Jika saja aku dipertemukan dengan mautku, hal pertama yang kukatakan adalah

"Kau terlambat!"

Aku tahu jelas bahwa dia mengatakan sesuatu yang memang kelihatannya aku yang salah, tetapi percayalah hari ini aku tidak melakukan sesuatu yang salah sama sekali. Malahan, kalau perlu menyalahkan sesuatu salahkan sekawanan konrad yang harus menggangguku sepanjang jalan hanya demi merebut satu-satunya nyawa yang kumiliki.

Jika punya sembilan, akan kuberikan delapan dari itu hanya saja aku bukan kucing.

Kematian selalu dekat dengan semua orang. Mereka tahu mereka akan mati, namun mereka hidup seolah-olah mereka tidak akan mati.

Mereka hidup seolah-olah harta yang mereka miliki akan melindungi mereka dari kematian. Mereka menggali sedalam-dalamnya lautan kekayaan demi untuk menolak bala yang sebenarnya sangat dekat dengan mereka.

Mereka takut akan kematian.

Aku? Hah. Kau pikir siapa diriku?

Kematian selalu dekat denganku, dan kakiku bahkan tidak bergetar sama sekali. Aku sudah siap menghadapi semuanya sejak awal. Aku sudah siap untuk kehilangan nyawaku sendiri sejak bertemu dengan gadis itu.

Asalkan orang-orang yang kusayangi baik-baik saja, aku tidak peduli apa yang terjadi dengan diriku.

Pemandangan indah mayat-mayat tentara, dengan rerumputan bersimbah darah adalah sebuah pemandangan yang wajar bagi para pejuang yang memenangkan perang. Mereka berhak menikmati semua yang mereka perjuangkan.

Tapi untuk apa?

Untuk apa mereka bertarung? Untuk apa mereka mengangkat senjata selama ini? Untuk apa mereka saling membunuh selama ini?

Untuk harta? Untuk tahta? Untuk wanita? Atau untuk hal lain?

Mereka bertarung hanya untuk memuaskan hawa nafsu mereka. Orang-orang ini, yang ngakunya adalah 'Seigi no Mikata' hanya bermain-main dibalik slogan mereka. 'Lebih baik pulang nama, daripada gagal di medan pertempuran'. Apanya yang pulang nama, dasar bodoh! Gagalpun tetapi jika kau masih hidup, kesempatan akan datang berulang kali. Tetapi jika kau mati semua akan usai. Perjuanganmu, akan terhenti sampai sana.

Sampai dimana kau menghembuskan nafas terakhir.

Sumber, Sasaki Haise.

Hanya karena aku adalah adik dari seorang siswa terpintar disekolah, bukan berarti aku adalah orang yang luar biasa. Kami bahkan tidak sedarah.

Namun mereka tidak mendengar.

Mereka kerap mengatakan hal-hal bodoh yang selalu terngiang dikepalaku sepanjang hari, tanpa henti. 'Lyan, kau pasti pintar soal ini kan.' 'kau pasti bisa mengerjakan ini kan.' 'tolong kerjakan tugas rumahku ya Lyan, aku mengandalkanmu'.

Aku tidak pintar, dan aku tidak kuat.

Aku hanya lelaki SMU biasa. Aku hanya lelaki lemah yang bahkan tidak bisa berdiri tegap selama 3 jam penuh saat upacara.

Teman? Dih, teman macam apa mereka? Hanya datang disaat mereka membutuhkanku. Disaat mereka sudah tidak membutuhkanku, mereka akan membuangku dan melupakanku seperti sebuah tisu bekas masturbasi. Pada akhirnya, aku hanya akan dilupakan.

Aku tidak yakin itulah definisi yang benar sebagai teman, jika ada yang bisa membantu tolong buka kamus dan cari tahu apa definisi teman itu sebenarnya.

Alasanku bisa tetap hidup sampai saat ini adalah

"Oiii, bumi kepada Lyan.. Kau bisa mendengarku?"

Karena dia

"Oh-uh, ada apa?"

"Bisa kita mampir di kafe dekat stasiun sebelum pulang?"

Karena senyumannya

"Aku hanya sedang ingin makan parfeit, tidak lebih.."

Aku sanggup terus maju, dan melupakan masalahku..

Karena hidup bukanlah permainan. Hidup adalah anugerah. Sebuah anugerah yang diberikan kepada kalian para makhluk hidup, oleh yang diatas sana. Sebuah anugerah yang harus dimanfaatkan sebaik-baiknya.

Namun kalian tetap saja menciptakan kerusakan. Kalian tetap saja menciptakan konflik, dan memulai perang. Kalian tetap saja saling mengacungkan senjata dan membunuh satu sama lain. Demi apa?

Demi apa kalian bertarung?

Sebegitu pentingnyakah saling membunuh bagi kalian? Sebegitu rendahnyakah nilai kehidupan dimata kalian?

Sedangkan aku? Apa yang membuatku tetap bertarung? Apa yang menyokong semua usaha yang kulakukan untuk bertahan hidup dan terus berjuang?

Jawabannya sudah jelas

Satu-satunya alasan itu sedang duduk didepanku, sembari menikmati parfeit stroberi kesukaannya. Seorang gadis cantik pirang dengan figur seanggun sebuah mawar. Indah, namun berduri. Layaknya sebuah mutiara di dasar laut, cantik namun tak dapat dijangkau olehku.

Aku bukanlah orang yang puitis, aku hanya sedang kehabisan kata-kata untuk menjabarkan kecantikan Tatiana.

Sejak pertama kali aku bertemu dengannya, sudah kuputuskan bahwa aku akan melindungi senyumannya, tidak peduli apapun yang terjadi.

Tidak peduli meski aku harus berjalan dengan satu kaki, sembari menahan darah keluar dari kaki yang satunya. Tidak peduli meski aku harus merangkak hanya dengan sebelah tangan, sembari tangan sebelah menggandengnya agar ia tidak tertinggal. Tidak peduli meski aku harus merayap dengan sisa anggota tubuh yang kumiliki, demi bertemu dengannya. Tidak peduli meski hanya dapat menatap senyumannya dengan sisa waktu yang kumiliki.

Tidak peduli meski nyawa ini taruhannya. Selama ia baik-baik saja, aku sudah puas. Aku rela mengorbankan segalanya, karena aku tahu aku sudah tidak punya apa-apa lagi.

Senyum Tatiana selalu mengingatkanku, bahwa dunia itu luas nan indah. Keindahan dunia itu sendiri ada karena Tatiana selalu mendampingiku. Aku mungkin tidak bisa merasakan kebahagiaan, jika tanpa dia.

Kebahagiaannya, adalah kebahagiaanku.

Entah bagaimana, tiba-tiba aku dan Tatiana semakin lengket kepadaku, semenjak keluarnya diriku dari rumah sakit. Bukannya aku bermaksud untuk protes atau bagaimana. Aku menikmatinya, hanya saja semua ini terkesan seperti mimpi.

Disaat seperti ini harusnya ada orang bilang "Well, that's escalated quickly."

Memandangi Tatiana selama dua jam penuh benar-benar tidak membuatku jenuh. Kedua mata berwarna emasnya, rambut pirangnya, pipi mungilnya, dan bibir lembutnya benar-benar mengingatkanku dengan es krim gelato dengan saus karamel. Berkilauan, dan terasa lembut saat dijilat. Tentu saja, Tatiana berada jauh diatasnya.

Karena manusia tidak bisa dibandingkan dengan makanan.

Setelah beberapa menit menunggu Tatiana menghabiskan parfeit miliknya, kami langsung angkat kaki dari kafe itu dan segera pulang. Karena di rumah, ada seseorang yang sedang menunggu kami. Lebih tepatnya, menunggu Tatiana.

Tuan Scheelinde

Seorang ayah yang pengertian, namun terkesan seram karena wajah sangarnya yang mirip preman. Jauh didalam hatinya, beliau hanya ingin putri kesayangannya aman dari marabahaya. Dan selama Tatiana berada didekatku, bahaya adalah makanan sehari-hari kami.

Tadi sempat kubilang kan, bahwa hubungan kami belakangan ini menjadi semakin dekat semenjak keluarnya diriku dari rumah sakit. Maksudku lengket, ya benar-benar lengket. Orang bahkan tidak bisa membedakan apakah kami kakak beradik atau sepasang kekasih.

Dan aku sangat-sangat-sangat tidak keberatan dengan yang kedua.

Jangan anggap aku berlebihan, semua lelaki pasti punya pendapat yang sama jika mereka berada di posisiku. Maksudku, siapa yang tidak jatuh kepada keimutan yang bisa melelehkan hatimu?

Keimutan tidak pernah berbohong.

Setidaknya aku tahu slogan "Cuteness is justice" bukanlah omong kosong.

Disaat kami sedang berjalan berdua layaknya sepasang kekasih, seseorang yang benar-benar familiar denganku barusaja lewat. Dan momen itu hanya sekilas, saking cepatnya sampai aku tidak sempat menyapanya.

Rambut violet gelap, dengan seragam kemeja berpita, rompi berwarna krem, dan juga blazer yang serupa denganku menandakan bahwa ia juga siswa SMU. Dan lagi, SMU yang sama dengan yang kuattendasikan sekarang.

"Axia?"

