Disclaimer: Cerita ini hanyalah fiksi belaka. Kesamaan tokoh, tempat, dan alur hanya kebetulan semata. Semua tokoh dan cerita murni milik penulis. Enjoy :)


Chapter 1: Clearence.

Kobaran api seakan gak bisa terbendung. Menjilat bumi, lalu membumbung tinggi ke angkasa. Langit terlihat bak menjerit, memerah di tengah pekat hitam kepulan asap. Sukmajaya membara. Kota yang tadinya aman tentram, kini berubah seperti medan perang. Sayup-sayup radio pihak berwajib terus bergemerisik di tengah kepanikan masyarakat yang terus berusaha evakuasi dari tempat kejadian perkara.

Dentuman ledakan seraya jago merah melalap kendaraan polisi terdengar pekakkan telinga, layangkan onggokan logam tersebut beberapa meter sebelum akhirnya keras membentur daratan. Para personil pihak berwajib seketika berpencar agar terhindar dari tibanan kendaraan sendiri, dan langsung cari tempat berlindung kembali.

Hadapi ancaman memang udah jadi kewajiban para personil angkatan bersenjata terlatih. Tapi bila dihadapkan lawan kemampuan abnormal, bisa apa peluru dan amunisi yang kerap jadi kebanggaan? Bulan di atas kepala yang biasanya tampil tanpa penghalang, kini seakan malu untuk jadi yang terdepan. Bersembunyi dari awan gelap yang membungkus kota.

"Berapa banyak kebusukan tercipta cuma gegara banyak manusia gak berotak?" ujar sosok pemuda dengan gumpalan api di tangan kanan, "bau Bumi gak lagi sedap dihirup. Dunia butuh perubahan," dialah pelaku yang menerbangkan mobil polisi barusan, "dan perubahan itu adalah ... gua!"

Pemuda berambut merah agak panjang itu kembali menembakkan bola api dari tangannya ke arah para Polisi malang. Ledakan area yang tercipta akibat benturan bola api dengan aspal sanggup pentalkan beberapa polisi dari tempat mereka berdiri. Sepasang matanya merah tajam, tetap menatap tanpa rasa iba pada anggota kepolisian yang jadi korban.

Paduan suara berupa lengkingan tinggi manusia terus tercipta dan saling bersambut, ciptakan simponi teror yang membuat gak nyaman bagi pendengar mana pun.

"Ma-Markas pusat! Kami ... butuh bantuan!" tampak salah seorang polisi yang lolos dari serangan barusan bicara pada alat komunikasinya, "Flamio ... d-dan para Rogue makin menggila. To-tolong ... kami udah gak sanggup! A-anggota kami, anggota kami- AARGH!" sayang sebelum selesaikan kalimat, punggung polisi itu harus tercabik cambuk duri dari seorang wanita berambut pirang.

Darah segar mengalir bak sungai merah dari luka yang terukir sempurna. Sanggup bikin siapapun yang liat luka itu bergidik ngeri seketika.

"Ahaha, my condelence for you (Ahaha, kasian kalian)," dia bilang dengan senyum seduktif menghias wajah, "The Flame of Chaos will burn brighter than ever (Api Kekacauan akan berkobar lebih terang dari sebelumnya)," usai melukai polisi, mata safir perempuan pirang itu melirik sosok pria berambut merah tadi.

Gak kuasa sembunyikan kekaguman kala menelisik lidah api yang merembes keluar dari pundak Si rambut merah, ditambah kepingan-kepingan api kecil berbentuk segienam oranye yang kerap berterbangan di sekitarnya. Indah. Suatu kreasi langit yang gak akan mampu ditiru siapapun juga. Dia menginginkannya, dia terobsesi. Seperti candu yang gak bisa didapatkan lagi.

Lidah api yang merupakan cerminan kemarahan pemuda itu terus membara, kreasikan semacam suara retakan lembut di udara.

Sementara itu, gak jauh dari sana, terdapat toko elektronik yang pintunya telah rusak dan dalamnya telah habis dijarah. Namun di bagian display toko tersebut masih tersisa beberapa televisi pecah lcd yang beroperasi dan tayangkan berita panas hari ini.

"Laporan terbaru dari kru kami di lapangan, saudara, aksi teror yang terjadi di kota Sukmajaya masih terus berlanjut hingga sore hari ini. Anggota kepolisian dan tentara telah diterjunkan untuk mengantisipasi keadaan. Beberapa Inquisitor juga dilaporkan telah berupaya untuk terus membendung gerombolan Rogue yang terus mengancam. Evakuasi warga juga masih berlanjut, diharapkan dengan diterjunkannya pasukan bersenjata mampu meredakan suasana. Untuk para pemirsa di rumah, kami segenap kru televisi nasional menghimbau untuk terus mendoakan mereka yang terjebak di sekitar area kekacauan. Semoga Tuhan bersama warga yang tak berdaya."

