karena berkat ini, aku berhasil menyegarkan mataku dengan paha mulus milik Tatiana. Satu hal yang masih mengganggu pikiranku. Apa yang ia baca? Tidak dapat terlihat jelas dari sini, karena buku itu disampul dengan kertas warna polos, dan lapisan plastik. Dengan sampul seperti itu, aku hanya dapat menebaknya dari ekspresi yang ia tunjukkan. Tapi itu tidak mungkin, karena Tatiana sedari tadi tidak menunjukkan ekspresi apapun selama membaca buku.

Beberapa menit kemudian, Tatiana bangkit dari posisi nyamannya, dan menjauhkanku dari surga dunia miliknya. Dia kemudian menjatuhkanku kearah ranjang, dan menutup mataku.

"Anuu, Kak Tatiana?, apa ada yang salah?"

"Ssshhh, diamlah."

Aku tidak bisa menebak apa yang ia lakukan sekarang, tetapi yang jelas keadaan dimana aku tidak tahu apa yang ia sedang perbuat malah membuat boner-kun semakin bersemangat.

Seperti kata orang, ketidaktahuan membunuhmu.

"Kak, kita ini saudara."

Meskipun aku berkata seperti itu, gadis ini tidak punya tendensi untuk berhenti membangkitkan singa yang tertidur didalam diriku. Ia menyentuh pipi kiriku, kemudian membelai bibirku. Nafasnya sangat terasa dari sini, dan dari apa yang kurasakan, kepalanya ada berada di sebelahku. Soalnya telinga ini sedari tadi sudah merasakan sensasi hembusan udara hangat yang mengundang segala pikiran tidak benar.

"Jangan sok suci, kau sering menatapku dengan tatapan mesum kan..."

Aku memang melakukannya, tetapi hal itu murni karena rasa kagumku kepadamu. Aku menganggapmu sebagai sebuah figur yang patut dipuja. Dan menodai tingkatan tinggi itu berarti aku telah menyalahi integritas dari prinsipku sendiri.

"Bagaimana jika kita kabur dari rumah dan kawin lari?"

Idemu benar-benar sudah liar. Aku tidak ingat punya kakak perempuan yang terpikirkan untuk membawa adik laki-lakinya kawin lari.

"Atau,..."

Tatiana berhenti sejenak, dan menatapku dengan tatapan sedih.

" ...kau sudah punya orang lain?"

Entah keberanian darimana yang kudapatkan, kedua tanganku sudah sukses meraih gadis kecil itu dan menjatuhkannya di pelukanku.

"Ketahuilah, aku tidak punya siapa-siapa lagi di hidupku kecuali dirimu kak Tatiana. Kaulah satu-satunya orang yang mengisi hati kosong ini dengan kehangatan.."

"Jadi kau tidak keberatan dengan tubuhku yang masih terlambat kan?"

Aku tidak keberatan.

"Kau tidak keberatan punya kakak perempuan yang suka menggoda adik laki-lakinya?"

Aku tidak keberatan.

"Kau tidak keberatan punya kakak perempuan yang mesum?"

Aku tidak keberatan.

"Lyan..."

Tatiana menutup mataku dan entah benar atau tidak, aku merasakan bibir yang sangat lembut dan manis menyentuh bibirku. Tubuhnya menempel dengan eratnya sampai aku bisa mendengar detak jantung dari gadis itu.

"Untuk malam ini..."

Aku merasakan kehangatan dari tubuh gadis itu secara langsung. Tangan lembutnya membelai leherku dengan perlahan dan memelukku dengan penuh perasaan.

"...jadikan aku milikmu..."

Setelah itu, aku merasakan sesuatu yang basah.

"Jika kau masih ingin tidur terus, aku akan benar-benar melemparkanmu keluar jendela"

Ujar sebuah gadis yang sekarang berdiri di sebelahku sembari memegang sebuah gelas yang sudah kosong.

"Huh, ada apa?"

Gedebuk...

Dan setelah kembali ke dunia nyata, baru kusadari bahwa aku terjatuh dari kursi belajarku.

"Setidaknya buat dirimu berguna, dan bangun dari posisimu sekarang, pemimpi."

"Aku tidak mau mendengarnya darimu rongsokan"

Entah aku harus bersyukur karena itu semua hanya mimpi, atau aku harus kesal karena itu semua hanya mimpi. Yang jelas, kedua hal itu sangat berkontrakdiksi di kepalaku sehingga pikiranku jadi agak kacau.

Dan entah kenapa, begitu bangun rasanya tubuhku remuk semua.

Aku tidak begitu ingat apa yang terjadi semalam, dan aku benar-benar tidak punya niat untuk mengingatnya. Sekalipun aku mengingatnya, hal itu tidak akan merubah apapun.

"Aku menuntut penjelasan.."

"Aku yakin kau sedang tidak berada dalam posisi dimana kau bisa memaksaku.."

Gadis itu tersenyum.

"Dan jika kau berpikir bahwa budaya paksa-memaksa antara lelaki terhadap seorang wanita masih berlaku, sebaiknya kau buang jauh-jauh pikiranmu itu."

Karena emansipasi wanita adalah omong kosong- atau lebih tepatnya pada anak-anak dibawah sepuluh tahun. Di jaman modern ini anak SD saja sudah bisa membully orang dewasa. Kau tidak tahu minggu lalu aku baru saja dibegal oleh gadis sekolah dasar. Dia mengancamku dengan melepas celana dalamnya dan mengarahkan kedua jari mungilnya di dekat alarm yang selalu terpasang di randoseru-nya. Yang mana jika alarm itu ditarik, polisi akan datang dan kalian pasti tahu mereka akan percaya siapa.

Di hari itu, aku kehilangan hampir seluruh uang sakuku untuk satu minggu.

Terima kasih, anak sekolah dasar. Kalian yang terbaik!

Eh tunggu, kenapa aku malah membahas ini?

Berdasarkan dari apa yang kudengar melalui mulut gadis ini, dia bukanlah manusia. Melainkan sebuah model fisik dari senjata antar-dimensi berbentuk robot raksasa bernama Katafrakt. Jika kalian tidak bisa menangkap, bayangkan saja mental model milik kapal biru.

Untuk beberapa model kelas tinggi pada katafrakt, mereka dilengkapi dengan model fisik yang menyerupai manusia dengan tujuan agar mudah dibawa kemana-mana. Selain itu, model fisik dengan wujud gadis seperti Axia bisa digunakan untuk banyak hal seperti Honeytrap dan juga dukungan mental disaat kau stress.

Tetapi pada kasusku, Axia-lah yang malah membuatku tambah stress.