Dia tidak punya alasan untuk pulang selarut ini. Seharusnya dia sudah di rumah sejam yang lalu. Aku yakin orang seperti dia tidak punya tendensi untuk mencari teman, karena dia tidak begitu membutuhkan hal yang seperti itu.

Dia masuk sekolah hanya agar bisa tetap dekat denganku.

Meski kami tidak tahu apakah distorsi dimensi mendadak bisa membunuh manusia atau tidak, tetapi yang jelas automata yang dikirim dari dunia parallel bisa saja meratakan sekolahku hanya dengan menjentikkan jari sedangkan aku sedang belajar di dalamnya.

Meskipun latar waktu yang sama, dunia parallel memiliki teknologi yang seratus tahun terlalu cepat jika di duniaku. Mungkin lebih.

Rongsokan itu berhasil merusak kehidupanku di rumah, tetapi ternyata semua itu tidaklah berakhir sampai disana. Dia juga menghancurkan kehidupanku di sekolah. Aku tahu katafrakt memang dirancang untuk menghancurkan, tetapi untuk menghancurkan hidupku seperti itu sepertinya hal itu sudah benar-benar kelewatan.

Kelewat menjengkelkan.

Jika dia memang Axia, aku seharusnya bisa mengharapkan sebuah tanggapan yang dilebih-lebihkan darinya. Karena memeluk dan mencekik bagiku darinya sudah seperti tidak ada bedanya. Kau akan tahu jika kau punya sebuah automata yang seharusnya dirancang menjadi seorang maid, tetapi malah dipaksa untuk bertempur di garis depan sembari melindungimu.

Apalagi dengan telinganya yang sudah setara seratus kali pendengaran gajah.

Buktinya di belahan dunia manapun aku berada, dia selalu datang saat dipanggil.

Terutama dikala aku tidak sengaja menyebut namanya saat berada di kamar mandi.

"Umm, Kak? Bisa Kakak tidak terlalu menempel kepadaku?"

Tatiana memandangku dengan heran, seolah-olah aku mengatakan sesuatu yang tidak biasa kukatakan.

"Ada apa Lyan? Apa ada bagian tubuhmu yang masih sakit?"

"Umm, bukan begitu. Hanya saja.."

Hanya saja beberapa bagian tubuhmu menyentuhku, dan membuatku hampir tidak bisa bernafas dengan tenang.

"Tidakkah Kakak mengerti? Orang lain bisa salah paham nanti.."

Gadis itu tersenyum.

"Aku tidak keberatan. Lagipula, kita kan saudara.."

Akupun juga tidak keberatan, hanya saja jika sampai tersebar rumor aneh bahwa sang pecundang, Lyan Excel mengencani gadis paling terkenal disekolah, namaku akan terkenal di kalangan penggosip dengan cara yang salah.

Apalagi jika Tuan Scheelinde sampai mendengarnya. Saat itu terjadi, tamatlah riwayatku.

Seseorang yang bisa jadi pacarnya Tatiana adalah manusia paling beruntung di dunia. Karena dia bisa merasakan surga dan neraka secara bersamaan.

Tubuhku sendiri memang tidak begitu alpha. Jadi wajar saja jika aku babak belur ketika melawan sekumpulan yakuza bersenjata yang kebetulan lewat. Melawan yakuza saja tidak bisa, apalagi harus berhadapan dengan Tuan Scheelinde yang notabene cengkramannya setara pengait konstruksi.

"Eh, kudengar sekolah kita kedatangan siswa baru ya?"

"Baru pertama kali dengar. Siapa yang bilang?"

Tatiana merogoh saku blazernya, dan mengambil smartphone dari sana.

"Elea tadi bilang, katanya anggota osis ketambahan anggota baru. Dan anggota baru itu ternyata siswa angkatan tahun pertama. Kalau tidak salah, myoji nya Renfield."

Untuk informasi, Myoji adalah nama belakang.

"Axia Renfield?"

Gadis itu memiringkan kepalanya, melihatku yang sontak merespon sebuah nama seolah-olah aku mengenalnya.

"Bukan, namanya Irina Renfield. Dan darimana kau tahu nama itu?"

Ah, sial. Aku menggali kuburanku sendiri.

"Ha-hanya kebetulan saja terlintas dipikiranku.."

Tatiana manggut-manggut seolah-olah mengerti apa yang kupikirkan.

"Oooh, jadi itu nama gadis yang selama ini ada di pikiranmu..."

"Bu-bukann! Nama itu keluar begitu saja dari mulutku.."

"Nama tidak bisa begitu saja keluar dari mulut seseorang, kecuali nama itu sangat membekas baginya.."

Ya, nama itu memang sangat membekas dihatiku. Dalam arti yang lain.

"Tenang saja, jika takut tidak dapat posisi di dalam hatiku kau tidak perlu khawatir."

"Aku berharap kau berhenti menjadi sok percaya diri seperti itu, imejnya jadi aneh.."

Jadi selama ini kau menganggapku seperti itu?

Aku yakin tidak ada orang di dunia ini yang benar-benar percaya dengan yang namanya takdir. Mereka hanya mengatakan 'memang sudah takdirnya' agar bisa menghibur diri mereka sendiri dari kenyataan yang sebenarnya memang pantas mereka dapatkan. Mereka mendapat kenyataan pahit yang sebenarnya adalah buah dari apa yang mereka tanam.

Dan alasan kenapa aku membahas ini, karena authornya mulai kehabisan kata-kata untuk dituliskan.

Dunia ini sempit, dan kuakui itu. Tetapi seberapa sempitnya dunia ini tidak mungkin aku bisa menemui dua orang yang sama dalam satu hari di dua tempat yang berbeda. Jika mereka itu kembar identik, penjelasannya akan menjadi masuk akal.

Aku tidak begitu yakin siapa gadis yang bernama 'Irina' itu, dan mengapa ia bisa mirip sekali dengan Axia. Dan rasa tidak yakinku itu mulai membuatku memikirkan ratusan kemungkinan yang bisa terjadi.

Apakah ada satu lagi automata yang dikirim dari dunia parallel?

Aku yakin pihak sana tidak hanya mengirim satu automata saja untuk mengusik hidupku. Jujur saja, adanya Axia di hidupku sudah membuatku kewalahan. Jadi aku tidak mengharapkan ada tambahan beban lagi di dalam hidupku.

Aku juga tidak begitu paham jika ada konflik yang terjadi di dunia parallel antara fraksi A dan fraksi B. Tetapi yang jelas, tujuan fraksi A adalah melindungiku dan tujuan fraksi B adalah membunuhku.

Atau lebih tepatnya tujuan fraksi A adalah menggagalkan penggabungan dunia sedangkan tujuan fraksi B untuk mempercepat penggabungan dunia atau memastikan penggabungan dunia itu terjadi.

Dan aku yakin seseorang yang disebut-sebut bernama professor Excel adalah yang memimpin fraksi A.

Di stasiun kedua, hujan mulai turun. Aku berharap kami bisa sampai di rumah dengan kering, tetapi hal itu sepertinya hampir tidak bisa diwujudkan dengan mudah. Dari kecil aku sudah memutuskan untuk tidak berharap akan sesuatu. Karena sesuatu yang diharapkan selalu punya tendensi untuk menjauhimu.

"Sepertinya langit tidak memihak kita, ya.."

Tatiana menggosokkan kedua tangannya.

"Sial, dingin sekali..."

Entah gadis itu sadar atau tidak, tetapi dia sudah menempel-nempelkan tubuh mungilnya kearahku semenjak hujan turun. Yah, aku pribadi tidak keberatan sih.

"Mau kupeluk?"

"Tidak terima kasih..."

Jawabannya singkat, padat, dan jelas.

Dia menggosokkan tangannya secara berulang agar tidak kedinginan. Entah kenapa tetapi wajahnya menjadi merah, mungkin karena suhu disini yang lumayan rendah.

"Setelah kupikir-pikir, peluk aku.."

Gadis itu mengangkat tangan kiriku, dan melingkarkannya di tubuhnya. Setelah itu dia menyandarkan tubuh mungilnya kearahku dan meringkup layaknya sebuah bola.

Arghhh... Ingin kubawa pulang, Ingin kubawa pulang, Ingin kubawa pulang, Ingin kubawa pulang, Ingin kubawa pulang, Ingin kubawa pulang, tapi kami satu rumah!

Aku bisa mencium aroma shampo yang ia gunakan pagi ini, dan juga parfum yang sangat tidak bisa kutolak. Kenapa Tatiana bisa jadi sewangi ini?

Aku harap sebuah meteor atau apapun jatuh di depan jalur kereta sehingga kami tidak bisa pulang. Dengan begitu momen ini bisa berlangsung lebih lama.

"Huh, sekarang jam berapa kak Tat?"

Gadis itu menoleh keatas dengan imutnya.

"Sekarang pukul lima lebih tiga puluh, ada apa?'

Kenyataannya memang sekarang sudah gelap, tetapi hal itu tidak membuat segalanya masuk akal. Karena sekarang bukan musim dingin, jadi suhu absurd ini benar-benar tidak bisa ditalar logika.

"Sepertinya aku harus..."

Handphoneku berdering.

"Halo—"

"Lyan, menyingkir dari sana!"

Suara dari balik telepon, suara yang kukenal.

"Axia? Apa yang terjadi?"

"Tidak ada waktu untuk menjelaskan, menyingkir dari sana! Kereta yang kau tumpangi telah di hijack oleh sebuah automata..."