Bersamaan dengan liputan, kerumunan warga sipil yang hendak evakuasi berlarian di depan toko elektronik itu. Diiringi tangis serta jerit pengampunan pada Tuhan yang mereka yakini. Keresahan, ketakutan, khawatir akan jadi apa kediaman yang biasa mereka tinggali, apakah masih ada harapan dari kejadian yang mereka alami, berbagai perasaan tercampur rata.

Tapi tanpa alasan yang jelas, di tengah arus warga berhamburan, seorang lelaki berpakaian sweater hoodie biru laut malah jalan tenang ke arah berlawanan seraya masukkan tangan di dua saku jeans biru gelap. Wajahnya gak bisa teridentifikasi akibat bagian kepala tertutup hoodie, sedangkan dari leher sampe hidung terlindung buff slayer hitam. Cahaya dari layar televisi terhalang oleh badannya sejenak. Dari balik buff lelaki itu keluar asap putih, seolah kayak lagi napas di tengah cuaca dingin. Padahal, suhu di lingkungan sekitar lagi panas.

Dia sempat berhenti buat nonton cuplikan kerusuhan kota Sukmajaya. Menatap retak yang terukir sepanjang layar kaca, kemudian hela napas dalam-dalam seolah gak punya pilihan selain cemplungkan diri ke tengah masalah yang gak dia inginkan ... untuk kali kesekian.

Bahu lelaki itu sempat bersinggungan dengan warga pria yang lagi panik, tapi dia keliatan gak peduli.

"Mas, Mas! Ngapain diam aja!?" Seru warga sipil barusan sambil pegangi bahu sendiri. Terasa suhu dingin menusuk tulang di bahu warga sipil itu, dan dia gak tau sumbernya dari mana, "jalur evakuasinya ke sini, Mas!"

Lelaki bersweater hoodie itu cuma sekedar menoleh sebentar tanpa jawab seruan warga. Kemudian lanjut jalan menuju zona siaga.

"Ah, tai! Bilang dari tadi kalo cari mati!" warga sipil itu jengkel, putuskan terus lari tanpa berhenti lagi.

"... 'Semoga Tuhan bersama warga tak berdaya', ya?" Lelaki bersweater tersebut gumam sendiri, "semoga," langkah kaki kiri diiringi bunga es tepat berhenti di atas lidah api ukuran sedang, membuat lidah api itu padam dan hasilkan uap putih mengudara.

Pria berambut merah yang tengah sibuk bombardir kendaraan-kendaraan polisi dan tentara dari atas tumpukan puing bangunan masih belum sadar akan kehadiran lelaki itu. Lelaki bersweater hoodie sama sekali gak keliatan punya niat untuk hentikan serangan bola api yang tertuju pada polisi dan tentara. Dia cuma berdiri di sana, menatap saksama aksi si rambut merah tanpa takut, tanpa gentar. Padahal dia tau para tentara dan polisi itu bisa pergunakan uluran tangan, tapi entah kenapa gak keliatan ada gelagat hendak membantu. Sampai akhirnya seorang personil tentara yang tergopoh-gopoh meraih badan si lelaki bersweater. Walau nyawanya terancam, bapak tentara itu masih sempat pikirkan warga sipil.

"N-nak! Jangan ke sini! Kamu bisa mati!" Teriak si bapak tentara. Tapi tangan si lelaki bersweater itu malah tepis tangan si bapak, dan pasang badan di hadapan gumpalan bola api yang tengah meluncur deras.

"Mati! Bakar! Rasakan panas ini sampe ke ubun-ubun, hai bajingan!" lanjut si rambut merah keras, "tenang, kematian kalian gak bakal sia-sia. Mengubah dunia emang butuh pengorbanan!"

"Sersan Karyo, kami himbau supaya pasukan Bapak segera mundur! Keadaan makin sulit dikendalikan! Misi harus ditunda!"

Hubungan komunikasi dari alat telekom yang dia bawa terdengar jelas walau masih ada sedikit gemerisik. Namun boro-boro laksanakan perintah mundur, cuma tinggal dia yang tersisa dari pasukannya. Teman-teman lain antara udah meledak atau meleleh duluan. Ditambah lagi si personil tentara udah pasrah, udah gak mampu berlari, gak mampu mengelak. Luka bakar tingkat lanjut yang dialami membuatnya gak mampu berbuat banyak. Dia tutup mata, antisipasi panas membara yang bakal terasa.