Aku tidak bisa menjelaskan lebih lanjut bagaimana robot raksasa seperti itu bisa menjelma menjadi seorang gadis yang tampangnya sudah setara dengan idol gravure, tetapi yang jelas tubuhnya itu benar-benar didesain dengan segenap niat. Aku bahkan hampir tidak bisa percaya mereka punya teknologi yang mumpuni untuk menciptakan kulit sintetis yang sempurna seperti ini.

Tidak ada susunan huruf yang sesuai untuk menjabarkannya selain "sempurna".

Jadi sekarang, anggap saja dia adalah mobil listrik yang salah cetak biru sehingga tampangnya jadi mirip seperti idol gravure.

Aku tidak begitu punya mood dengan apa yang ingin ia debatkan, karena aku belum pernah pergi ke dunia parallel. Di dunia ini, semua yang ingin kau bantah adalah terbatas dari apa yang sudah kau lakukan.

Jadi jika kau ingin bilang rendang buatan ibumu tidak enak, kau harus bisa membuat rendang. Jika kau ingin bilang moba kok analog, kau harus bisa membuat game.

Semenjak bertemu dengan gadis itu, hidupku bukannya lebih baik melainkan lebih buruk. Bagaimana tidak?

Kalau bukan yang namanya dilempar, dihempaskan, dipukul, dihantam, diledakkan, ditembak, dilumatkan, dan dibakar sudah bukan hariku namanya. Semua itu sudah semacam daily activities yang harus kulewati tiap harinya. Rasa sakitnya sudah seperti prasmanan saja, sedangkan lecetnya adalah suvenirnya.

Seluruh anggota tubuhku masih dalam keadaan lengkap saja sudah merupakan suatu mukjizat.

"Axia, arah jam sebelas!"

"Terdengar, memulai serangan.."

Gadis itu berlari kearah lawanku yang merupakan seorang lelaki tinggi dengan tampang garang dan kepala botak. Untuk sesi kali ini, akan kusebut dia sebagai preman botak berjas.

Axia meluncurkan beberapa pukulan kearah orang itu, tetapi dia tetap berhasil mengelak semua serangan gadis itu. Terlepas dari ukuran tubuhnya yang benar-benar besar, aku masih tidak percaya bahwa ia bisa menghindari seluruh pukulan cepat yang diluncurkan Axia. Aku saja tidak bisa melihat gerakan cepat dari tangan gadis itu.

Jadi jika Axia bilang bahwa preman botak berjas itu bukanlah manusia, mau tidak mau aku harus percaya. Karena aku yakin tidak ada manusia yang bisa menandingi gerakan cepat dari automata tempur. Setidaknya sampai aku tahu seberapa batas kekuatan dari automata tempur pada umumnya.

Preman botak berjas itu tidak hanya mengelak dan menangkis pukulan Axia, melainkan ia juga mulai menyerang balik. Dan meskipun pada dasarnya kemampuan fisik mereka berdua setara, keahlian mereka berdua dalam pertempuran jarak dekat berbeda drastis.

Namun karena mereka berdua memiliki spesifikasi yang 11 12, seharusnya jika diteruskan akan berakhir seri. Tetapi perbedaan mereka terletak pada satu hal yang fatal.

Axia tidak dirancang untuk bertempur, melainkan untuk bantu-bantu rumah, namun lawannya sebaliknya. Preman botak berjas itu memiliki pengalaman bertempur lebih banyak dari pada Axia, sehingga pada dasarnya Axia sendiri tidak punya kesempatan untuk menang jika tidak didampingi oleh orang yang bisa memberikannya instruksi untuk bertempur.

Tagline 'Maid Automata' pada Axia ada bukan karena tanpa alasan.

Preman botak berjas itu tidak hanya bisa melakukan feint terhadap serangannya, tetapi mampu membuat semua serangan Axia malah berdampak buruk terhadap dirinya sendiri. Dengan sedikit teknik, orang itu berhasil menghempaskan Axia ke sudut gang.

Aku bukan tipikal orang yang akan diam saja begitu melihat gadis cantik sedang dibully, tetapi aku juga tidak dalam posisi dimana aku bisa sok jagoan. Lagipula, Axia bukanlah gadis sungguhan melainkan sebuah mobil yang terlihat seperti itu.

Preman botak berjas itu mengejarku dengan kecepatan yang tidak bisa dibilang cepat, namun karena fisikku yang memang tidak begitu bagus dalam sekejap dia bisa mengejarku.

Bugh!

Dan sumpah, aku baru sadar pukulan dari sebuah automata itu rasanya sakit sekali.

Aku hanya berharap tulang rusukku tidak pindah dari tempatnya.

Diriku yang notabene cuma manusia biasa tidak akan bisa menang melawan sebuah automata tempur yang tampangnya saja sudah kelewat sangar. Jadi meskipun menyedihkan, aku lebih memilih untuk merengek minta pertolongan kearah gadis jadi-jadian yang sekarang sudah bersiap dibelakang orang ini.

"Axia, buruan tolong aku!"

Dan dengan segenap kekuatannya, tendangan tumit ganda milik Axia berhasil membuat preman botak berjas itu terpental sejauh sepuluh meter sebelum akhirnya menabrak tong sampah di depannya.

"Pyuh, syukurlah aku tidak jadi babak belur.."

"Dia masih belum kalah sepenuhnya.."

Benda itu masih punya keinginan untuk bangkit dan mengejarku. Dan tidak perlu kuulangi, aku yang notabene cuma manusia biasa hanya bisa bersembunyi dibalik sosok gadis yang sekarang menjadi satu-satunya harapanku untuk hidup.

"Axia, kau kan automata dari dunia parallel. Apa kau tidak punya senjata canggih seperti di film-film? Rudal atau senapan otomatis misalnya."

"Kau kira ada tempat untuk meletakkan benda seperti itu? Aku adalah automata maid kau tahu.."

Dan automata maid dirancang untuk mengerjakan pekerjaan rumah.

Tetapi itu tetap tidak merubah fakta bahwa dia adalah automata. Terlebih lagi, sebuah katafrakt. Senjata dimensi yang bisa melenyapkan kota dalam sekali jentik.

"Jika kau bisa puas dengan tubuh seorang gadis yang ada senjata rudalnya, aku tidak keberatan memodifikasi diriku sendiri.."

"Ngomong apa kau? Jangan buat tiap lelaki yang berdiri di sebelahmu jadi marah.."

"Eh, kau laki-laki?"

Tentu saja! Mau lihat 'peliharaanku'?

"Tapi jika untuk membakar orang ini, aku punya lebih dari hal yang dibutuhkan."

Axia mengacungkan tangannya kearah orang itu, dan membuka kode casting khusus yang berada di tangan kanannya. Begitu ditekan, tangan kanannya terbelah menjadi empat bagian dengan bagian tengah berbentuk seperti kombinasi senapan dan tesla coil.