Aku tidak yakin dengan apa yang ia katakan. Tetapi jika yang ia katakan benar, semuanya menjadi masuk akal.

Suhu absurd ini, dan juga pembajakan kereta oleh automata. Jika kedua hal yang tidak masuk akal menyatu, semuanya akan menjadi masuk akal. Dan sekarang aku sedang bersama Tatiana, sehingga dia otomatis akan terlibat dengan hal berbahaya yang akan kulakukan setelah ini.

Aku benar-benar tidak mau dia terlibat dengan kegiatan berbahaya yang kulakukan. Bukan karena takut akan murka tuan Scheelinde, kalau itu sebenarnya aku sudah terbiasa. Tetapi kenyataan bahwa kakakku hanyalah seorang gadis biasa yang tidak mungkin dilibatkan dalam perang antar-dimensi benar-benar membuatku punya alasan untuk tidak melibatkannya.

Tatiana hanyalah gadis kecil dalam dirinya, dia memang sudah berumur tujuh belas tahun tetapi dia tetap butuh seseorang untuk disandari. Dia tetap butuh seseorang untuk menopang tubuhnya saat dia terjatuh, mengelus kepalanya saat dia berhasil, dan menghibur hatinya saat dia sedang sedih.

Di dalam hatinya, dia hanya ingin diperhatikan oleh seseorang.

Seseorang yang berharga baginya. Dan aku tidak yakin apa aku bisa mengisi lubang di dalam hatinya itu.

"Kak Tat. Setelah ini aku ingin kau turun di stasiun ke-tiga, dan naiklah bus untuk pulang."

Aku tidak sanggup melibatkannya lebih dari ini.

"Eehh, ada apa denganmu Lyan?"

"Sudah, turuti saja permintanku!"

Gadis itu terkejut ketika aku tiba-tiba meninggikan suaraku.

"Ba-baiklah.."

Kami duduk dengan tenang sampai stasiun ke-tiga. Dan begitu perhentian selanjutnya diumumkan, aku dan Tatiana bersiap di depan pintu gerbong.

Sebuah katafrakt selalu bisa menciptakan hal-hal yang tidak masuk akal, sehingga aku sudah harus terbiasa dengan kejadian yang seperti ini. Namun bagaimanapun, hal ini tetaplah tidak masuk akal dimataku.

"Maafkan aku kak Tat, aku berjanji akan menjelaskan semuanya setelah ini selesai..."

Aku memeluk tubuh mungil gadis itu, dan mengelus kepalanya dengan lembut.

"Pulanglah dengan selamat..."

Gadis itu terdorong orang-orang yang berusaha keluar dari gerbong, sedangkan aku mengambil arah yang berlawanan untuk kembali duduk di kursi yang ada. Setidaknya dengan ini dia tidak akan bisa kembali untuk mengejarku.

Begitu kereta berjalan kembali

"Sekarang..."

/

"Axia? Dimana kau sekarang?"

"Aku sedang dalam perjalan—"

Sambungannya terputus.

Sial, seseorang telah berhasil memisahkanku dengan Axia. Siapapun dia, pasti orang ini sudah tahu bahwa kemampuan Axia bertarung tanpa Insteader sangat kecil. Dan siapapun orang ini, dia pasti sudah paham bahwa aku tidak bisa bertarung sama sekali.

Aku tidak bisa bertindak gegabah, di kereta ini masih ada cukup banyak penumpang yang belum turun. Aku tidak bisa mempertaruhkan nyawa mereka begitu saja, karena mereka juga punya keluarga yang menunggu mereka di rumah.

Automata ini hanya mengejarku, jadi setidaknya jika aku menjauhkan diri dari kereta para penumpang ini akan selamat.

Setidaknya itu yang kupikirkan.

Tiba-tiba di tengah jalan keretanya menarik rem secara dadakan.

Dimobil.

Limaratusan.

Tahuuu, bulat.

"Eh, ini masih belum sampai stasiun ke-empat.."

Firasatku tidak enak.

"Ah sial, semua menjauh dari pintu!"

Sebuah ledakan kecil menghantam pintu gerbong, membuatnya terbuka secara paksa.

"Geh, sial kau yodokroid..."

Disana terlihat sekawanan yodokroid yang sudah siap tempur dan mengacungkan senapan kaliber mereka kearahku.

Jika yang dikatakan Axia benar, seharusnya benda ini bekerja.

Aku menarik payung lipat dari tasku, dan mengacungkannya kearah yodokroid di depanku.

"Code casting, Stun Rod diaktifkan!"

Aaaaah, aku malu sekali mengatakannya dengan keras di depan umum!

Aku harus tahu siapa yang menciptakan aktivasi suara. Dan jika aku bisa bertemu dengannya, aku akan membuatnya membayar semuanya karena sudah mempermalukanku didepan umum!

Seketika, payung lipat itu terbelah menjadi empat dengan bagian tengah berwujud seperti tongkat baton berwarna biru dan aliran listrik yang mengelilingi selongsongnya.

"Kukira benda ini adalah sebuah senapan..."

Aku menghantamkan benda itu kearah yodokroid di depanku, dan membuat rongsokan itu berhenti bergerak. Setelah itu, kutendang rongsokan itu sekuat-kuatnya untuk memastikannya sudah benar-benar kalah.

"Satu jatuh, sisanya menyusul..."

Beruntungnya aku, hanya ada satu yodokroid yang posisinya benar-benar dekat dengan kereta ini sekarang. Sehingga aku bisa menyempatkan diri untuk mengevakuasi seluruh penumpang dengan kedok terorisme.

Begitu semua penumpang keluar dari gerbong, kulihat beberapa biji yodokroid berlarian kearahku. Dan dilihat dari jumlahnya, aku akan kalah telak jika langsung menodong mereka. Aku tidak begitu kuat, sehingga fisikku hanya sebatas melawan dua atau tiga yodokroid. Jika mereka ada sepuluh keatas, urusannya sudah beda jauh.

Apalagi harus sambil melindungi para penumpang yang masih bingung dengan keadaan ini.

Aku hanya bisa mengulur waktu sampai Axia datang. Dan sampai saat itu tiba, aku hanya bisa mengandalkan stun rod yang diberikan gadis itu sebagai sarana pertahanan diri. Jika sampai automata kelas Media seperti Ardanova muncul, tamatah riwayatku.

Berlarian mengelilingi stasiun yang punya banyak obstacle adalah satu ide yang terpikirkan olehku.

Aku berlari mengelilingi pilar yang ada disana satu demi satu, menghindari semua tembakan yang diarahkan para yodokroid kearahku. Suatu keajaiban tidak ada satupun peluru yang mengenaiku.

"Jika tidak salah, benda ini punya fitur perisai."

Benda itu punya wujud awal sebuah payung bukan karena tanpa alasan. Pada dasarnya, benda ini memanglah payung. Hanya saja entah kenapa wujudnya ditolerir menjadi sebuah baton. Jika memang benda ini adalah payung, seharusnya fungsinya setelah diaktifkan menjadi code casting bisa berlaku menjadi perisai.

Aku mendorong sebuah tuas yang biasanya ada di payung-payung pada umumnya, dan mengarahkannya kearah para yodokroid itu. Dan begitu ditekan, aliran listrik yang ada pada baton itu berpencar dan membentuk sebuah payung.

"Benar dugaanku."

Seluruh tembakan yang dilancarkan para yodokroid itu terhenti di depan payung yang kugenggam. Jika listrik diaplikasikan dengan cara yang berbeda, hal itupun juga bisa berfungsi sebagai perisai magnet. Seperti medan magnet milik Axia.

"Lain kali aku akan minta buku petunjuknya sebelum Axia memberikan mainan aneh-aneh kepadaku."

Orang bijak pernah bilang, menunggu dan bertahan sebelum menyerang adalah strategi yang terbaik dalam pertempuran.

Tetapi posisiku sedang tidak dalam kondisi yang bisa dikategorikan mumpuni untuk melakukan hal itu. Menunggu dan bertahan saja tidak bisa mengalahkan para yodokroid itu, dan bisa saja bala bantuan pihak lawan bisa saja datang setiap waktu.

Aku benar-benar bodoh jika berpikir ke-sebelas yodokroid yang tersisa hanyalah satu-satunya yang mereka miliki.

Sebuah benda sebesar enam meter berbentuk seperti hewan berkaki empat baru saja muncul di permukaan, dan sekarang tengah berlari kearahku. Ditinjau dari ukurannya, benda ini pasti tergolong dalam automata kelas Media. Dan stun rod saja tidak akan cukup untuk menghadapi benda seperti itu.

Dan anehnya lagi, benda itu bisa meringkuk menjadi sebuah bola besar sehingga dia dapat menempuh jarak yang jauh dengan cepat hanya dengan menggelinding.

Melihatnya aku hanya bisa teringat tentang film anime dimana naga bisa keluar dari sebuah bola kecil yang dilemparkan diatas kartu magnet.

"Sial!"

Aku yakin seseorang pernah bilang kepadaku bahwa orang barat selalu bertindak dulu, baru berpikir. Dan aku juga heran kenapa mereka bisa bertahan setelah mindset salah kaprah yang mereka terapkan itu.

Karena terakhir kali aku melakukan itu, kepalaku hampir pecah dihantam peluru kaliber yang bisa menembus tembok beton.

"Mengerikan! Yodokroid itu mengerikan!"