Ledakan besar kembali terjadi! Tapi sekian lama ditunggu, panas gak kunjung datang. Personil tentara itu terheran, kenapa justru hawa sejuk condong dingin lebih mendominasi? Perlahan dia beranikan diri buka mata, ditatapnya lelaki bersweater hoodie yang masih tegak berdiri. Makin heranlah si bapak tentara. Kok bisa?
Ternyata pas pandangan si bapak bergeser ke bawah, di bawah kaki lelaki bersweater hoodie menggenang air dalam volume banyak yang sebagiannya masih tersisa bebatuan es gak rata. Bagian es meleleh itulah yang jadi semilir hawa dingin di kulit bapak tentara.

"Ka-kamu ... ?" tanya Si tentara terbata.

"... Gua penasaran, orang yang mikir anarkisme itu ide bagus buat awali perubahan," tatapan mata menusuk langsung si rambut merah, "otaknya di mana?" penekanan pada salah satu kata pertanda dia lagi provokasi lawan bicara.

"Heh. Gaya lu, Cuk," balas si rambut merah santai dan merendahkan, "apa dewan gak kapok kirim Inquisitor kemari, cuma jadi samsak bagi kami?"

Namun lain hal dengan kawan wanitanya yang keliatan gelisah, "F-Flamio, th-that's ... be careful!" wanita pirang bersenjatakan cambuk duri beri peringatan, "it's him ... Frost Point-"

Dapat peringatan untuk hati-hati, si rambut merah justru menyeringai senang dan memotong kalimat wanita itu, "Akhirnya milih buat keluar goa, Frosty?"

"Lu gak berhak balik tanya karena belum jawab pertanyaan gua. Tolong, gua butuh jawaban. Di mana otak lu?"

Pertanyaan dingin itu agaknya sukses menusuk ego si rambut merah. Dia tertawa kecil sambil tutup wajah, "Ha- ha ... haha. Biar gua jawab pun, orang macam lu gak mungkin paham," tanpa ambil ancang-ancang, bermodal lengan terbalut api, si rambut merah yang dipanggil Flamio melesat menuju Frosty, "dari abu reruntuhan peradabanlah sistem baru yang lebih baik bakal bangkit dan berjaya!"

Gak tinggal diam, Frosty ikut berlari. Tiap langkah pemuda bersweater hoodie biru itu tinggalkan jejak-jejak bunga es di belakang, bersiap adu serang lawan musuh alami kemampuannya, "Lu gak pantas sesumbar tentang perubahan di saat lu gak mampu berpikir tentang keselamatan orang lain!"

Suhu panas ekstrim bertemu suhu rendah abnormal di satu titik peraduan, ditambah suara dentuman sebagai musik latar mengakibatkan uap putih langsung tercipta secara instant. Membungkus keduanya dari pandangan orang lain. Tekanan udara seketika naik, hasilkan gelombang panas-dingin yang berhembus ke delapan penjuru mata angin.

Desiran angin yang tetiba kencang bikin wanita berambut pirang itu kaget dan lindungi wajah pakai sebelah lengan. Seruannya membahana, "Flamio!" raut kecemasan tergambar jelas di muka. Dia maju, hendak bantu kawannya itu. Tapi serta-merta tebing es bergerigi bangkit dari tanah dan mengelilingi dua pemuda berlawanan elemen yang lagi tempur, mengisolasi mereka dari dunia luar dan orang lain yang niat ikut campur.

"Omongan dari mulut lu itu ... udah gua duga, kita gak bakal sejalan," ucap Flamio sembari sibakkan tangan berapi guna singkirkan uap penghalang.

"... Belum telat buat kembali, Bung. Mumpung Insignia lu belum seutuhnya jadi Chaos."

"Cih. Insignia, Chaos, Insignia, Chaos ..." api merah menyeruak keluar dari tiap pori-pori tubuh Flamio, menyala makin hebat. Lidah api di sekitarnya pun ikut tersedot kobaran di badannya, segienam kecil melayang makin gak beraturan. Iris merah pemuda itu makin keliatan membara, naikkan suhu udara, "apa bedanya!? Ujung-ujungnya gua dan lu sama! Sama-sama abnormal! Sama-sama manfaatkan kemampuan ini buat justifikasi keberadaan diri di tengah masyarakat awam!" Flamio berakselerasi untuk lancarkan serangan jarak dekat lagi. Manfaatkan daya ledak di kedua telapak tangan yang diarahkan ke belakang, gerakannya jadi sulit diprediksi.

"Nggak. Kita beda," sulit diprediksi bagi orang biasa, tapi nggak sama sekali bagi Frosty. Bila suhu di sisi Flamio naik, di sisi Frosty justru turun drastis. Serpihan kristal es perlahan terlihat makin jelas beterbangan di udara, ditambah gelombang air juga mulai bergejolak dari pipa-pipa bawah tanah, menjebol aspal jalanan. Sebagian ada yang langsung membeku, sebagian tetap dalam keadaan cair, "gua gak berbuat dungu kayak lu."