"Dengan ini berakhir sudah.."

Tiba-tiba disekeliling preman botak berjas itu keluar sebuah api besar yang menjulang tinggi layaknya pilar. Jilatan api itu benar-benar panas, sampai-sampai aku yang jaraknya lumayan jauh dari pusat kobaran saja masih merasakan panas yang tidak main-main.

Meskipun suhu api ini tidak mencapai titik leleh logam, setidaknya aku yakin tidak mungkin perangkat dalam dari automata bisa selamat dari panas yang bisa menghanguskan marshmellow kurang dari satu detik ini.

"Bagus, setidaknya pergerakannya terhenti.."

"Aku tidak akan bilang begitu.."

Dari balik api, muncul sesosok bayang-bayang pria tinggi yang hanya berdiri santai di dalam kobaran api. Seolah-olah tubuhnya tidak terbakar oleh kobaran jago merah yang sekarang menjulang tinggi setinggi langit itu.

"Oi oi, kau bilang dengan ini semua akan berakhir."

"Aku memang bilang begitu, tetapi tidak kuduga model seperti dia memiliki resistansi terhadap api sampai pada taraf yang tinggi.."

Axia meningkatkan output pada senjatanya untuk membuat kobaran api itu menjadi semakin panas dan panas, membuat api yang semula hanya berbentuk pilar sekarang mulai menjilat-jilat daerah sekitarnya.

"Kau berlebihan Axia, seluruh gang akan terbakar jika outputnya lebih tinggi.."

"Tidak, ini masih kurang... Aku harus bisa lebih panas lagi!"

Wajah gadis itu berubah menjadi semerah tomat. Matanya menyala-nyala, dan tangannya gemetaran. Dilihat darimanapun, aku yakin dia sedang memaksakan batasnya meskipun dia hanyalah sebuah automata. Dan lagi

Jika memang diciptakan untuk dibuang setelah dipakai, untuk apa automata diberi perasaan seperti Axia?

Aku yakin tujuan mereka diciptakan lebih dari itu.

"Dengan ini berakhir sudah!"

Axia membuka code casting pada tangan sebelahnya, dan menyemprotkan cairan hidrogen ke arah kobaran api itu.

"Pertanyaan pertama. Apa yang terjadi pada logam yang didinginkan secara mendadak setelah dipanaskan dalam suhu tinggi?"

Gadis itu tersenyum.

"Bingo!"

/

Katafrakt, adalah bentuk persenjataan baru yang didedikasikan untuk kepentingan militer. Mereka adalah Automata yang mengambil wujud sebagai persenjataan perang tingkat tinggi, dengan atau tanpa awak di dalamnya.

Pengejaan Katafrakt disini diambil dari bahasa inggris (Cataphract), yang artinya sebuah kavaleri berat yang mengenakan baju zirah, digunakan pada masa perang kuno oleh Eropa, Asia Timur, dan Timur Tengah.

Sedangkan penyebutannya dalam bahasa inggris itu sendiri adalah turunan dari bahasa yunani (Kataphraktos/κατάφρακτος). Artian denotasi nya adalah "berlapis baja" atau "tertutup sepenuhnya". Katafrakt pada sejarahnya adalah prajurit berkuda dengan pertahanan lapis baja, yang pada umumnya akan mengenakan senjata berupa tombak.

Para peneliti sempat menghentikan penelitian mereka terhadap Automata, karena mereka berfikir tidak ada sumber energi yang cukup efisien untuk mengembangkan dan menjalankan Automata. Daripada itu, mereka lebih fokus pada mengembangkan sumber energi alternatif yang akan lebih berguna untuk masyarakat banyak.

Dan yang lebih mengejutkannya lagi, bahwa orang yang membawa perubahan pada dunia, terutama perkembangan teknologi, adalah seorang lelaki yang tengah duduk di bangku SMU bernama Lyan Excel, sang penemu reaktor sumber energi kekal, Alpha Reactor Core. Jika kalian pernah dengar yang namanya "Dual-Diversion Cell" yang diciptakan oleh Akiyama Shuunichirou, kira-kira cara kerjanya seperti itu. Intinya adalah menggunakan partikel kuantum dan sirkulasi abadi melalui jalur fraktura antar dimensi untuk memutarbalikkan inti core nya, dan menciptakan sebuah sumber tenaga.

Dan tambahan, jika kalian kenal seseorang bernama Lyan Excel, harap hubungi aku. Karena aku memiliki banyak hal untuk kubicarakan dengannya.

Alpha Reactor Core (kita sebut saja ARC) akan aktif selama pemiliknya masih hidup. Dan yang memiliki hak untuk mengaktifkan dan mematikan ARC hanyalah pemiliknya atau seseorang dengan darah yang sama. Pada dasarnya, mencuri akses ARC hampir dikira mustahil, sehingga tingkat kriminalitas menurun jauh pada jaman itu. Dan tentu saja bukan di garis waktu dunia yang kusinggahi sekarang.

Sepasang unit katafrakt terdiri atas Insteader (pengendara), dan Unit (sebuah katafrakt). Namun ada kasusnya dimana sebuah unit katafrakt dikendalikan oleh AI (Artificial Intelligence). Karena basis katafrakt adalah sebuah automata, sistem mereka tidak berbeda jauh. Perbedaan mereka ada pada bagaimana mereka melakukan proses yang dibebankan kepada mereka.

Beberapa automata mengandalkan hampir 80% kemampuan mereka, maka dari itu mereka bisa disebut sebagai Standalone Automaton atau automata yang berdiri sendiri. 20% sisanya akan dilaksanakan oleh server pusat. Jenis lain juga ada yang membebankan sebagian besar proses mereka kepada server cadangan yang disebut "Manajemen Perilaku" sehingga seluruh automata berada pada satu jaringan. Sedangkan katafrakt berbeda.

Katafrakt memiliki sistem mainframe yang cukup rumit dan mesin utama yang benar-benar makan daya, sehingga energi kinetik klasik hampir mustahil untuk menggerakkan benda ini. Berbeda dengan automata pada umumnya yang bisa bergerak hanya dengan dialiri listrik.

Seluruh sistem mereka terhubung dengan yang disebut dengan "Overlord". Overlord memuat seluruh proses yang dirasa terlalu rumit untuk ditangani oleh prosesor katafrakt, dan kemudian melakukan one-time synchronization (sinkronisasi satu waktu) untuk memastikan hardware katafrakt tidak kelebihan beban, dan menjalankan protokol load-balancer (penyeimbang beban).