Hal yang kuucapkan memang omong kosong. Karena automata kelas Media yang sekarang berada didepanku ternyata puluhan kali lebih mengerikan dari yang kukira.

Eh, tidak mungkin ratusan.

Berapa lapis?

Maaf, tapi ini bukan iklan wafer.

Aku benar-benar bersyukur aku tidak pernah bolos PE. Karena teori dari guru PE tentang tata cara rolling depan yang kukira tidak akan berguna di masa depan sekarang sudah sukses menyelamatkan nyawaku dari cakaran benda buas ini.

Aku tidak akan bilang binatang karena dari awal benda ini memang bukan binatang.

Benda buas ini menatapku dengan- aku yakin robot tidak punya ekspresi tetapi sisi lain diriku yakin seratus persen bahwa benda ini sedang menatapku dengan marah.

Dan fakta bahwa dia bertingkan seperti seekor singa yang diganggu wilayahnya benar-benar membuatku merasa bahwa akhir hidupku sudah dekat.

Jika lawanku adalah singa sungguhan masih bisa kuatasi. Masalahnya lawanku adalah benda yang menyerupai singa dengan ukuran enam meter dan dilengkapi kemampuan untuk menggelinding jika diperlukan. Manusia manapun tidak bisa mengalahkannya hanya dengan modal stun rod. Kalaupun bisa cidera yang akan diterimanya bukan pada tingkat dimana unit kesehatan bisa menanganinya.

Benda buas itu berlari kearahku dengan segenap keempat kaki dan cakar tajamnya. Dan tujuannya sudah sangat jelas.

Untuk membunuhku.

Aku berhasil mengelak semua serangan yang ia lancarkan kepadaku. Baik itu berupa cakarannya, gigitannya, maupun gilasannya saat menjadi sebuah bola besar. Namun itu tetap tidak mengubah fakta bahwa manusia punya batas.

Manusia itu punya batas. Dan batasnya itu sangat besar.

Meskipun dapat menghindari semua serangan benda buas itu, tidak bisa dipastikan aku tetap bisa menghindari serangannya untuk kedepannya. Karena aku sudah mulai kehabisan nafas, dan pandanganku mulai kabur karena gelapnya tempat ini.

Ditambah para yodokroid itu tidak pernah membiarkanku bisa bernafas tenang, sehingga code casting yang kupegang sekarang hampir kehabisan baterai.

"Apa aku terlambat pesta?"

Sebuah suara dari kejauhan terdengar membuatku tenang entah bagaimana. Dan setelah aku memastikan bahwa suara itu benar-benar berasal dari sebuah fatamorgana yang sudah kutunggu bermenit-menit yang lalu, aku menghela nafas panjang.

"Kau terlambat dasar bodoh!"

"Ma-maaf..."

Gadis itu melompat dari atap dan menendang benda buas itu dengan sekuat tenaga, sampai benda itu terpental jauh dan menabrak yodokroid yang sejak tadi standby dari kejauhan.

"Maid automata, Axia... At your service.."

Pada hari itu, aku yakin aku telah melihat seorang malaikat yang membentangkan sayapnya untuk melindungiku. Tetapi saat dia menoleh kebelakang dan menatapku dengan senyum nakalnya, semua pikiran positifku berubah menjadi seratus delapan puluh derajat dari asalnya.

"Maaf, tadi ada Ardanova mengganggu perjalananku."

"Lalu kau apakan dia?"

Suara dentuman besar terdengar dari ujung stasiun. Dan disana, terlihat sebuah automata kelas Media yang jelas-jelas benda itu adalah sebuah katafrakt. Hanya sekali melihatnya, tetapi aku yakin benda apa itu.

"Aku membawanya kesini.."

Sungguh, seberapa bodohnya dia ini.

Kau menumpuk semua lawan yang kau sendiri tidak yakin apakah kau bisa mengalahkannya atau tidak. Perlu kukatakan, kau benar-benar bodoh. Saking bodohnya sampai kata bodoh itu sendiri tidak cukup untuk menjabarkan kebodohanmu.

"Jika kau berniat untuk tampil sok keren, percayalah hal itu hanya akan membuatmu terlihat bodoh dihadapanku."

Dan kenyataan bahwa apa yang ia lakukan baru saja mengancam nyawaku benar-benar membuat darah di kepalaku mendidih.

"Aku tidak mau tahu, yang jelas habisi mereka semua sekarang juga!"

"Kau tidak perlu menyuruhku..."

Gadis itu mengatakannya dengan penekanan sembari menendang keras benda buas itu sehingga jarak yang lumayan jauh terbentuk diantara kami. Untuk sesi ini, aku akan menyebutnya Ravana.

Ravana meraung keras, dan sebagai gantinya Ardanova melesat cepat kearah kami dengan roda yang berada di kedua kakinya. Sepertinya mereka berdua telah menciptakan hubungan mendadak antar automata.

"Axia, gunakan medan magnet untuk menahan pergerakan Ardanova!"

"Terdengar. Code casting, Magnetic Field diaktifkan!"

Axia melintangkan tangan kanannya sejajar cakrawala dan membuat Ardanova yang tadinya melesat cepat kearah kami jadi terpental jauh kebelakang. Tangannya yang hendak memukul tadi mendapat sebuah feedback yang keras dari perisai magnet Axia membuat sebelah bahunya menjadi remuk.

"Code casting, Acapela Wand diaktifkan!"

Axia melesat cepat kearah Ardanova yang terjatuh sembari menembakkan peluru angin yang keluar dari Acapela. Dengan gerakan gesitnya yang berasal dari fisik gadis itu, dia melompat kesana kemari hanya bermodalkan pillar yang berada disana.

Gadis itu berhasil membuat perhatian dua automata ini teralihkan dengan memprovokasi mereka menggunakan senjata yang seharusnya tidak berbahaya bagi mereka.

"Shortcut, materialisasi senapan anti-material Intervention!"

Dari sebelah kanan Axia, partikel berkumpulan disana dan membentuk sebuah senapan laras panjang tepat di genggaman gadis itu. Dan begitu senapan sudah ditangannya, ia mengarahkan benda itu lurus kearah Ardanova yang sedang terjatuh dibawahnya.

Namun saat pelatuk akan ditarik, Ravana berhasil menghantam Axia dan membuatnya terpental jauh keluar stasiun.

"Axia!"

Aku yakin dia lupa mengaktifkan pemindaian frekuensi saat datang kemari.

Disaat seperti ini aku hanya bisa lari dari kedua automata itu dan mencari jalan memutar untuk mendekati Axia. Karena jika aku tidak berada didekatnya, dia hampir tidak bisa apa-apa. Begitu juga denganku.

Tentu saja, kedua automata itu tidak akan membiarkanku lari. Ravana meringkup menjadi sebuah bola dan mengejarku dengan kecepatan tinggi, sedangkan Ardanova melesat dengan kedua roda di kakinya. Aku yang notabene hanya manusia biasa dalam sekejap bisa terkejar.

"Perintah ketiga, partial gear expand!"

Sebuah tangan robot raksasa berwarna biru menghantam kedua automata ini dengan keras. Disana aku melihat Axia dengan tangan yang tadi kusebutkan. Terlihat seperti Unit-001, hanya saja yang ada disini cuma tangannya saja. Bukan seluruh bagian.

"Tidak akan kubiarkan kalian menyentuh Lyan-ku!"

Sejak kapan aku menjadi milikmu? Dan bukannya kaulah yang seharusnya menjadi milikku?

"Pemindaian frekuensi, radius dua kilometer!"

Axia mengangkat tangan kanan partial miliknya, dan membuka code castingnya.

"Code casting, Photon Blade diaktifkan!"

Gadis itu melesat cepat kearah Ardanova yang sudah jatuh karena pukulannya, dan menusukkan Photon Blade miliknya tepat di dada benda itu. Dan berikutnya, benda itu mati total.

Ravana berlari kearah gadis itu, tetapi usahanya sia-sia karena momentum yang dimilikinya dipantulkan oleh satu lapis pertahanan magnet milik Axia. Dan dengan terpentalnya Ravana, ada banyak celah yang dimiliki benda itu.

Hendak menikam Ravana dengan senjatanya, tiba-tiba sebuah tendangan keras mengarahkan taringnya kearah gadis itu dengan kerasnya. Saking kerasnya aku bisa melihat seberapa terpentalnya tubuh gadis itu. Dan retakan di tembok yang menahan tubuhnya menjadi bukti nyata bahwa dia benar-benar terpental dengan sangat keras.

Disaat seperti ini seharusnya aku menegur orang itu karena telah menendang seorang gadis dengan keras. Namun kenyataan bahwa orang itu berhasil membuat Axia tersungkur seperti itu adalah fakta yang tak terbantahkan. Dengan kata lain, dia sangat kuat.

Dan dari awal, Axia tidak bisa dikategorikan sebagai seorang gadis. Dia kebetulan saja terlihat seperti itu, namun bagian dalamnya tetaplah mesin.

Aku yakin bahwa sepertinya Axia telah mengaktifkan pemindaian frekuensi dengan jarak dua kilo sehingga tidak ada yang bisa lolos dari pengawasannya. Tetapi didepanku terlihat seorang pria dengan setelan barista dan berkacamata tengah merenggangkan persendian bahunya dengan santainya.

Orang itu memukul Ravana dengan keras dan mengeluarkan chip utama dari kepalanya layaknya seorang penjual ikan yang sedang membersihkan organ dalam ikan.