Air dan api kembali bergelut buktikan taji, berusaha saling mengungguli. Gak ada yang sudi mengalah di antara mereka, bila perlu sampai titik darah penghabisan kali ini. Frosty sadar akan satu hal. Semua ini menyusahkan. Tapi dia gak punya pilihan. Kalau bukan dia, siapa lagi yang bisa berdiri melawan? Antara biarkan Sukmajaya terhapus dari peta, atau relakan diri terlibat hal yang gak dia suka? Hal demikian harusnya gak perlu ditanya.

.

.

-2 Tahun Kemudian-

Kehangatan mentari pagi tampak jadi tanda bahwa cuaca bakal cerah sepanjang hari. Seenggaknya itulah yang ada di benak seorang pemuda yang lagi lari. Rambut hitam lebat ikut terombang-ambing sesuai interval langkah. Di tubuh pemuda itu melekat sweater hoodie abu-abu lengkap dengan celana training hitam panjang. Napasnya menggebu, peluh menetes dari sekujur wajah, berusaha pertahankan kecepatan lari supaya tetap konsisten walau sesak makin terasa di dada.

Suasana asri Komplek Sukasari Permai memang jadi langganan pemuda itu. Oksigen terbaik yang bisa diberikan Bumi dalam kurung waktu 24 jam terdapat di jam 4 sampai 6 pagi. Berhubung dia paham akan hal itu, jadilah rutin lari pagi sekurang-kurangnya 4 kali seminggu. Agar menjaga tubuh tetap fit dan bugar, agar perasaan negatif yang kerap bergelut dalam diri berkurang walau sering kurang tidur.

Dia suka kegiatan itu. Cuma saat di jalanan beban di pundak serasa terangkat. Dia gak perlu pikirkan detail kehidupan pelik yang seakan gak berujung. Cuma dia dan aspal jalan, cuma satu yang harus dipikirkan; gimana cara atur napas supaya kuat terus berlari tanpa melangkah pelan.

Mata coklat gelap pemuda itu terus menatap ke depan, terus waspada agar gak terjadi sesuatu yang buruk. Ekspresinya begitu fokus sampai dia tiba di sebuah tikungan.

Dia harus rela hilang konsentrasi gegara dengar teriakan perempuan, "APIN!"

Pemuda itu sedikit terlonjak dan langsung berhenti. Dia menoleh ke belakang, tertuju pada sebuah rumah berpagar hitam yang udah beberapa langkah terlewati. Kebun rumah itu dipenuhi bunga-bungaan berbagai jenis, rumput yang jelas dipangkas secara teratur, dan tanaman hias merambat sampai ke kanopi. Tipikal rumah rindang dan asri. Ada seorang perempuan berperawakan padat berisi mengenakan hijab ungu lagi nyiram tanaman.

"Apaan?" tanya pemuda itu ogah-ogahan. Dadanya masih naik turun atur pernapasan.

"Beuh, sombong sekali kamu, Kisanak. Main lewat aja. Assalamualaikum," jawab perempuan itu.

"... Wa'alaikumussalam. Bukannya harusnya lu ngasih salam dulu baru ngomong, ya?"

"Yah, namanya juga manusia. Yang penting kan udah salam," elak perempuan tersebut sukses bikin sebelah alis lelaki itu terangkat, "lagi lari lu?"

"Kagak. Ceramah!"

"Yee, kok ngegas!? Gua semprot rontok semua jerawat lu!" omel si perempuan sambil todongkan selang di tangan pada si pemuda.

"Lagi pertanyaan lu gak berbobot. Udah tau lari masih juga ditanya," lelaki itu gak mau kalah.

"Lah itu namanya The Art of basa-basi. Lu ansos sih, makanya gak bakal ngerti."

"Art of basa-basi pala lu bau terasi," balasnya masih sengit, "heran gua, pagi-pagi udah debat kusir aja sama lu. Kayak gak ada kerjaan yang lebih mending gitu."

"Lagian siapa suruh gak nyapa! 'Kan ngeselin, kayak orang gak kenal. Lu tuh ya udah tau sekomplek-"

mendadak terdengar suara perempuan lain motong pembicaraan, "Ainun! Kamu nyiram kebon kok gak selesai-selesai!?"

"E-eh, iya Mam, iya! Ini dikit lagi."

"Hahah, mamam tuh. Bawel amat sih jadi bocah," pemuda itu senang liat dia gelagapan.