Aku tidak tahu siapa yang menamai benda ini, dan bagaimana wujud benda ini. Tetapi yang jelas dari apa yang disampaikan Axia benda ini pasti berwujud seperti susunan komputer yang diparallel sedemikian rupa sehingga bisa menangani begitu banyak hal yang masuk dan keluar.

Singkat kata, Overlord adalah induk dari para katafrakt. Sebuah pusat yang menentukan baik dan buruk, benar dan salah, dan juga iya dan tidak.

Katafrakt memiliki kemampuan menciptakan sesuatu dari kehampaan (materialize) yang dimana adalah suatu hal yang tidak mungkin berdasarkan hukum dunia manapun, berkat kemampuan permrosesan milik ARC dan Overlord. Sehingga mereka dapat menghemat tempat dan melakukan de-materialize katafrakt yang tidak digunakan untuk pertempuran. Pihak militer biasanya menyamarkan wujud katafrakt yang di de-materialize dalam bentuk kendaraan.

Untuk melakukan materialize, dibutuhkan kecepatan memproses tingkat tinggi. Disinilah peran Overlord. Overlord akan membantu penerjemahan program pada tiap inch material dari katafrakt, dan mengirim seluruhnya melalui backdrop port yang berbeda. Kemudian, katafrakt menerima seluruh paket yang dikirim Overlord, dan menjalankan urutan perintah yang ada untuk menerjemahkan program menjadi bentuk fisik. Tentu saja dengan bantuan ARC.

Sampai sekarang, cara kerja ARC masih belum difahami dengan pasti, meskipun seharusnya teorinya serupa dengan Dual-Diversion Cell. Para peneliti hanya memiliki pengetahuan yang samar mengenai cara kerjanya.

"Yang aku masih tidak paham adalah-"

Aku mengarahkan telunjukku kearah gadis yang sekarang duduk bersimpuh didepanku.

"Untuk apa aku menciptakan sebuah benda berbahaya seperti ini?"

Siapapun yang menciptakan Alpha Reactor Core adalah seseorang yang benar-benar sudah siap dibenci oleh seluruh dunia. Terutama jika dia tidak mau berbagi rahasia pembuatan benda ini. Karena bayangkan saja

Jika benda ini benar-benar bisa menghasilkan energi seperti yang dikatakan Axia, harga minyak bumi akan jatuh dan pembangkit listrik kuno benar-benar akan kehilangan peran mereka. Bayangkan berapa ratus ribu orang akan kehilangan pekerjaan mereka karena dampak dari manufakturisasi benda ini.

Terlebih lagi kemampuan benda ini jika dimanfaatkan dalam perang.

Namanya Railgun yang seharusnya hanya ada di film-film sci-fi hanya tinggal hitungan jari saja sampai terrealisasi.

"Kau tahu, meskipun hidupku menyedihkan tetapi hidupku selama ini cukup damai. Dan aku tidak ada niatan untuk merusak kedamaian ini."

Dan kenyataan bahwa di waktu yang sama, jam yang sama, dan detik yang sama, sebuah dunia yang jelas berbeda dengan duniaku sedang dalam krisis karena keberadaan benda ini. Terlebih lagi karena keberadaan katafrakt.

Lebih tidak dipercaya lagi bahwa penyebabnya adalah aku.

"Dan kenyataan bahwa kode dari software katafrakt jenisku bukanlah open-source, seluruh dunia berlomba-lomba menciptakan katafrakt versi mereka sendiri dan memulai perang dimana-mana. Sehingga dunia benar-benar dalam keadaan krisis."

Gadis itu menunduk.

"Aku tahu professor Excel tidak pernah punya niat buruk sama sekali. Hanya saja, hal baik yang berusaha ia lakukan selalu berakhir menjadi hal yang buruk."

Aku tidak akan menyalahkan orang itu karena telah menciptakan sebuah benda berbahaya seperti ini. Manusia memiliki tendensi akan menciptakan sesuatu, sehingga hal-hal seperti ini pastinya sudah sangat lazim di kehidupan.

Malahan, aku salut kepadanya karena sudah berhasil mengambil langkah lebih awal dariku, padahal kami berdua adalah orang yang sama.

Tetapi yang kupermasalahkan adalah

"Kenapa aku jadi ikutan kena imbasnya?"

Gadis itu hanya tersenyum tipis sambil geleng-geleng kepala.

"Mau bagaimana lagi, kau kan seorang selebriti."

Ya, selebriti yang terkenal dengan cara yang sangat tidak menyenangkan.

"Tapi yang terkenal adalah Lyan dari duniamu, bukan Lyan yang ada disini!"

Uuuuh, semua beban pikiran ini mulai membuat kepalaku lelet. Saat ini aku benar-benar ingin melunturkan semua masalah yang digantung di atas pundak rapuhku dan berendam didalamnya.

"Maaf, Axia. Kita lanjut lain kali saja, aku sudah sangat capek hari ini. Kau bisa menjadi tidak mencolok kan?"

Gadis itu mengangguk.

"Uh, tentu.."

Selama ini aku hanya berpikir bahwa hal-hal yang terjadi belakangan ini cuma ada di dalam film. Tetapi saat aku sendiri mengalaminya, entah kenapa kenyataannya tidak sekeren di film. Aku bahkan tidak bisa berdiri tegak saat berhadapan dengan lawanku.

Jujur saja, semua ini terlalu banyak untukku. Aku tidak bisa menyesuaikan dengan perubahan drastis yang terjadi dalam hidupku. Kemarin aku hanyalah seorang siswa SMU biasa. Sekarang tiba-tiba aku harus dilibatkan dalam perang dalam diam yang terjadi diantara automata bersama dengan sebuah senjata bersumber energi sebuah reaktor bertenaga partikel dimensi dengan kekuatan tujuh ribu kilo. Dan jika menurut kalian hal itu bukan apa-apa, berarti kepala kalian sudah salah pasang baut.

Selama 30 menit aku merenung di dalam bak mandi berisikan air hangat, dengan banyak pertanyaan bergumam di pikiranku. Setidanya disini aku bisa sedikit rileks.

Begitu kembali, aku termenung sesaat setelah membuka pintu kamar. Disana, kulihat sebuah automata cantik dengan kemeja putih dan blazer biru muda sedang berbaring telentang diatas kasur empuk milikku. Dan dilihat dari ekspresi wajahnya saja, sangat terlihat bahwa ia sedang menikmatinya.

"Apa yang kau lakukan di atas singgasana ku?"

"Dilihat darimanapun kau juga tahu kan? Aku sedang istirahat."

"Ya, aku tahu itu. Tapi mengapa ranjangku?"

Dengan datarnya, dia menjawab

"Karena nyaman?"

"Jangan akhiri jawabanmu dengan sebuah tanda tanya! Dan tolonglah, ini bukan acara komedi..."