Dilihat darimanapun, sudah jelas orang ini bukanlah manusia biasa.

"Kau menjadi semakin lemah, Axia..."

Tatapan tajam dari orang itu tidak terelakan, dan dia sedang menatap Axia yang sekarang dalam posisi tersungkur. Mata orang itu seolah-olah sedang menatap teman lama, dan bukannya baru bertemu.

Penjelasan yang logis adalah dia juga berasal dari dunia parallel.

Aku yakin manusia biasa pasti sudah remuk jika di posisi Axia.

Namun gadis itu belum tumbang. Teknologi yang digunakan untuk membuat mainframe Axia adalah teknologi paling maju di dunianya, namun karena tujuan manufakturnya yang diperuntukkan sebagai automata pembantu membuatnya memiliki batas besar antara utilitas umum dan senjata bertarung.

"Dan tendanganmu masih saja kuat seperti dulu, Einherjar..."

Aku tidak bisa memahami hubungan apa yang mereka miliki di dunia asalnya, namun sepertinya mereka tidak ada niatan untuk bicara baik-baik meski dunia mendadak akan kiamat.

Orang yang disebut-sebut bernama Einherjar itu berlari kearah Axia dan meluncurkan pukulannya. Namun semua pukulan yang diluncurkannya bisa ditebak oleh Axia, dan dengan mudahnya gadis itu mengelak dan menepis semua pukulan Einherjar. Mereka seolah-olah sudah tahu pola pikir satu sama lain, sehingga pertarungan mereka terkesan seperti reuni antara kawan lama.

Namun fakta bahwa mereka berdua berusaha saling membunuh tidak terelakan.

"Code casting, Acapela Wand diaktifkan!"

Axia meluncurkan rentetan tembakan peluru angin kearah Einherjar, tetapi pria itu tetap berhasil menghindari semua tembakan yang diluncurkan terlepas dari tidak terlihatnya peluru yang digunakan Axia karena pelurunya terbuat dari angin.

Dan sebagai serangan balasan

"Code casting, Legimate Zero diaktifkan!"

Sama seperti saat Axia mengeluarkan Acapela, tangan pria ini terbelah empat dengan bagian tengahnya berbentuk seperti tangan hanya saja dengan ukuran yang lebih kecil dan tambahan tesla coil mengelilingi sekitarnya.

Dan sebagai hasilnya, seluruh tembakan Axia dihentikan tepat didepan pria itu. Seolah-olah ada perisai mutlak yang sedang melindungi Einherjar saat itu.

"Legimate Zero bentuk awal, Gravity Force!"

Einherjar mengarahkan tangan kanannya kearah Axia, dan membuat gadis itu terhempas kearah tembok dengan kekuatan yang tidak main-main.

Tekanan gravitasi di sekitar Axia menjadi semakin kuat, membuat gadis itu hampir tidak bisa bergerak sama sekali.

"Axia, identifikasi lawan!"

Axia menjawabnya sembari merintih kesakitan, meski aku tidak yakin apakah automata juga bisa merasakan rasa sakit.

"Identifikasi lawan, Unit-000. Nomer seri 000451125225 dengan codename 'Einherjar'. Sebuah prototipe katafrakt yang disempurnakan. Kelas, Type-0. Spesialis pertempuran udara."

Dari penjelasan yang didapatnya, aku berusaha memutar kepalaku untuk keluar dari masalah ini. Tetapi sepertinya aku tidak mendapat ide sama sekali. Kekuatan orang ini jauh diatas Axia, yang berarti tanpa strategi yang bagus usaha kami hanyalah seperti nyamuk yang terbang mengganggu.

Ditambah code casting miliknya, Legimate Zero yang dapat digunakan untuk memanipulasi gravitasi dan membalikkan momentum sepertinya puluhan kali lebih kuat dibanding medan magnet milik Axia.

"Axia, status!"

"Tidak bisa mempertahankan keamanan Insteader. Kegagalan sistem pada seluruh persenjataan dan pertahanan fisik. Pilihan terakhir, protokol keselamatan Insteader."

Protokol keselamatan Insteader adalah senjata terakhir para katafrakt untuk melarikan diri. Biasanya di situasi tertentu, katafrakt yang tidak bisa mempertahankan nyawa Insteadernya akan diberi akses untuk kekuatan lanjutan. Namun kekuatan lanjutan ini bukan untuk melawan, melainkan untuk melarikan diri.

Sebuah perisai mutlak akan melindungi sang Insteader, dan reaktor mereka akan membukakan jalur melalui distorsi waktu untuk kemudian melemparkan Insteader mereka kedalam koordinat lain secara acak.

Namun setelah itu, reaktor mereka akan mati total. Dengan kata lain, ini adalah senjata terakhir untuk melarikan diri.

Kontrak yang terjalin diantara Insteader dan Unitnya adalah kontrak mutlak yang tidak bisa dibantah, dan benar-benar terintegrasi dengan sistem. Kontrak ini setara dengan pernikahan, sehingga hal ini menjadi titik dasar mengapa unit harus dipasangkan dengan tidak sembarang insteader.

Mobil yang memilih pengemudinya.

Jadi dengan arti lain, aku dan Axia secara resmi adalah suami istri meskipun seharusnya tidak diartikan seperti itu.

Hukum yang paling utama bagi sebuah katafrakt adalah melindungi nyawa Insteadernya. Bagi para katafrakt, nyawa Insteader adalah tujuan hidup mereka. Sebuah hukum diatas hukum, dan tidak bisa dibantah bagaimanapun caranya.

Sebuah katafrakt juga diikat dengan perintah Insteadernya. Bagi mereka, perintah Insteader adalah mutlak selama tidak melawan hukum pertama.

Dan yang terakhir adalah kehendak AI katafrakt itu sendiri. Namun hal ini akan menjadi prioritas terakhir, dan hanya bisa dieksekusi selama tidak melawan kedua hukum diatas.

Namun diatas itu semua, satu-satunya protokol yang tidak bisa dilawan adalah

Overlord.

Axia menatapku dengan tatapan yang tidak bisa dijabarkan dengan kata-kata. Dia mengekspresikannya seolah-olah berkata bahwa aku harus meninggalkannya disini dan lari sendirian sedangkan dia berusaha menahan orang itu agar tidak mengejarku.

Mana bisa aku meninggalkannya begitu saja?!

Axia memang hanyalah sebuah automata. Namun waktu yang kami habiskan selama ini lebih dari itu. Dan lagi, aku tidak akan bisa hidup lama jika tidak ada dia di sampingku.

Dengan segenap kekuatanku, aku berlari kearah Einherjar dan menghantamnya dengan stun rodku.

"Lyan, apa yang kau lakukan?!"

"Apa kau tidak bisa lihat? Aku sedang bertindak jantan!"

Pukulan yang kulancarkan telah sukses membuat Einherjar membatalkan serangannya, dan terpaksa harus menutup code castingnya.

"Sekarang Axia! Perintah tiga, partial gear expand bagian tangan! Disusul dengan Code casting, Trigger Happy!"

"Perintah tiga, partial gear expand!"

Gadis itu melompat tinggi kearah Einherjar yang baru saja terkejut karena stun rod yang kuhantamkan kearahnya.

"Code casting, Trigger Happy diaktifkan!"

Dan dengan segenap ancang-ancang yang dimilikinya, sebuah pukulan keras melesat kearah Einherjar.

"Makan ini!"

Aku yakin sekuat apapun katafrakt yang namanya pukulan keras kearah wajah pasti memiliki dampak yang besar. Dan dampak yang besar meski tidak terlalu terlihat secara visual tetapi pasti hasilnya akan terlihat nyata menjelang akhir.

Tetapi Einherjar tidak bergeming sama sekali. Dia menahan pukulan Axia hanya dengan sebelah tangan.

"Load balancer. Type, Agressive.."

Einherjar memelintir tangan Axia, dan menendangnya dengan kekuatan penuh layaknya seorang ahli beladiri. Dan dampak yang diterima Axia benar-benar parahnya bukan main. Tiap kali dia memantul karena efek tendangannya, lantai yang mengalasi stasiun ini retak sedikit demi sedikit sampai pada titik dimana dia menghantam tembok hingga tembok tersebut jebol.

"Nak, kau harusnya tahu batas dirimu sendiri..."

Einherjar menatapku dengan tajam.

Setelah itu, dia perlahan berjalan menjauh.

"Ini hanya peringatan untukmu nak, diluar sana banyak katafrakt yang lebih kuat dariku. Jika kau tidak bisa mengalahkanku, jangan harap kau bisa menghentikan World's Merge."

Dan dengan santainya, kalimat terakhir sebelum dia pergi dari hadapan kami adalah.

"Jika kau masih ingin Axia berada disampingmu, jadilah lebih kuat..."

Aku tidak ingin menyangkalnya, tetapi jika banyak orang diluar sana sekuat Einherjar atau bahkan lebih, hanya menunggu waktu saja sampai aku mati terbunuh di tangan mereka.

Dan dengan kekuatan seperti itu, Einherjar masih berkata bahwa banyak orang lebih kuat darinya.

/

"Aku menuntut penjelasan."

Ujar seorang gadis imut yang sekarang sedang berkacak pinggang didepanku dengan tatapan tajamnya. Dan tatapan tajam itu bukan hanya menatapku, tetapi juga mempertanyakan integritasku sebagai siswa SMU yang baik-baik.

