Di depan pintu, aku terpaku.

Kosong.

Kutolehkan pandang, mencari-cari namun tak dapat.

Kemana yang lain?

.

Kulangkahkan kaki, menjejak. Setapak demi setapak.

Namun nihil.

Kemana semua canda tawa?

Seluruh hingar bingar yang penuh akan suara?

Kini, hanya keheningan yang tersisa.

.

Masih terpatri jelas dalam ingatan,

Bagaimana obrolan ringan yang membumbung ke udara

Membungkus sukma, membelai jiwa

Tentang bisikan remaja anak SMA

Yang berisi khayalan, angan, dan cita-cita

.

Mengapa tak ada lagi?

.

Lelucon-lelucon itu...

Kejahilan yang terkadang menjengkelkan,

Teriakan yang memekakkan telinga,

Perbuatan tak pantas di kala menggunjing aib orang,

Mengeluh bersama,

Tertawa bersama,

Cucuran air mata,

Hiruk-pikuk dunia yang biasanya aku rasakan hanya dari sebuah ruang kelas kecil di sekolah pinggir kota,

Kini telah sirna.

.

Aku lupa.

Bahwa masanya sudah usai.

Berakhir.

.

Padahal, baru saja beberapa minggu lalu aku melepas almamater putih abu-abu.

Namun di sinilah aku, terpaku bisu bak orang amnesia.

Masih berharap bahwa, andai saja itu semua bisa terulang

Andai saja semua kenangan ini tak pernah hilang...

.

Padahal, masih banyak hal yang ingin kubincangkan dengan kalian.

Padahal, masih banyak hal yang ingin kulakukan dengan kalian.

Padahal ini...

Padahal itu...

.

Ternyata, waktu tiga tahun itu tak terasa, ya?

Ah, bukan. Lebih tepatnya, ternyata, waktu tiga tahun itu tidaklah cukup, ya?


A/N: masih belum bisa recover dari masa SMA muehehe