"Jadi kau mau ini jadi acara dewasa?"

"Lebih buruk! Sekarang keluar!"

"Apa? Kau mau 'keluar'?"

Untuk saat ini aku benar-benar ingin berteriak "Wahai orang-orang dari dunia parallel, kalian sangat brengsek" sekeras-kerasnya. Namun jika kulakukan, yang ada aku hanya akan dianggap gila.

Karena mereka seenaknya memasang sebuah software humor yang seleranya sangat-sangat tidak pada posisinya pada sebuah automata maid yang wujudnya menyerupai komok idol gravure dan dengan seenak perut melemparkan benda ini ke dalam kehidupanku yang damai.

Harus kubilang, kalian adalah orang paling brengsek yang kukenal.

"Apa kau tidak dengar? Keluar!"

"Iya aku dengar, tapi kenapa kau malah menunjuk ke arah jendela?"

Bukannya sudah jelas? Aku tidak mau kau keluar dari pintu. Kenapa di saat seperti ini kumparan dioda bodoh ini tidak bisa jadi pintar, duh.

/

Venite Paranium, adalah mineral yang terbentuk oleh distorsi ruang. Mereka adalah mineral orihalcum yang memiliki nilai konsentrat lebih tinggi dari orihalcum pada umumnya. Mineral yang satu ini mirip dengan cinnabar yang mengandung toksisitas lumayan besar, namun tingkat kekerasan mineral ini setara dengan berlian, dengan kode kekerasan 9.8 mohs.

Dan salah satu alasan kenapa aku membawa penjelasan ini di awal segmen, karena benda inilah yang menjadi penyusun utama reaktor alfa. Mungkin diantara kalian ada yang penasaran kenapa reaktor alfa bisa tetap mensupply energi untuk semua komponen yang terpaut padanya tanpa harus kehabisan supply energi utama mereka seperti baterai konvensional, ataupun mengalami overheat.

Ya, di dalam mesin katafrakt bukan ARC yang mengalami overheat, melainkan mesinnya yang tidak mampu menangani sumber tenaga sekuat ARC sehingga jika input terlalu besar maka energy pool-nya bisa jebol dan mesinnya bisa hancur dengan sendirinya.

Semua penjelasan ini mulai masuk akal. Jadi alasan dibalik persenjataan besar yang mereka punya adalah karena mereka adalah alat tempur antar-dimensi. Tidak ada alasan lain yang relevan dengan penjelasan yang dilontarkan Axia, kecuali kalau mereka sudah menciptakan kantung ajaib seperti milik doraemon.

Wujud Axia hanya terlihat seperti gadis biasa, namun dibaliknya tersembunyi segala seluk beluk tetek bengek senjata mematikan yang bisa saja membunuh manusia dengan menjentikkan jari.

"Hei Lyan, menurutmu warna langit itu apa?"

Gadis itu duduk dengan santainya sembari menjilati es krim vanilla yang baru saja kami beli di kios seberang taman.

"Entahlah, menurutmu warna apa?"

Kami berdua hanya bengong memandangi langit sembari menikmati es krim ditengah terik panasnya matahari yang menyerang dihari minggu. Aku yakin semua orang akan setuju kalau kami sedang kencan, namun nyatanya tidak begitu.

Kami hanya kebetulan jalan bareng.

"Ngomong-ngomong, aku masih penasaran soal senjata yang berada di tanganmu itu... Apa namanya? Acatata?"

"Acapela.. Duh, begitu saja kau tidak bisa ingat."

Mau bagaimana lagi, namanya sungguh peculiar untuk sebuah senjata multifungsi.

Tongkat Acapela (Acapela Wand), adalah salah satu utilitas multifungsi milik Unit-001 atau Axia. Benda ini memiliki kemampuan dasar untuk memanipulasi molekul dan menciptakan sebuah keajaiban kecil. Namun hal paling sering yang ia lakukan adalah menggunakannya untuk menembakkan peluru angin yang dikompresi, membakar oksigen, dan menyemprotkan berbagai cairan kimia lainnya seperti hidrogen cair.

Pada dasarnya benda ini sangatlah kuat, namun tujuan benda ini dibuat adalah untuk membantu mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Jadi jika digunakan secara paksa untuk bertempur, energy pool milik reaktor alfa bisa saja kosong dalam waktu singkat.

Jika perlu dijabarkan dalam peralatan rumah tangga, benda ini bisa menjadi kompor, penghisap debu, mop lantai, dan juga penyerut es. Aku yakin fungsinya masih banyak lagi, tetapi author mulai kehabisan ide untuk dituliskan.

"Mungkin akan kuganti namanya jika ada ide yang lebih bagus..."

"Eh, kau bisa melakukannya?"

"Tentu saja, kau pikir apa itu metadata..."

Tiba-tiba entah darimana asalnya, tanpa angin tanpa badai mendadak sebuah peluru nyasar melesat dan menghancurkan bangku taman yang sekarang tengah kami duduki. Dan peluru yang menghantam bukanlah peluru biasa, melainkan explosive ammo. Dan di game apapun, yang namanya explosive pasti meledak.

"Merunduk Lyan!"

Axia mengayunkan tangannya dan melemparku jauh ke semak-semak di belakang sana untuk menghindari ledakan dan serangan selanjutnya. Begitu aku terlempar ke belakang, rentetan hujan peluru selanjutnya berusaha menghantam kami. Namun tembakan itu tidak ada yang mengenai kami sama sekali. Semuanya berhenti tepat di depan Axia.

"Code casting, Magnetic Field diaktifkan!"

"Axia, parameter!"

"Sedang kuusahakan... Pemindaian frekuensi, radius dua kilometer!"

Pemindaian frekuensi milik Axia digunakan untuk mengamankan daerah, dan juga mengirimkan data dari apa yang terjadi dalam radius tertentu. Axia akan menebarkan sebuah partikel nano di radius yang ditentukan untuk mengirim dan menerima data. Semua yang terjadi di dalam radius tertentu baik suhu, tekanan gravitasi, medan magnet, dan segalanya akan dikirim langsung melalui jaringan privasi.

Dengan begitu, dia bisa mengetahui apapun yang terjadi dalam radius dua kilometer. Untuk tambahan, ia biasanya melemparkan dua buah drone keatas untuk meningkatkan pengelihatan visualnya sehingga kemampuan pemindaian miliknya lebih maksimal.

"Sial, sekawanan automata kelas konrad sedang mendekat kemari."

"Kemari? Tapi ini di taman... yang benar saja!"

Jika sampai terjadi baku tembak di taman, sudah jelas bahwa akan ada yang terluka selain diriku. Aku harus mencari cara untuk memancing mereka ke tempat yang lebih sepi dan menghabisi mereka sekaligus.