Axia hanya menghela nafas panjang.

"Jadi begini, kak Tat."

Dalam perjalanan pulang, aku bertemu sekawanan kodok ijo yang kebetulan punya moncong senapan 50' kaliber dan juga sebuah bola besar yang dapat berubah menjadi hewan buas. Disana, aku ditolong oleh seorang robot canggih dari dunia parallel yang ternyata juga sedang menggiring masalah. Namun naasnya, kami berdua dihajar oleh om-om perkasa berkacamata yang ternyata adalah sebuah robot canggih juga.

Mana mungkin aku bilang begitu!

Kalaupun aku bilang begitu, alasan yang kuucapkan terlalu klise dan terkesan mengada-ada. Bukan hanya terkesan, orangpun yang memang tidak mengalaminya sendiri tidak akan bisa dan mau percaya dengan kisah konyol seperti itu.

Dari awal, aku juga masih belum percaya adanya dunia parallel.

"Lalu kenapa kau bisa berakhir berduaan dengan perempuan tidak tahu malu seperti dia?"

Kesimpulan yang diambil Tatiana benar-benar cepat dan tepat. Melihat penampilan Axia yang berantakan sekarang dengan kondisi kami pulang tengah malam, dia langsung memutuskan bahwa gadis ini adalah perempuan yang tidak tahu malu.

Aku bahkan belum sempat menjawab pertanyaan yang pertama.

"Ck ck, aku paham kau itu mesum Lyan. Tetapi aku tidak menduga kau sampai berani mengambil tindakan nyata seperti ini..."

Wait, tindakan nyata apanya?

"Aku yakin alasanmu sering pulang malam adalah karena kau melakukan hal-hal yang tidak senonoh dengan gadis ini kan?!"

Aku yakin topik dari pembicaraan ini sudah mulai melenceng ke arah yang tidak bisa dihentikan. Namun meskipun begitu, aku benar-benar tidak bisa menerima tuduhan yang dilontarkan kepadaku.

Dari awal saja sesuatu yang sedang ikut duduk bersimpuh disebelahku ini bukanlah seorang gadis, melainkan kumparan dioda dan transistor yang kebetulan terlihat seperti seorang gadis yang cantik. Dan jangan lupakan komposisi tubuhnya yang benar-benar membuat orang normal pastinya ingin melakukan tindakan tidak senonoh terhadapnya.

Namun bagi yang mengetahui kenyataannya, pasti tidak akan berpikir demikian.

"Kau berjanji akan menjelaskan kepadaku semuanya kan?!"

Tatiana menarik kerahku dengan keras sehingga diantara kami hampir tidak ada jarak. Jika Axia punya pemikiran untuk mendorongku, maka tanpa dielak bibir kami pasti akan bersentuhan satu sama lain.

Dan dengan terpaksa, aku akhirnya menciptakan sebuah alasan yang dibuat-buat namun terkesan realistis.

"Ahahaha, oh yang benar saja. Sepupu jauhmu?"

"Jangan tertawa! Aku kehabisan ide, kau tahu!"

Axia hanya melipat tangannya begitu tahu bahwa aku mengatakan pada Tatiana tentang identitasnya yang dibuat-buat.

Kami berdua duduk melingkari meja bundar dari kayu mahogani yang terdapat di kamarku, dengan satu botol besar jus jeruk dan juga dua gelas kaca diletakkan diatasnya.

"Jadi, apa yang berusaha kau tanyakan kepadaku?"

Aku yakin akan terlihat aneh jika partnerku yang akan menjadi pelindungku untuk kedepannya adalah sebuah gadis yang aku bahkan tidak tahu apa-apa tentangnya. Jadi hari ini aku memutuskan untuk menghabiskan sisa malam untuk berbincang-bincang dengannya agar bisa mengenalnya lebih dalam. Baik tentangnya, maupun latar belakang dunianya.

"Kau mau tahu tentang tiga ukuranku? Baiklah akan kuberitahu-"

"Maaf, lupakan saja aku pernah tanya.."

Seperti yang kuduga, benda ini tidak pernah bisa diajak serius.

Axia hanya menghela nafas panjang.

"Sudah kuduga hari dimana kau bertanya seperti ini akan datang. Lagipula cepat atau lambat kau akan mengetahui kenyataannya."

Dengan ditemani jus jeruk, Axia mulai bercerita.

Empat tahun yang lalu, ada seorang lelaki muda yang punya dedikasi tinggi akan balas dendam. Kehilangan orang yang disayanginya pada masa lalu membutakan matanya akan kebenaran, dan dia memulai penelitian tentang automata pada usianya yang sangat muda.

Pada waktu itu, para peneliti sudah menyerah untuk mengembangkan automata karena tidak ada sumber tenaga yang cukup efektif untuk menciptakannya.

Di lain tempat, ada seorang gadis berusia delapan belas tahun yang berhasil mencanangkan teori tentang gelombang otak. Dia berhasil mengungkap bagaimana cara kerja otak manusia, dan membuat hipotesa tentang membuat gelombang otak manusia menjadi sebuah program yang bisa dijalankan.

Namun sebelum penelitiannya selesai, gadis itu mati terbunuh.

"Dan proyek itu dikenal dengan nama Project Amadeus."

Lelaki yang dibutakan akan balas dendam itu tergiur dengan hasil penelitian dari proyek Amadeus, sehingga dia menyelinap ke tempat dimana berkas proyek itu disimpan dan meneliti proyek itu lebih lanjut.

Disana, dia menemukan sebuah tujuan baru.

"Kau percaya bahwa menghidupkan orang mati itu mustahil?"

Axia menatapku dengan serius.

"Tentu saja, karena hukum alam tidak bisa terbantahkan..."

"Sayangnya lelaki itu tidak berpikir demikian."

Selama dua tahun terakhir, lelaki itu meneliti pada satu hal yang tidak pernah terpikirkan oleh orang lain. Sebuah teori yang bahkan orang pada masa itu tidak pernah berpikir untuk menciptakannya karena mereka pikir hal itu tidak mungkin.

Sumber daya kekal.

Dan penelitian lelaki itu jatuh pada sebuah mineral yang tidak begitu berharga, sebuah orihalcum.

Orang-orang di konferensi yang diadakan di akihabara malah mentertawakannya. Mereka tidak percaya bahwa batuan bodoh itu bisa menjadi sumber daya yang dapat mensupply sebuah kekuatan baru. Bahkan tidak ada satupun peneliti yang bersedia membantu, ataupun sponsor yang bersedia mendanai meskipun presentasi yang disampaikan lelaki itu cukup menjanjikan.

Tetapi lelaki itu tidak menyerah.

Dalam kurun waktu yang tersisa, dia berhasil menyelesaikan purwarupa dari reaktor yang selama ini dia kerjakan.

Hari itu, lahirlah reaktor alfa pertama.

Namun penemuan itu masih belum sempurna. Dia masih belum bisa memaksimalkan kinerja batuan yang waktu itu masih berupa orihalcum. Tetapi pada masanya dia menemukan tambang dengan batuan khusus yang menyerupai orihalcum, namun memiliki unsur berbeda yang terpancarkan didalamnya. Dan itu adalah

"Venite Paranium."

Gadis itu mengangguk.

"Tepat sekali..."

Setelah dia mendapatkan reaktor alfa yang disempurnakan, dia mulai melanjutkan penelitiannya terhadap automata. Dengan sumber energi tak terbatas di tangannya, dia merasa dia bisa mencapai sesuatu. Dia merasa dia bisa membalaskan dendamnya.

Dan tentu saja, dia merahasiakan fakta bahwa dia berhasil menciptakan reaktor alfa. Setidaknya sampai dia siap mengklaim benda itu.

Meskipun lelaki itu masih muda pada waktu itu, dia memiliki ambisi yang tinggi. Dia mengembangkan sebuah automata dari semua benda yang ia punya di laboratorium ayahnya dan mengembangkan satu purwarupa automata yang tidak bisa diciptakan umat manusia karena kurangnya suplai energi.

"Itu adalah Unit-000, sebuah purwarupa automata pertama yang diciptakan."

Lelaki itu menyebutnya dengan nama Zero, yang dapat diartikan sebagai permulaan.

Di hadapannya, sebuah automata yang memiliki kecerdasan buatan dari pikirannya sendiri setelah mengalami banyak penderitaan. Dia terpikirkan untuk mencapai sesuatu yang lebih besar. Sesuatu yang lebih bisa mengerti dirinya.

Dia kembali mengobrak-abrik dokumentasi yang ditulisnya tiga tahun lalu tentang proyek Amadeus, kemudian menandai hal-hal penting yang diperlukannya.

Dan semua yang ia pelajari menuntunnya pada satu tujuan. Dia ingin melihat sekali lagi senyuman seseorang yang berharga baginya. Dia ingin sekali lagi bisa memeluk orang itu, dan tertawa bersamanya. Tersenyum bersamanya, bersenang-senang bersamanya, menggandeng tangannya dan berlari di taman kembali seperti dulu.

Dan seseorang yang berharga baginya itu adalah

"Irina Renfield."

Gadis itu direngut secara paksa darinya dulu sekali saat lelaki itu masih tinggal di panti asuhan. Mereka merengut paksa gadis itu darinya tanpa mengatakan sepatah katapun, dan menutupi kasusnya dengan kedok bahwa gadis itu terserang kanker dan tidak dapat diselamatkan.