"Heh! Siapa yang lu kata bawel!?" gak terima dicemooh, kali ini perempuan bernama Ainun itu gak ragu buat benar-benar nyemprot muka si pemuda.

Bangke, umpat pemuda itu dalam hati, gak bergeming dari tempatnya berdiri. Udah pasrah terhadap perlakuan yang dia terima.

"Kenapa sih ribut-ribut?" seorang Ibu berjalan keluar dari pintu depan, penasaran keadaan gaduh di pagi hari yang melibatkan anaknya, "oh, ada nak Alvin toh. Lho, kok basah-basahan gitu?"

"Iya Tante, kebetulan saya dikira pohon sama anak Tante yang jelita nan santun itu," katanya sembari maksa senyum.

Selagi si pelaku sibuk benahi selang dan berusaha kabur selihai mungkin dari situ, "A-i-nun ..." Ibunya keburu manggil pakai nada tertahan. Tapi di balik tertahannya panggilan, dipenuhi aura ancaman.

Alvin gak bisa tahan senyum tersungging di bibir liat tetangga bawel itu kena batunya. Tetiba terpercik nostalgia mendalam dari dada. Kehangatan keluarga yang didamba tiap insan manusia, entah udah berapa lama gak dirasa. Enggan ganggu 'keharmonisan' Ibu dan anak di pagi hari, enggan tertelan nostalgia lebih dalam, dia putuskan untuk lanjut lari tanpa berkata apa-apa pada keduanya.

Cuma butuh 3 menit lebih lama buat selesaikan kegiatan olahraga.

Rumah ukuran sedang bercat putih atap coklat siap menyambut si pemuda. Ditatapnya kebun kecil di depan teras, dan betapa kontras bila dibanding kebun di rumah Ainun. gulma-gulma dan rumput gajah yang udah tumbuh terlalu lebat jadi pemandangan dominan di mata. Maklum, orang rumah punya banyak urusan sampai gak terpikir buat sekadar pangkas rerumputan. Itu, atau emang dasar dianya aja malas.

Dia langsung buka pintu ruang tamu, "Assalamualaikum."

Semerbak bau rempah-rempah langsung menggelitik hidung Alvin, bau yang terlalu familiar. Pemuda itu bisa tau masakan apa yang lagi diolah hanya dari aroma yang memenuhi seisi rumah.

Semur daging, batinnya.

"Wa'alaikumsalam," terdengar balasan wanita dari dalam, "kamu renang, Pin?" tanya wanita berambut hitam kecoklatan kuncir samping itu sambil melongok dari dapur, menangkap pemandangan sweater basah kuyup.

Alvin geleng kepala pelan, "Disiram Mak Lampir di jalan," jawabnya enteng.

"Ah, Ainun ya?"

"Siapa lagi, Mbak?"

"Dia tuh suka kali sama kamu, makanya rese terus. Pacarin aja sana, biar Mbak yakin kamu gak homo."

Air yang lagi ditenggak Alvin sontak tersembur ke mana-mana begitu dengar kalimat dari mulut kakaknya. Dicurigai homo oleh kakak sendiri adalah hal terakhir yang dia inginkan dari kehidupan remaja dewasa dipenuhi rutinitas membosankan.

"Lagian dia kan cakep, Pin. Tembem-tembem gemesin. Masa kamu gak ada rasa sedikitpun?"

"... Mbak, bukan masalah cakep-jelek. Apin males sama cewek singit begitu," sembari lepas sweater dan manpaatkan bagian kering tersisa buat bersihkan lantai yang basah, dia berkata. Coba buat gak ungkit kecurigaan Sang Kakak pada dirinya, supaya gak perpanjang perkara.

"Layangan kali ah, singit," timpal Si Mbak seraya terus aduk masakan di panci, "kali aja kalo kamu ungkapin rasa bisa jinak dia."

Omongan itu sekedar ditangkap indra pendengaran Alvin, tapi gak sempat dibalas. Gak mau, tepatnya. Pemuda itu gak merasa lagi ingin bahas masalah percintaan masa muda. Walau gak berkata apapun, dan tanpa diketahui Sang Kakak, dia tetap tersenyum simpul sambil geleng-geleng tanggapi komentar barusan. Jinak. Satu kata yang menggelitik indra humornya.

Seengaknya dia tau, itu salah satu bentuk perhatian dari keluarga yang dia punya. Dan dia sangat hargai itu.