"Axia, carikan tempat untuk bertarung!"

Aku benar-benar tidak ingin tempat ini menjadi lokasi pembantaian berdarah. Benar-benar tidak enak didengar.

"Terdengar, memindai lokasi sekitar..."

Axia melompat tinggi untuk mendapatkan visual jelas dari daerah disekitarnya. Perhatiannya terfokus pada situs industri yang sudah ditinggalkan.

"Kita akan hajar mereka disana.."

Aku tidak yakin mengapa situs industri lama menjadi pilihan kami untuk tempat eksekusi. Namun setidaknya ini lebih baik daripada harus bertempur di taman.

Para conrad bermunculan dari atas gedung. Automata yang belum pernah kulihat sebelumnya, dengan bentuk seperti katak berkaki dua dan senapan di bagian moncongnya sedang mengepung telak kami berdua.

Untuk sesi ini, sebut saja para conrad ini dengan sebutan yodokroid.

Mereka semua melompat kearah kami dengan ganasnya, membuat kakiku yang tadinya berdiri tegap jadi malah gemetaran.

Maafkan, tetapi aku hanyalah siswa SMU biasa. Melawan automata bukanlah pekerjaanku.

"Berlindunglah Lyan!"

"Tidak perlu kau beritahu, aku sudah akan melakukannya!"

Axia mengacungkan tangannya kearah para yodokroid itu dan membuka code casting di bagian tangan kanannya.

"Code casting, Acapela Wand diaktifkan!"

Tembakan kompresi angin melesat dari tangan Axia dan menghancurkan satu demi satu para yodokroid itu. Angin bersifat tembus pandang, sehingga hampir mustahil bagi mereka untuk menghindari serangan yang diluncurkan Axia.

Namun jumlah mereka yang tidak sedikit membuat Axia lumayan kewalahan. Sebagai gantinya, gadis itu mulai berlarian kesana kemari sembari memancing para yodokroid ini agar tidak mendekatiku.

"Lyan, ada yang lolos! Arah jam delapan!"

"Sial!"

Yodokroid yang berhasil lolos dari tarian Axia berhasil menjatuhkanku dan menodongkan senapan mereka kearahku. Namun entah darimana, sebuah pemukul bisbol tiba-tiba berada tepat di sebelahku. Aku bahkan tidak ingat ada benda itu disebelahku.

Dengan sekuat tenaga, kutendang kaleng rongsokan itu dan kuhantamkan pemukul bisbol yang kudapat dengan keras. Dan tentu saja, hal itu tidak berdampak besar tetapi setidaknya aku berhasil menunda akhir hayatku.

Bodi mereka cukup keras, aku kagum dengan Axia yang bisa menghancurkan mereka hanya dengan senapan kompresi angin.

"Sial, mereka terlalu banyak! Kita harus ke tempat yang lebih tinggi untuk mendapat visual yang jelas..."

"Tempat yang tinggi, maksudmu- Aaaaa tahan sebentar Axia!"

Tanpa dikomando, Axia mengangkatku diatas bahu kirinya layaknya sebuah karung dan melompat tinggi ke atas gedung dengan bantuan medan magnet yang berada di kakinya.

"Code casting, Lithium Sword diaktifkan!"

Axia menciptakan sebuah distorsi kecil di sebelah kanannya, dan menarik sebuah pedang panjang dari sana.

Aku tidak tahu siapa yang menciptakan nama benda-benda konyol itu, tetapi yang jelas sekonyol-konyolnya mereka tetap berguna di saat-saat seperti ini.

"Lyan, tangkap!"

Gadis itu melemparkan sebuah pedang bilah panjang yang ia dapat dari code casting kepadaku.

"Jangan berharap banyak kepadaku. Kau tahu aku jarang olahraga.."

Aku menangkap benda itu, dan menebaskannya kearah yodokroid yang barusan berusaha untuk menembakku dari belakang.

"Setidaknya benda ini lebih tajam daripada pemukul bisbol yang tadi.."

Tapi sumpah, benda ini berat sekali. Aku tidak habis pikir seberapa kuatnya Axia bisa melempar benda seperti ini kearahku.

Kami terus menghancurkan satu demi satu para yodokroid ini, tetapi jumlah mereka sama sekali tidak terasa berkurang. Malahan, frekuensi serangan mereka meningkat. Hal itu membuatku yang notabene cuma manusia biasa mulai kehabisan nafas disini.

"Axia, kau kan sebuah katafrakt. Tidak bisakah kau menggunakan bentuk aslimu?"

"Kau mau bertanggung jawab jika aku menggunakannya?"

"Tentu saja!"

Lagipula jika tidak, kita bisa-bisa berakhir jadi makanan kodok disini.

"Baiklah, kau yang minta. Menjalankan perintah satu sampai empat, menjalankan proses inti daemon."

Ribuan kabel keluar dari punggung Axia, dan membelitku didalam sebuah bola kaca layaknya seekor hamster. Di dalamnya terlihat sebuah keyboard virtual, layar lcd dan juga sebuah bangku.

"Menghubungkan konektor neuron satu sampai empat."

Layaknya menancapkan chip pada socket, empat buah konektor tiba-tiba ditancapkan di punggungku. Aku tidak akan menjelaskan rasa sakitnya seperti apa, tetapi yang jelas rasanya seperti akupuntur.

"Materialisasi!"

Beberapa saat kemudian, aku merasakan ribuan informasi dijejalkan kedalam kepalaku, dan ribuan informasi pula dikeluarkan dari sana dalam waktu yang bersamaan. Layaknya proses download upload, informasi itu keluar dan masuk dari kepalaku dengan derasnya. Saking derasnya kau akan merasa kepalamu sedang mengeluarkan darah.

Begitu informasi yang deras mulai memudar, layar lebar 360' dihadapanku menyala dan menampilkan sebuah visual dari apa yang ditangkap oleh kamera.

"Bagaimana perasaanmu mengendarai Unit-001 untuk kedua kalinya?"

"Tolong jangan ditanya, rasanya seperti kelapa dan logam."

Nah, sekarang

"Waktunya menghajar!"

Aku yakin barusan terdengar keren, jika saja kami tidak mencurinya dari punchline orang lain. Sayangnya, beberapa tahun lalu ada film yang menampilkan tagline seperti ini sehingga tingkat kekerenan kami tidak lebih dari orang itu.

Beberapa saat kemudian, serasa ada yang menghantam bodi depan Unit-001. Getarannya begitu terasa. Setelah itu, entah darimana asalnya serasa ada yang menembak bahuku dengan 50' caliber.