Namun lelaki itu tahu kebenarannya.

Pihak panti asuhan sebenarnya bekerja sama dengan farmasi, untuk menyediakan kelinci percobaan terhadap obat-obatan mereka. Dan Irina adalah salah satu kelinci percobaan mereka.

Suntikan demi suntikan dipaksakan terhadap gadis itu. Semua suntikan yang diberikan oleh para orang jahat itu membuat penampilan Irina berubah seratus delapan puluh derajat, jadi meskipun dikembalikanpun lelaki itu tidak akan mengenalinya.

Sampai akhirnya gadis itu bunuh diri.

Dan disaat lelaki itu mengira bahwa cintanya bertepuk sebelah tangan, kenyataannya Irina juga memiliki perasaan terhadap lelaki itu. Namun takdir berkata lain, sehingga perasaan mereka berdua digantungkan.

Dia menciptakan satu lagi sebuah automata dengan segenap kemampuan yang dimilikinya. Dia mengaplikasikan apa yang dipelajarinya dari proyek Amadeus pada satu automata yang akan menjadi balas dendamnya.

Project Re:Birth, begitulah dia menyebutnya.

Sebuah organisme hidup diatas logam alloy yang diperkuat. Sebuah senjata dimensional dengan sumber energi sepasang reaktor multidimensi. Sebuah mahakarya terhebat sepanjang masa.

Itulah Unit-001, Axia Renfield.

"Itulah aku..."

Jadi selama ini aku berpikir bahwa Irina dan Axia punya kemiripan, hal itu sederhana karena

"Aku dan Irina punya DNA yang sama."

Dan berkat teori dari proyek Amadeus, lelaki itu berhasil membuat ingatan Irina menjadi sebuah AI.

"Lelaki itu adalah kau, Lyan Excel. Kaulah pencipta reaktor alfa.."

"Dan mereka berdua hidup bahagia selamanya, kau tidak akan bilang begitu kan?"

"Sayangnya tidak. Kenyataan bahwa aku disini membuktikan bahwa hidup mereka berdua tidaklah damai sama sekali."

Seberapapun usaha seseorang untuk menyembunyikan sesuatu, suatu saat pasti akan terungkap. Dan lelaki itu paham betul.

Namun lelaki itu tidak menyadari bahwa bocornya informasi tentang penelitiannya lebih cepat dari yang ia duga. Pihak pemerintah menganggap barang ciptaan lelaki itu adalah ancaman, dan memaksanya untuk menyerahkan benda itu beserta cetak birunya sehingga dapat diakuisisi untuk kepentingan negara.

Mendengarnya, lelaki itu sama sekali tidak bisa terima. Bagaimana tidak, negara yang telah merenggut orang yang berharga baginya sekarang akan merengut orang yang berharga baginya, lagi.

Manusia punya akal sederhananya agar tidak terperosok lubang yang sama dua kali.

Dengan apa yang ia punya, lelaki itu membawa Unit-001 Axia dan Unit-000 Zero mengasingkan diri ke sebuah pulau kecil di Indonesia dan menetap disana. Dengan banyaknya pulau kecil di negara itu, akan sulit bagi pemerintah negara asalnya untuk mengejarnya. Dan pulau dengan iklim yang sesuai untuknya membuatnya tidak pernah kesulitan untuk bertahan hidup disana.

Detik itu juga, dia sudah menjadi orang paling dicari di dunia karena telah menemukan sumber daya kekal setelah bertahun-tahun penelitian yang dilakukan tidak pernah membuahkan hasil.

Namun kenyataan bahwa tidak ada satupun dari mereka yang mendukungnya ataupun mendanainya saat lelaki itu berusaha mencanangkan konsep penelitiannya membuatnya semakin kesal saat mendengar bahwa karyanya akan diakuisisi oleh pemerintah untuk kepentingan mereka.

Tentu saja, lelaki itu sudah memastikan untuk membakar semua cetak biru sehingga kunci untuk penelitiannya ada pada ingatannya dan juga ingatan yang terdapat pada Zero.

Pada hari itu juga, negara asalnya mengumumkan kepada seluruh dunia tentang lelaki itu. Sehingga dia menjadi buronan kelas internasional.

Rupanya hal itu membuatnya menjadi kesal, karena telah menghancurkan kehidupan damainya.

Dia mengumpulkan seluruh sumber daya yang bisa ia kumpulkan, dan juga orang-orang yang bisa ia percaya untuk membantunya. Dan akhirnya prajurit revolusipun terbentuk.

Pada waktu itu, prajurit revolusi hanya terdiri dari orang-orang yang merasa mereka senasib dengan lelaki itu dan memiliki dendam terhadap pemerintahan. Merekapun setuju untuk bekerja sama demi menggulingkan pemerintahan yang tingkahnya seenak perut itu.

Karena dibutakan oleh keinginan untuk berperang, lelaki itu mengubah tujuannya menciptakan automata. Yang sebelumnya ia ciptakan demi mengisi kekosongan di dalam hatinya, sekarang ia gunakan untuk menciptakan senjata perang.

Dan katafrakt pun diciptakan.

Purwarupa Unit-000 Zero disempurnakan, dan namanya diubah menjadi Einherjar. Sedangkan Unit-001 diberikan kemampuan katafrakt pada umumnya, dan menjadi senjata pribadi lelaki itu. Di dalam hatinya, dia masih tidak tega melihat seseorang yang berharga baginya diubah menjadi senjata. Dia merasa bahwa dirinya tidak ada bedanya dibandingkan dengan para peneliti di farmasi itu, yang seenaknya memaksakan kehendak terhadap Irina.

Namun nasi sudah menjadi bubur. Seluruh dunia sudah menjadi musuhnya, sehingga dia tidak tahu harus bagaimana lagi.

Dikala semua pasukannya sudah siap, dia menjadi seseorang yang punya teknologi paling maju di dunia. Dan dengan beraninya, dia mengibarkan deklarasi perang terhadap seluruh dunia- tepatnya seluruh negara yang telah menodongkan konfrontasi itu kearahnya.

PBB merasa bahwa dunia terancam dengan adanya keberadaan lelaki itu. Sehingga mereka memutuskan untuk berperang melawan lelaki itu. Dan pertumpahan darah pun tidak terelakan.

Namun yang namanya teknologi paling maju, pertempuran itu bahkan tidak bisa dianggap sebuah perang. Yang terjadi hanyalah pembantaian satu sisi dimana lelaki itu memusnahkan seluruh batalion hanya dengan satu buah katafrakt.

Ribuan orang kehilangan nyawanya hanya dengan jentikan jari dari lelaki itu.

Di saat itu, mereka sadar bahwa senjata konvensional tidak bisa mengalahkan katafrakt.

Namanya manusia, mereka selalu bisa melakukan hal-hal yang tidak terduga. Dengan banyak trial and error serta analisis lapangan, salah satu negara berhasil membuat teknologi yang serupa dengan reaktor milik lelaki itu.

Namun karena egonya, negara itu enggan untuk membagi rahasia teknologi itu sehingga negara itupun ikut dikambing hitamkan bersama dengan lelaki itu. Dan perang antar saudara tidak bisa dihindari.

Dan karena banyak negara yang tidak bisa menghormati perjanjian alliansi diantara mereka untuk menggulingkan lelaki itu, perang dunia ketiga pun terjadi.

"Dunia benar-benar sudah kelihatan mau hancur."

"Memang, tetapi semua kekacauan itu tidak berhenti sampai disana saja."

Kenyataannya, meskipun perang dunia telah reda pertempuran diantara negara untuk memperebutkan teknologi canggih ini masih belum benar-benar pudar. Mereka tergiurkan dengan janji yang ditawarkan benda yang bahkan tidak lebih besar dari bola kasti, namun dapat mensuplai energi dengan jumlah yang tak terbatas.

Terlebih lagi dengan kemampuan yang dimilikinya, perjalanan antar waktu sudah bukan tidak mungkin lagi.

Beberapa bulan setelahnya, banyak negara yang hampir gulung tikar pemerintahannya karena banyaknya pemberontakan yang terjadi. Sistem politik sudah tidak bisa menyokong negara itu, dan kenyataan bahwa di sekeliling mereka diisi oleh negara-negara yang sudah tidak bisa diajak kompromi membuat banyak negara hilang dari peta dunia. Tatanan infrastrukturnya sudah menjadi seperti kapal pecah, sehingga isinya hanya berisikan orang-orang biadab yang suka bertingkah seenak lutut.

Alih-alih karena adanya reaktor alfa, mereka tetap tidak berhenti mengeksploitasi sumber daya lain meskipun sudah mendapat apa yang mereka inginkan. Mulai dari minyak bumi, emas, dan juga bahan tambang lainnya. Dan itu semua sederhananya karena persaingan dalam bidang militer untuk memperebutkan wilayah, sehingga alam sudah tidak seperti dulu lagi.

Sungai-sungai tercemar, pohon-pohon layu dan mati, rumput tidak tumbuh lagi, hewan tidak lagi terlihat dimanapun, dan radiasi nuklir serta pembunuhan terjadi dimana-mana. Penyakit mematikan mewabah di seluruh penjuru, sehingga dunia luar sudah tidak bisa dianggap aman lagi. Dunia seperti itu hampir tidak mungkin bisa ditinggali oleh manusia, meskipun mereka berusaha menyesuaikan sampai poin terakhirpun.

