A flash fictogemino- fiction.


Tak ada yang bisa menebak melody hati dari seorang manusia. Bahkan manusia itu sendiri ―yang kadangkala merasa kalut oleh perasaannya-. Mayland hanya ingin memastikan. Namun, Tifa bahkan tak mampu mengerti apa yang diinginkan oleh hatinya sendiri.


Hening.

"Apakah kau mencintaiku?" Akhirnya, pemuda itu memutuskan untuk bertanya.

"Entahlah," sang gadis menjawab dengan pelan. Pandangannya ia alihkan, dilihatnya orang-orang yang sedang berlalu-lalang di luar sana.

Matahari menghilang. Tertutupi oleh awan kelabu yang senantiasa menghiasi langit.

Hujan. Itulah yang sedang terjadi saat ini. Tetes-tetes air yang mengguyur permukaan bumi seolah-olah menghantarkan sebuah alunan musik yang sangat indah.

Ah, sungguh menenangkan.

Tifa menghela napas dan memejamkan matanya perlahan.

"Jawablah yang serius! Aku tidak sedang bermain-main kali ini!" Mayland berkata dengan nada agak meninggi, membuat gadis yang berada di hadapannya sedikit berjengit.

"Hmm," hanya kata itu yang mampu terlontar dari bibir Tifa. Entah ia harus mengucapkan apalagi. Ia terlalu kalut dengan hatinya. Gadis berusia 21 tahun ini tidak begitu mengerti perasaannya sendiri.

"Kau sedang mencintai seseorang, ya?" Lagi, pertanyaan keluar dari mulut sang pemuda.

"Aku... tidak tahu," ungkapnya. Tangannya mengaduk-aduk makanan di hadapannya dengan asal. Terlihat tidak bernafsu makan untuk melahapnya.

"Kau harus bisa memastikan keadaan hatimu sendiri, Tif. Aku tak mau kau terus menerus menahan luka." Mayland menyesap vanilla latte miliknya yang masih mengepulkan asap dengan perlahan. Restoran yang mereka tempati sekarang ini cukup lengang.

"Baiklah. Akan kuusahakan," balas gadis di depannya dengan tersenyum tipis.

"Bisakah jadwalmu sabtu malam ini kau kosongkan? Kita harus bertemu lagi. Banyak hal yang perlu kita bicarakan," sang pemuda berusia 23 tahun itu berucap.

"Ya. Aku mengerti."

"Kau tahu, Tif? Duka lah yang mendewasakanku," ucap Mayland dengan lirih. Pandangan matanya berubah sendu, namun terlihat tegar disaat bersamaan.

"Apa kau sering didera luka dan dilanda duka?" Tanya Tifa.

"Pasti."

"Oh begitu. Bolehkah aku bertanya mengenai sesuatu?" ucap Tifa.

"Tentu saja."

"Apakah aku pantas berbahagia?" Tifa bertanya.


Tak ada yang bisa menebak melody hati dari seorang manusia. Bahkan manusia itu sendiri ―yang kadangkala merasa kalut oleh perasaannya-. Mayland hanya ingin memastikan. Namun, Tifa bahkan tak mampu mengerti apa yang diinginkan oleh hatinya sendiri.


*Fictogemino/FG/Double-Fiction: Fiksi yang memiliki alur ganda (disebut juga fiksi kembar). Bisa dibaca dari paragraf pertama hingga paragraf terakhir, maupun dari paragraf terakhir ke paragraf pertama (dari atas ke bawah atau dari bawah ke atas).

A/N: Terimakasih kepada Insomnia-kun yang menemani ku malam tadi sehingga aku memutuskan untuk menulis cerita ini. Finally, finish. Yeay! This is the first time I can write a fictogemino story xD Hehe. Karena ini fictogemino pertama saya, maaf bila ada kekurangan di sana-sini. By the way saya menulis ini pada tanggal 12 November 2015 dan tidak mengeditnya sama sekali so yeah... mungkin ini akan terasa aneh saat dibaca, haha.