Heinrich Eitzinger x Lena Ruthofer- Guo (3)


Hatinya tak sanggup berpaling dari Heinrich Eitzinger setelah bertahun-tahun membencinya hingga ia berani bersumpah antara Surga dan Neraka di depan foto mendiang ayahnya yang mulai menguning.

Lena Guo membohongi perasaannya sendiri dengan mengakui Stephan Chen adalah sosok pria yang ia cintai.

Melawan dan melawan . . . melayangkan peperangan paling awal namun paling pertama juga mengakhiri perperangan. Gairah membara saling memancarkan kerinduan sekaligus kesedihan dan kebencian terselubung di hati Lena.

Keterlibatannya terhadap kelompok Antifa semata-mata ia tidak bisa menerima kenyataan atas fakta yang disembunyikan Heinrich dan sebab musabab berakhirnya hubungan mereka. Ia lelah terhadap semuanya, ketakutannya dan masa depannya. Bergabung Antifa merupakan salah satu solusi agar ia tidak perlu mati muda seperti ayahnya, keguguran berulang kali seperti ibunya karena keterlibatan Heinrich dengan kelompok sayap kanan. Peristiwa keguguran sekitar tiga tahun lalu telah memupuskan harapannya untuk mempunyai anak walaupun ia masih mempunyai kesempatan untuk hamil lagi.

Lena teramat mencintai dan membutuhkan Heinrich lebih dari apa yang ia pikirkan. Barangkali lebih baik ia mati daripada menyangkal sekali lagi atau memaksakan mencari kekasih dari golongan mendiang ayahnya. Setiap mereka berpisah di stasiun kereta, Lena takut ditinggalkan dan kehilangan seperti tahun-tahun sebelumnya. Saling memandang lama, ciuman pertanda 'cepatlah pulang ke sini', 'aku rindu padamu', 'aku tidak sanggup ditinggal lama' yang pada intinya adalah 'aku tidak bisa hidup tanpamu'.

"Dan aku ingin melihatmu tidak hanya sekali atau dua kali . . . "

Lebih dari itu semua, ia memutuskan mengikuti jejak mendiang ayahnya yaitu menerima Heinrich seutuhnya. Tahu betul pilihannya mengandung resiko, ditentang teman-temannya yang kebanyakan anti-fasis.

Namun koar-koar tidak semudah kenyataan di lapangan.

Adakah cinta berkembang luas melawan batas-batas yang ia yakini sebelumnya?

Ia asing terhadap jiwa, ketubuhannya maupun asal usulnya.

Dalam dekapan Heinrich, ia merasa aman.

Keyakinan itulah membuat cintanya kembali bertumbuh agar menciptakan lembaran baru tanpa saling memandang masa lalu. Sama-sama pernah kehilangan arah, mencari jalan pulang dan mengisi kekosongan sekaligus cinta terbentang luas.

Rencana keberangkatan Lena menuju Indonesia mengalami banyak rintangan. Hatinya tidak yakin merasa diterima di Indonesia sebab sudah terlalu lama ia dan orangtuanya tak memberi kabar tetapi rindu pulang untuk sesaat atau menyusun jejak masa kanak-kanaknya. Suka tidak suka, ia kehilangan identitasnya selama dua dekade. Akan lebih mudah bagi orang asing yang tidak ada hubungan dengan Indonesia untuk berbaur ketimbang dirinya. Perasaannya campur aduk, kecewa dan rindu menjadi satu, sebab muasalnya sukar dijelaskan kecuali satu kejadian yang memaksa keluarganya pindah.

Lena memilih Heinrich Eitzinger, bukan Stephan Chen yang tak terlalu ia ingat selain foto-foto.

Pada akhirnya, Lena menyadari ada kecanggungan dan benturan budaya yang besar di antara ia dan Stephan. Heinrich memahami ketakutannya lebih besar daripada Stephan, detik itu juga Lena mengerti ia tidak akan merasa sendirian.

". . . seumur hidupku, hanya kau seorang yang kuinginkan agar hidupku terasa lengkap."

Lena melingkarkan lengannya sembari tertidur di samping Heinrich. Melepas semua rindu dan hasrat tertahan bertahun-tahun lamanya. Tak pernah bisa menyerahkan tubuh ini selain kepada cintanya. Mengusap-usap pelan bekas luka di punggung Heinrich. Sesulit itukah untuk jujur? Betapa muramnya kisah cinta mereka yang sempat berakhir tragis. Pilihan berani mengandung resiko, demi dirinya juga menyebabkan Heinrich melakukan langkah nekad. Kehilangan orang-orang terkasih termasuk nyawa yang baru tercipta.

Nasib mempermainkan semua orang tetapi Lena tidak pernah mau menyerah lagi kepada nasib. Kesempatan merubah nasib selalu ada.

Tempat pulang sebenarnya bersama orang-orang yang ia cintai. Dimanapun.

Ia menemukan rumahnya di Graz bersama Heinrich dan anak-anak mereka di masa depan. Mereka tidak akan pernah bernasib sama dengan orangtuanya. Berumur panjang, melihat semua anak-anaknya tumbuh besar dan menemukan belahan jiwa yang tepat.

.

.

.

Di kuburan ibu dan ayahku, kau berjanji akan menjagaku selamanya.

Rinduku akan pulang ke rumah seperti foto di Vihara Tri Dharma Bumi Raya kota Singkawang,

bunga kembang sepatu merah di ujung kota Jakarta,

jembatan Barelang di Batam.

Dendam dan kekecewaan luruh, cinta berkembang dan meledakkan pancarannya.

Aku memelukmu, Heinrich.

Agar anak-anak kita tidak sepertiku.

Tanpa Papa dan Mama.

Aku di bawa pergi jauh dari tanah kelahiran,

untuk bertemu denganmu.

Heinrich Eitzinger, cinta seumur hidupku yang membentang luas ke penjuru kota Graz dan Wina.