"Kabar terbaru pagi ini, saudara, terjadi perampokan bank yang dilancarkan para Rogue di bagian barat Kota Sukasari. Kantor Bank Terpercaya cabang Sukasari dilaporkan kehilangan uang tunai sebesar 13 milyar. Pihak berwajib masih kesulitan untuk menangkap pelaku dikarenakan keterbatasan personil untuk investigasi lebih lanjut. Dugaan sementara, salah satu pelaku terlibat merupakan Rogue dengan kemampuan berhubungan dengan ledakan. Kesimpulan ini ditarik setelah melihat kerusakan brangkas-brangkas yang diakibatkan oleh suhu tinggi."

Tayangan berita di layar kaca buyarkan lamunan Alvin. Pemuda itu ganti terpaku nonton cuplikan di depan mata.

Lagi? gumamnya dalam hati, dahi berkerut seraya masih sibuk seka keringat di seluruh badan. Berbagai teori dan hipotesa berseliweran di benaknya saat ini, berusaha tarik kesimpulan dari beragam fakta yang terjadi.

"Cuma perasaan Mbak aja, atau emang akhir-akhir ini serangan Rogue makin sering?" sahut Kakaknya yang bawakan mangkuk berisi semur daging ke meja makan.

"Iya kali Mbak," celetuk Alvin seadanya. Mata masih fokus pada televisi tapi sama sekali gak menampik pernyataan sang kakak, "Mbak Ayu gak pernah kenapa-napa 'kan pas berangkat atau pulang kerja?"

"Selama ini sih belum. Doain ya, jangan sampe. Hehe," tawa renyah lolos dari bibir mungil Ayu, "tapi Mbak heran, Inquisitor pada ke mana? Bukannya itu tugas mereka buat hadapi Rogue?"

Alvin gak langsung respon pertanyaan tersebut. Ada sesuatu yang dipikirkan di balik sikap diam sejenaknya, "... Menurut info sih gegara jumlah Inquisitor lebih sedikit daripada Rogue. Kemungkinan perbandingannya aja 3:10."

"Tau dari mana kamu?"

Mata coklat Alvin beralih pada Dinayu, dan berkedip cepat beberapa kali. Baru sadar argumen barusan bisa jadi blunder, "Uh, uhm ... kata netizen yang budiman sih begitu," jawaban pemuda itu terkesan mengelak.

"Oh," balas Ayu pendek. Maklumi jawaban adiknya yang cukup masuk akal. Berbagai kabar memang bisa ditemukan dengan cepat di internet, "coba kamu punya kemampuan aneh-aneh itu, pasti kamu bisa jadi Inquisitor deh. Lumayan 'kan, buat jaga Mbak juga."

"Ehhe, mana ada. Apin mah apa atuh. Butiran debu, Mbak," pemuda itu garuk-garuk kepala bagian belakang, "hari ini Apin udah mulai ngampus ya Mbak," lanjutnya belokkan topik perbincangan.

"Oh, iya ya? Waah, Mbak lupa. Yang kampusnya Ainun itu, 'kan?"

Dapat respon anggukan dari Sang Adik.

Dinayu langsung sumringah. Wanita itu meledek, "Tuh katanya males sama cewek singit, tapi ujung-ujungnya sekampus juga."

Lagi-lagi, Alvin dibungkam paksa oleh komentar kakaknya. Gak punya pilihan selain diam dan telan mentah-mentah.

"Eh, Mbak mandi duluan ya Pin. Udah telat nih."

"Ya udah duluan aja."

"Titip kompor ya, lagi masak air," begitulah pesan terakhir Ayu sebelum tutup pintu kamar mandi.

Sukses bikin Alvin mendadak beku di tempat. Keresahan terangkat dari sanubari terdalam, dan tangannya jadi sedikit gemetar. Gak salah Ayu minta demikian? Apa dia lupa? Dia pasti lupa, 'kan? Masa sih bisa lupa? Kok bisa gak ingat? Di tengah serangan panik yang mendadak datang, bunyi teko tanda air mendidih pecahkan kesunyian rumah. Pemuda itu terkejut dan menatap ruang dapur penuh ketakutan.

"Mbak! Apin mana berani matiin kompor!" sontak dia berseru.

Yup, Ayu jelas lupa kalau adiknya, lelaki yang udah menjomblo 19 tahun itu gak berani dekat-dekat api.

.

.

Padatnya lorong Universitas Terpadu Sukmajaya jadi pemandangan gak biasa hari ini. Padahal Universitas ini termasuk salah satu yang terbesar seprovinsi. Wajar, namanya juga hari pertama semester ganjil. Gelombang mahasiswa baru yang masih unyu-unyu tampak semangat hadapi fase baru kehidupan mereka, tanpa tau realita seperti apa sebenarnya begitu mendaratkan pantat di bangku kuliah. Di antara lalu lalang peserta didik yang sibuk cari kelas masing-masing, Alvin dan Ainun tampak meliukkan badan supaya gak bersinggungan dengan orang lain.