Aku tidak bercanda, rasa sakitnya sungguhan. Orang dari dunia parallel sudah terlalu gila dengan hal-hal berbau efek rasa sakit virtual. Layar menampilkan tingkat sinkronisasiku hanya pada tingkat 80 persen, tetapi rasa sakitnya sudah seperti tendangan lurus kearah bijimu.

Membayangkan bagaimana rasa sakit sesungguhnya dari 50' caliber adalah satu hal yang berusaha kuhilangkan dari pikiranku.

"Axia, apa kau tidak punya buku panduan atau asisten bertarung seperti di game?"

Disaat seperti ini, harusnya benda secanggih ini memiliki semacam PGM yang mudah digunakan, atau sebuah sistem penunjang kemampuan bertarung seperti didalam Sword Art Online. Orang awam sepertiku yang bahkan belum mendapatkan surat ijin mengemudi tidak mungkin bisa mengendalikan benda setinggi 7 meter.

Ikari Shinji saja jatuh telak di menit pertama dia mengendarai evangelion karena tersangkut kabel charger.

"Kau mau pakai cortana?"

"Tidak terima kasih..."

Catatan, aku punya dendam pribadi terhadap program itu.

Aku membuka palka bagian belakang Axia, dan menembakkan beberapa butir missile untuk membuka jalan, karena bertarung di gedung sempit seperti ini tidak menguntungkan senjata besar seperti Axia. Jangan tanya bagaimana aku melakukannya, semua persenjataan di tubuh Axia terhubung denganku melalui sistem syaraf dan sinkron terhadap gelombang otak. Jadi jika kau tanya pun, aku tidak bisa menjawab. Anggap saja intuisi pria.

"Kau bilang kau tidak punya tempat untuk meletakkan misil."

"Eh, aku pernah bilang begitu?"

"Sudah lupakan.."

Apakah kalian ingat apa yang kubilang soal "Reflek yang hebat, namun fisik tidak bisa mengikuti?". Hal itu tidak berlaku saat mengendarai Katafrakt, karena kau tidak sedang menggunakan fisikmu sendiri.

Setelah jalan di depanku terbuka lebar, aku berlari menjauhi kerumunan agar bisa mendapat display yang lebih baik. Setelah berada beberapa meter dari pusat kerumunan, aku menarik dua firearm yang terdapat pada built-in holster di bagian paha Unit-001.

Ah sial, aku lupa bahwa permainan FPS ku sangatlah buruk.

Ditambah membidik mereka menggunakan sidearm tanpa scope bukanlah keahlianku. Terus apa apaan ini? Crosshair di layar sama sekali tidak membantu. Prediksi benda ini tentang melencengnya tembakanku terlalu besar.

Tetapi jika aku diam saja, hanya tinggal masalah waktu sampai kami berdua jadi lumatan para yodokroid ini. Aku menggerakan pergerakan robot tujuh meter ini layaknya penari kabuki, mendekati musuh perlahan dan menembak mereka dari jarak titik kosong sembari tetap menjaga tidak ada yang berhasil melaluiku dan menyerangku dari belakang. Sebodoh-bodohnya pemain FPS, mereka tidak akan meleset saat menembak dari jarak buta. Jika mereka masih meleset, tolong periksakan ke psikiater. Bisa-bisa itu sindrom yang mematikan.

Aku menembakkan kedua sidearm secara bergantian, untuk memastikan kedua senjata ini tidak kehabisan peluru secara bersamaan. Karena pengisian peluru otomatis membutuhkan sekitar 5 detik. Dan 5 detik adalah waktu yang cukup bagi mereka untuk mendekatiku.

Satu kesalahan, dan kau akan tamat. Ini tidak seperti saat kau kalah, dan dipersilahkan memasukkan koin lagi untuk melanjutkan permainan.

"Sial, mereka tidak ada habisnya."

Mereka datang bergerombol dan mulai mebuatku terpojok. Serangan mereka seperti tidak memiliki akhir. Meskipun fisikku tidak kelelahan, tapi aku yakin pikiranku lelah. Semua terlihat dari tembakan Unit-001 yang mulai suka nyasar ke pinggir. Aku berharap tidak ada satupun dari tembakanku yang salah kunci dan mengenai orang lain.

Aaarrghh.. Semua ini tidak akan ada akhirnya jika aku tidak membereskan mereka semua sekaligus. Bisa-bisa, aku yang akan terpojok. Karena gedung konstruksi bekas ini juga punya batas.

"Axia, bantu aku menghindar. Aku akan fokus menyerang.."

"Terdengar, melakukan proses adaptasi terhadap pergerakan lawan. Memindai lawan... Menjalankan proses prediksi, menampilkan output di layar utama.."

Di tengah pertempuran, tiba-tiba salah satu sidearm milik Unit-001 mengalami jamming. Sebuah kejadian tidak terduga di waktu yang tidak terduga, dengan situasi yang tidak terduga. Dunia ini memang selalu penuh dengan hal-hal yang tidak terduga.

"Ah sial, kau punya senjata cadangan?"

Aku melemparkan salah satu sidearm yang mengalami jamming kearah yodokroid, dan menghantamnya dengan peluru explosive. Ledakannya berhasil membuat para konrad itu berhamburan kesana kemari.

"Kau tahu apa yang kupikirkan?"

"Code casting, Acapela Wand diaktifkan!"

Jangan salah paham, jika bukan karena Axia yang menyuruhku aku tidak akan mau mengatakan hal memalukan seperti itu. Apalagi jika harus meneriakkannya sekuat tenaga.

Unit-001 melayang menggunakan papan magnet yang berada di kakinya, menciptakan pose seolah-olah kami sedang berselancar. Jika ditambahkan efek cahaya hijau, mungkin kami akan terlihat seperti sedang menggunakan flyboard trapar. Tapi ini bukanlah anime 75 episode dengan karakter utama yang warna rambutnya di cat oleh robot raksasa, dan ayahnya memiliki kokpit robot seperti cangkir kopi sembari ia duduk santai diatasnya.

Dan untuk catatan, aku bahkan tidak ingat seperti apa wujud ayahku.

Aku tetap menembaki mereka tanpa henti, begitu juga dengan mereka. Para mesin-mesin ini terus berdatangan dari atas gedung. Entah berapa jumlahnya, tapi yang kutahu mereka tidak sedikit.

"Berpeganganlah, kita akan menggunakan Trigger Happy."

Trigger Happy, adalah sebuah teknik yang digunakan oleh Axia untuk memanfaatkan recoil menjadi sebuah energi kinetik, yang nantinya dapat digunakan untuk mempercepat pergerakan dan penyerangan. Teorinya mirip seperti Crescent Rose milik Ruby.

"Code casting, Trigger Happy diaktifkan!"