Saat dunia sudah hampir hancur seperti itu, menemukan orang dengan kepala yang masih ditancapi baut dan gerigi yang lengkap adalah satu hal yang hampir mustahil.

Semua yang dilakukan lelaki itu semata-mata hanya untuk balas dendam atas kematian seseorang yang disayanginya, namun dia tidak menyangka dunia bakal hancur karena tindakan yang dilakukannya.

"Tunggu, kau bilang bahwa perjalanan ruang dan waktu sudah memungkinkan dengan teknologi katafrakt bukan?"

"Pada teori, iya.."

"Lalu kenapa tidak pergi ke masa lalu dan mengubahnya?"

"Kau kira professor Excel tidak mencobanya?"

Lelaki itu telah mencobanya, namun di masa lalu tidak ada yang bisa ia lakukan. Dia tidak bisa menghentikan dirinya di masa lalu untuk menciptakan reaktor alfa. Seolah-olah reaktor alfa pada garis waktu itu memang wajib ada.

Dan diantara mereka yang bisa menjelajahi waktu, tidak ada yang berani mengusulkan untuk membunuh lelaki itu di masa lalu. Sehingga mereka mengurungkan niat itu untuk melakukannya. Bukan hanya jika lelaki itu tidak ada, tetapi ada kemungkinan seseorang akan menggantikan dirinya untuk menciptakan reaktor alfa. Dan itu sudah diperkirakan oleh pihak revolusi.

Dengan kata lain, membunuh lelaki itu sama sekali tidak membawa perubahan.

Maka pada waktu itu, sebuah keputusan berdasarkan teori dunia parallel dijatuhkan oleh salah satu petinggi di pasukan revolusi.

"Menggabungkan dunia yang sudah kacau balau itu dengan dunia yang damai."

Dengan kata lain, duniaku. Dunia dengan garis waktu yang berbeda dimana reaktor alfa tidak diciptakan.

"Dan berharap hal itu bisa membawa perubahan."

Namun tidak semua pihak menyetujui hal itu. Lelaki itu sangat tidak setuju dengan hal ini, sehingga dia menentang rencana ini. Bukan hanya karena hasil yang diperolehnya benar-benar random, lelaki itu tidak bisa mengorbankan dunia yang damai hanya untuk memperbaiki dunianya.

Akhirnya untuk melindungi dunia yang akan dijatuhi penggabungan, lelaki itu mengirim sebuah katafrakt melalui jalur lintas dimensi untuk melindungi dirinya di dunia lain agar tidak membuat kesalahan yang sama seperti yang ia lakukan di dunianya.

"Dan katafrakt itu adalah aku."

Namun secara diam-diam, orang-orang dari pasukan revolusi yang masih mendukung rencana penggabungan dunia itu tetap menjalankan rencananya. Mereka mengirim tujuh puluh benda yang terbuat dari logam campuran korondum dan venite paranium untuk menjadi mercusuar bagi penggabungan dunia.

Dan tujuh puluh benda logam yang disebut dengan monolith itu adalah tujuanku untuk saat ini. Meskipun menghancurkan semuanya disaat semua benda itu tersebar di seluruh dunia itu terkesan hampir mustahil dilakukan oleh siswa SMU sepertiku.

"Tapi kau bilang bahwa automata biasa bisa digerakkan hanya dengan energi kinetik klasik. Namun kenapa automata pertama baru bisa diciptakan setelah reaktor alfa ditemukan?"

"Aku juga bilang kan, bahwa ada satu negara yang bisa menciptakan teknologi serupa dengan reaktor alfa."

Meskipun tidak bisa mensuplai energi se efektif reaktor alfa yang notabene menggunakan partikel alfa yang umumnya tersebar di seluruh penjuru dunia, reaktor replika yang diciptakan ini berhasil membuat revolusi pada dunia penciptaan automata.

Dan kemudian, teknologi ini tersebar ke seluruh dunia sehingga hampir seluruh negara bisa menciptakan automatanya sendiri. Meski hanya dengan bantuan reaktor replika.

"Replika reaktor alfa ini disebut dengan Mobion Engine, meskipun tidak sekuat reaktor alfa tetapi benda ini berhasil menggantikan generator konvensional sebagai pengganti penghasil listrik."

Inti dari Mobion Engine berotasi menggunakan besi oksidasi dan aluminium sebagai bahan utamanya. Mereka memanfaatkan sifat dasar oksidasi tersebut sebagai media untuk menghasilkan panas, dan mengkonversinya menjadi energi listrik. Dan dengan bantuan semprotan hidrogen untuk mengatur suhu, benda ini bisa menjadi tahan lama dan bisa dipakai dalam waktu yang tidak sebentar.

Batas umur dari mobion engine terdapat pada kapasitas cairan hidrogen yang terdapat pada reaktornya. Sehingga jika kehabisan cairan, mobion engine akan melebur dirinya sendiri dan hancur.

"Sungguh tidak efektif, tetapi jika hanya digunakan untuk pasukan sekali pakai memang cukup konvenien. Mereka benar-benar berusaha menghemat biaya meskipun punya keinginan tinggi untuk membunuhku."

Benda ini juga dapat berfungsi sebagai bom, jadi jika sewaktu-waktu automata mereka perlu diledakkan mereka hanya tinggal membalikkan reaksinya, membiarkan mobion engine kelebihan beban dan menembakkan cairan hidrogen secara langsung kedalam intinya untuk merubah sifat dasarnya sehingga terciptalah ledakan termit.

Teori ini sama dengan teori yang digunakan pada pengelasan.

"Maaf Axia, entah kenapa kepalaku mendadak terasa pusing. Aku ke belakang dulu ya.."

Gadis itu hanya tersenyum ringan.

"Oh, ya silahkan."

Pada dasarnya, partikel alfa hanyalah partikel yang terjadi dari reaksi berjalannya waktu. Teori ini telah dicanangkan oleh seseorang yang aku lupa namanya, dan telah dibuktikan dengan beberapa bukti tak terbantahkan.

Jadi selama waktu terus berjalan, reaktor alfa tidak akan kehabisan tenaga.

Dengan segenap kekuatanku yang tersisa, aku berjalan terhuyung-huyung kearah kamar mandi yang berjarak satu lantai dari kamarku yang berada di lantai dua.

Kepalaku benar-benar pusing tidak karuan. Aku tidak tahu bagaimana ini bisa terjadi, tetapi rasanya kepalaku benar-benar diguncangkan secara superpotensial. Bisa-bisa aku akan mengeluarkan semua isi perutku, padahal malam ini aku belum makan apa-apa.

Aku yakin yang namanya batuk itu wajar, terutama untukku yang punya pola hidup yang sangat tidak sehat. Tetapi dilihat dari manapun, batuk dengan darah adalah sesuatu yang jelas berbeda urusannya.

Sepertinya kondisi tubuhku benar-benar semakin memburuk.

Aaah, kepalaku pusing.

Tiba-tiba terdengar suara gaduh para gadis dari luar kamar mandi.

"Lyan!"

Mereka membuka pintu kamar mandi dengan kasar, dan berlari kearahku. Satunya sibuk mendudukkanku dan satunya bingung dengan apa yang harus dilakukannya.

"Kenapa kau tidak bilang?!"

"Hehe, maaf Axia. Sepertinya aku tidak menyangka akan jadi seperti ini.."

Wajah khawatir Axia dan juga Tatiana, entah kenapa terlihat sangat manis dari sini. Mereka berdua terlihat seperti malaikat yang kehilangan sayapnya, dan berusaha untuk berbuat baik demi mendapatkan sayap mereka kembali.

"Axia, kali ini aku ingin jujur bertanya.."

"Aku tahu, aku tahu! Jangan banyak bicara! Tatiana, panggil ambulan sekarang!"

Tatiana yang sedari-tadi bingung mau melakukan apa sontak mengambil handphonenya dan mulai menekan nomor telepon disana.

"Sta-tus?"

"Huh? Status? Tenang saja, kau benar-benar sangat sehat Lyan! Persentase hidup diatas delapan puluh persen, jantungmu bekerja normal dan paru-parumu sangat sehat! Aku yakin kau bisa hidup sampai umur delapan puluh nanti! jadi tolong bertahanlah sampai ambulan datang! Tidak! Bertahanlah sampai pertolongan datang! Lyan!."

Gadis itu mengatakannya sembari terlihat panik.

Hehe, sepertinya hidupku sudah tidak lama.

Kesadaranku kian pudar, tanganku juga mulai melemas. Dari sini aku hanya bisa melihat seorang gadis yang seharusnya bukan manusia, tetapi dia menangisiku. Dia menangisiku dengan sekuat tenaga, sembari tetap membuatku tersadarkan.

"Tatiana? Apa masih lama?!"

"Tunggu sebentar!"

Mereka berdua panik sekali ya.

Gubrak!

"Lyan!"

Kedua gadis itu terbelak tidak percaya dengan apa yang mereka lihat.

"Status, kegagalan pada fungsi utama jantung untuk memompa darah, tanda vital mulai memudar. Kemungkinan selamat, lima persen."

Ujar seorang gadis dengan rambut violet, sembari berusaha menahan tangisan yang tidak bisa dibendungnya.

"Ini semua... salahku.."

"Aku..."

"...mengacau lagi..."