"Buset dah, padet amat," gerutu Alvin.

"Sabar. Bentar lagi sampe kelas," sahut Ainun menenangkan. Kebetulan kelas mata kuliah pertama yang mereka ambil samaan, jadilah kedua insan ini pergi bersama.

Keduanya putuskan buat pakai tampilan kasual. Paduan kaos dan celana jeans, ditambah hijab bernuansa hijau bagi Ainun membuat penampilan mereka gak begitu menonjol tapi tetap santai dan apik dipandang.

Mood Alvin jelas memburuk. Dia gak suka keadaan sesak dan panas kelewatan seperti ini. Dan udah menyesal aja masuk kuliah di hari pertama, Tau gini mending gua ke rental PS tadi.

Hilang konsentrasi biarpun untuk sepersekian detik di tengah keramaian udah cukup jadi alasan dirinya bertabrakan bahu dengan orang lain. Benturan lumayan keras, sampai mampu bikin dia meringis. Dia tengok belakang buat liat seperti apa tampang orang itu, dan siapa tau dapat permintaan maap. Terlihat dari belakang sosok berambut hitam kemerahan potongan pendek, dilapis jaket hitam terus jalan seakan gak punya salah.

"Woi!" Alvin membentak sembari hampiri mahasiswa yang menabraknya. Ainun yang dengar bentakan itu terkejut. Dia udah kenal Alvin terlalu baik, dan takut tetangganya bakal buat masalah di hari pertama kuliah.

Perempuan berhijab itu coba pegangi lengan Alvin, "Pin, udah Pin. Biarin aja kenapa sih!" tapi yang namanya tarikan perempuan, mana cukup kuat buat bikin langkah lelaki berhenti.

Lelaki berjaket hitam tampak gak dengar bentakan Alvin. Entah gak dengar, atau mengira bentakan itu bukan ditujukan buat dia. Yang jelas, dia terus melangkah sebelum tangan Alvin meraih bahu kirinya. Dia berhenti dan balik badan. Menghadap muka Alvin yang berhias tatapan tajam. Mahasiswa-mahasiswa lain di sekeliling mereka ikutan berhenti dan ingin tau apa yang bakal terjadi selanjutnya. Ada yang udah bersiap dengan kamera hp, jaga-jaga siapa tau pecah perkelahian. Lumayan buat kontent instakilo mereka, siapa tau viral dadakan.

Ainun yang udah gak berani berbuat apa-apa, cuma bisa tutup mata pakai dua tangan dan berdoa yang terbaik. Intensitas udara tau-tau sesakkan dada. Semua keadaan ini bikin perempuan berhijab itu gak nyaman dan ingin cepat keluar dari situasi ini.

Tapi ternyata segala kecemasan, kekhawatiran, serta sikap antisipasi orang-orang di lorong kampus itu hanyalah kosong belaka. Kenapa? Karena justru hal gak terduga yang terjadi kemudian.

"Maap ya, tadi gua nabrak lu. Gak sengaja. Rame banget lagian," ucapan Alvin seketika bikin ketegangan atmosfer turun seketika.

Lawan bicaranya masih diam. Sekedar menatap Alvin dari ujung rambut sampai ujung kaki. Jujur, tatapannya bikin sensasi merinding menjalar di sekujur tulang punggung Alvin. Seperti ribuan duri halus yang asing terasa.

"... Gak masalah," ujar lelaki itu usai jeda. Tanpa basa-basi lebih jauh langsung balik badan dan lanjut berjalan.

Alvin masih terpaku menatap punggung pria berjaket hitam tersebut sekita setengah menit lebih lama. Barulah kemudian geleng kepala cepat dan berusaha menepis perasaan asing dan aneh yang melanda jauh-jauh. Matanya beralih pada Ainun yang hela napas lega.

Pemuda itu nyengir tanpa beban, "Lu kira gua bakal gelut 'kan tadi?"

"Elu tuh ya! Yang enggak-enggak aja! Tau ah! Ogah gua ngurusin lu lagi. Mau lu digilas buldozer, gak bakal peduli gua!" Ambek perempuan itu sembari meloyor pergi.

Yang diomelin cuma cengengesan sepanjang sisa perjalanan ke ruang kelas. Bisa bikin Mak Lampir uring-uringan jadi hiburan tersendiri. Yah, hitung-hitung balas dendam kecil atas kejahilan yang kerap dia terima.

.

"Ainun Mursalin," ucap seorang pria paruh baya berkacamata di depan kelas. Di tangan pria itu tergenggam kertas berisikan daftar nama peserta didik yang ambil kelasnya. Yang dipanggil langsung angkat tangan, "Alvin Kayzan," lanjutnya kemudian. Kali ini gantian tetangga si perempuan yang angkat tangan.