Namun yang namanya recoil, selalu memiliki efek samping. Terlalu lama menggunakan Trigger Happy akan menghancurkan mainframe Katafrakt, jadi diperlukannya re-materialize untuk mengkokohkan mainframenya setelah penggunaan jangka panjang.

Axia menggunakan senapan kinetik di kakinya untuk memudahkannya melompat tinggi, memberikan kami display yang jelas atas berapa banyak jumlah musuhnya. Kemudian menggunakan medan magnet untuk mempertahankan energi potensial kami sehingga Unit-001 tidak kehilangan ketinggian.

"Mengunci semua target."

"Kau akan menghancurkan mereka semua sekaligus?"

"Tentu saja! Itu adalah cara tercepat untuk mengakhiri ini."

Angka penghitung di pojok layar terus meningkat dan meningkat. Jumlah yang ditangkap oleh pemindai melebihi perkiraanku.

Setelah berada diatas langit, pemindai menandai semua target yang ada dalam jangkauan pandang Unit-001. Dan seperti dugaanku, mereka benar-benar banyak. Mungkin jika aku adalah Axia, CPU milikku sudah panas melihat banyaknya jumlah lawan yang harus kami hadapi.

"Annihilation mode diaktifkan. Code casting, Hellstorm Drive diaktifkan!"

Jika kita sedang bertarung di dalam kotak kardus yang diperkuat, mungkin aku akan menggunakan "V-Mode" sembari meneriakkan "Lightning Lance!". Tapi aku sedang tidak menaiki Achilles. Dan dari awal, kami tidak punya lembing.

Dan entah kenapa, suara narrator dari anime itu tidak pernah bisa keluar dari kepalaku.

Palka dari punggung Unit-001 terbuka, melontarkan ratusan peluru napalm yang di digerakkan secara elektronik, menyebabkan semua tembakan kami tidak meleset dari targetnya. Smart Bullet yang digunakan Axia dapat mengubah lintasannya sendiri, menavigasi, mentransmisikan data, serta membatasi jangkauan.

Tiap peluru napalm menghunjam para automata kelas conrad ini, dan meleburkan tubuh metal mereka. Tembakan yang keluar dari belakang tubuh Axia terlihat seperti parade kembang api. Satu demi satu para yodokroid ini hancur lebur oleh peluru setebal penghapus duaribuan.

"Code casting, Photon Blade diaktifkan!"

Punggung tangan Unit-001 terbuka dan mengeluarkan partikel photon yang kemudian menyusun dirinya sendiri menjadi sepasang bilah pedang.

"Ini untuk kehidupan damaiku!"

Aku menghantamkan kedua pedang ini dengan keras kearah sisa-sisa yodokroid yang masih bisa berdiri tegap. Tanpa terkecuali, mereka semua telah habis menjadi serpihan besi yang mungkin bisa ada harganya jika dijual ke pengepul.

Kami bisa bernafas lega sesaat setelah tebasan terakhir dilancarkan. Begitu selesai Axia langsung menjalankan proses de-materialize pada Unit-001 untuk menghemat daya. Karena mempertahankan bentuk itu saja benar-benar memakan energi.

Aku yakin mesin Axia sekarang benar-benar panas, bisa dilihat dari wajahnya yang mulai merah semerah tomat. Dan jika dipantau dari apa yang kami lakukan, wajar jika dia kelelahan sampai seperti itu. Monitoring di smartphoneku juga menunjukkan penggunaan RAM dan Swap yang sangat tinggi pada Axia.

Kau malah akan dikira tidak normal jika tidak lelah setelah melakukan semua itu.

/

"Sayang, bisa kau ambilkan cangkir di belakang sana?"

Ujar wanita itu sembari menata piring diatas meja, dan mengisi tiap piring dengan kue yang berada di dalam kotak hitam dengan logo bakery yang sepertinya termasuk dalam merek mahal.

Pria sangar di belakang muncul dengan membawa beberapa buah cangkir untuk ditata di atas meja bersamaan dengan kue-kue yang sebelumnya sudah tertata rapi.

Jedar!

Beberapa saat kemudian, pintu terbuka lebar dengan disambungnya sosok lelaki yang nafasnya hampir diambang batas berada di anjungan.

"Lyan!"

Sebuah pelukan lembut meluncur dari seorang wanita awet muda yang tadinya sedang memegang pisau kue.

"Kau kemana saja? Mama khawatir kau tahu!"

"Iya maa, tetapi sekarang lepaskan dulu... Aku tidak bisa bernafas!"

Beliau adalah Chinatsu, ibu angkatku. Meskipun tampangnya mirip gadis SMU, sebenarnya umurnya sudah 40 tahun. Mungkin inilah penyebab anaknya memiliki border lulusan SD.

Aku tidak akan heran jika tuan Scheelinde selalu membicarakan istrinya panjang lebar tinggi jika sedang reuni bersama kawan lamanya. Maksudku, kau pasti akan melakukan hal yang serupa jika menikah dengan seorang wanita yang tampangnya tak lekang oleh waktu.

Axia pun penampilannya tak lekang oleh waktu, tetapi jika aku disuruh menikahinya akan lebih baik kalau aku jomblo selamanya saja.

Dari dulu, mama selalu menginginkan seorang anak lelaki. Jadi ketika tuan Scheelinde memutuskan untuk mengadopsiku, beliau benar-benar tidak bisa menahan diri.

Mama bekerja sebagai sekretaris seorang konglomerat kaya di paris, sehingga sangat jarang bagi beliau punya waktu untuk diluangkan bersama keluarganya. Jadi sebuah kesempatan untuk pulang bagi beliau sudah seperti keajaiban.

Jadi kalian bertanya-tanya mengapa hidupku seperti orang sengsara, padahal dikelilingi gadis-gadis cantik? Eits, aku tidak berhenti disana. Entah mengapa, sepertinya hal ini membuatku dibenci oleh orang terakhir dirumah yang selalu berhasil membuatku tidak merasa seperti di rumah sama sekali, yaitu tuan Scheelinde alias papa nya Tatiana.

Bagaimana tidak? Mencuri perhatian anaknya, mengambil waktunya dengan istrinya, dan kesampingkan itu, aku bahkan malah asyik bermain-main di dalam Axia.

Kalimat terakhir tolong diabaikan, terdapat kesalahan dalam proses editing.

Disaat suasana mulai mencair, tiba-tiba Axia menunjukkan batang hidungnya di depan kami.

"Ara ara, siapa ini Lyan?"

"Geh, kau lagi..."

Entah kenapa aku tidak bisa senang ketika bertemu dengan gadis ini.

"Selamat sore, namaku Axia Renfield.."

Gadis itu tersenyum, dan menggandeng tanganku.

"Aku adalah kekasihnya Lyan.."