"Yah, diabsen pula. Gak bisa nitip dong?" Keluh Alvin dalam bisikan.

"Dih, belum juga sehari udah kepikiran cabut aja," kawan wanitanya membalas.

"Siapa tau suatu waktu jenuh."

"Jenuh apa kagak niat?"

"Tsk," decih Alvin sambil buang muka. Enggan ladeni argumen perempuan satu ini.

"Hartono Tri," sementara dosen masih lanjut cek absensi, "Ian Aidan," mata si Bapak menyusur seisi kelas ketika gak ada yang angkat tangan, "Ian Aidan? Ada orangnya?" katanya memastikan dua kali. Mahasiswa lain ikutan celingak-celinguk buat nyari yang punya nama Ian, gak terkecuali Alvin dan Ainun. Tapi tampaknya gak ada yang kenal dengan si empunya nama, "Ian Aidan? Gak ada?"

Sampai akhirnya perhatian kelas teralih ketukan dan bukaan pintu kelas, "Hadir," ujar mahasiswa telat itu datar. Kebetulan yang sangat gak biasa, "maaf, saya dari toilet."

Betapa tercengang ekspresi Alvin pas tau ternyata pemilik nama tersebut, orang terakhir masuk kelas, adalah yang sempat bertabrakan dengannya di lorong tadi. Lelaki berjaket hitam. Lelaki itu gak pedulikan seluruh pasang mata di kelas yang tertuju padanya, termasuk mata Alvin dan Ainun. Melenggang masuk dan langsung ambil tempat duduk barisan belakang, gak pernah mengucap sepatah katapun lagi.

Sedangkan di benak Alvin masih terbesit ingatan saat ditatap saksama oleh Ian. Perasaan aneh yang sempat coba ditepis jauh-jauh, mendadak kembali tanpa diundang, Kenapa juga harus teliti orang di hadapannya sampai segitu detail? Apa ada yang salah dari penampilan gua?

Tapi pertanyaan itu tersimpan rapi di balik tempurung kepala Alvin. Sama sekali gak ada niat buat benar-benar tanya langsung pada yang bersangkutan. Kuliah berjalan normal walau cara penyampaian dan materi yang disampaikan Pak Dosen cenderung membosankan, namun tanpa ada masalah lebih lanjut dari kedua pemuda yang tadi nyaris bersitegang.

.

.

Sejam setelah mata kuliah usai, ruang kelas hampir sepenuhnya kosong. Kenapa hampir? Karena masih tersisa seorang mahasiswa yang tetap tinggal di ruangan akibat terlelap. Seorang lelaki berambut coklat kemerahan, melapis diri dengan jaket hitam sedang benamkan wajah di antara lipatan lengan. Dia tidur sedikit lebih lama sebelum jarinya bergerak, menekan deret nomor di telepon selular kecil jadul tipe flip. Tipe hp yang pantas dilabeli 'ketinggalan zaman'.

Beberapa detik dia menanti nada sambung sambil tetap pejamkan mata sampai ada yang jawab dari seberang sana, "Ya, hallo?"

"Gua udah ketemu dia. Yakin, dia orangnya?"

"Persis gak kayak di foto yang gua kirim?"

"... 100%"

"Itu pasti dia. Untuk sekarang lanjut pantauan dulu. Segera lapor bila ada kejadian, apapun itu. Gua izinkan lu buat ambil tindakan andai keadaan di luar kendali. Paham?"

Hela napas panjang berhembus dari hidung lelaki tersebut. Belum juga jawab instruksi dari seberang, jarinya keburu menekan tombol pemutus penggilan, "... Gak bisa ya kalo gak nyusahin gua?" tanyanya sarkas, lalu kembali benamkan wajah ke lipatan lengan di atas meja.

####


A/N: Assalamualaikum Internet! Selamat datang di fiksi Overheat! Ini merupakan fiksi original pertama saya, dan pertama kalinya juga posting di fictionpress jadi harap maklum atas segala ketidak-sempurnaan yang terdapat di dalamnya. Saya berusaha semaksimal mungkin buat terus belajar. Aturan-aturan serta penjelasan tentang semesta cerita ini akan saya jabarkan dan sebarkan hints melalui bagian cerita dan karakter yang terlibat supaya cerita ini gak terlalu penuh dengan yang namanya eksposisi. Bila ada aturan semesta ini yang sukar dipahami, bisa langsung tanya aja via review atau PM juga boleh.

Okay, sekian dulu. Saya harap pembaca bisa menikmati cerita ini sebagaimana saya menikmatinya! See you on next update.

Regards,
Mie.

Overheat © 2019 Mie Rebus All Rights Reserved