Tuhan kita sama, kita yang berbeda

Oleh, Nika Halida

"Abi, aku mencintainya."

Abi masih tidak dapat memahami pemikiran putra keduanya ini. Hal ini tidaklah benar. Sesuatu yang ia takutkan sejak awal, mengingat bagaimana putranya sangat senang bermain di dunia lain, dan ketakutannya kini benar-benar menjadi nyata. Apa yang nantinya akan ia sampaikan di depan sanak saudaranya, bahkan pertanggungjawaban di depan Tuhannya?

"Nak, biar bagaimanapun hal itu adalah sesuatu yang mustahil. Kalian tidak akan pernah bisa bersatu." Ia tidak pernah menyangka jika putranya akan jatuh cinta pada yang lain daripada mereka. Walau sebenarnya ia telah menyadari bahwa anaknya mungkin sedang jatuh cinta. "Ariq, sejatinya Allah menciptakan kami berpasang-pasangan. Namun satu hal seperti yang selalu aku ingatkan, nyala api tidak akan pernah bersatu dengan tanah."

"Dan sesungguhnya di antara kami (Jin) ada orang-orang yang shalih, dan di antara kami ada (pula) yang tidak demikian halnya. Adalah kami menempuh jalan yang berbeda-beda." (QS. Al-Jin: 11)

"Aku hanya tidak sengaja menampakan diri dan ia mulai membaca seluruh ayat-ayat dari surah yang mereka percaya bisa mengusir kita. Aku melihatnya Li, ia sangat lucu." Ariq membayangkan kembali ekspresi ketakutan Laila saat perempuan itu menemukannya dibalik jendela kamarnya, padahal saat itu ia hanya ingin melihat-lihat daerah sekitar Mushala yang Abinya ceritakan. Laila memulai dengan melafalkan ayat kursi hingga surah Yasin. Ariq ingin tertawa karena pelafalan Laila pada surah itu terdengar sangat berantakan, ia ingin berkomentar namun kasihan melihatnya ketakutan. Maka ia pergi. Hingga kemudian setelah bagian ini dilanjut, Allah menurunkan kebaikannya untuk muncul dihadapan gadis itu. Kejadian saat ia pertama kali bertemu Laila membuatnya terus mengingat gadis yang kemudian ia ketahui sebagai salah satu putri dari ulama di sana, maka ia terus berharap bisa mengunjunginya.

Ali tersenyum melihat bagaimana sahabatnya sangat antusias menceritakan hari-harinya saat ia menemui manusia itu, "Hei, menjahili manusia bukanlah hal yang baik,"

"Tidak, aku hanya suka melihat ekspresinya," jawab Ariq.

"Dengar, kejahilan kita bisa membuat manusia menjadi bid'ah dan syirik. Tidak baik seperti itu, kau 'kan taat beragama, hafal Alqur'an, dan rajin beribadah. Setelah sekian lama hidup kau harusnya sudah tahu mana yang boleh dilakukan dan mana yang tidak." Perkataan Ali ada benarnya, namun ia tidak pernah merasakan rasa bahagia yang seperti ini. Maka ia menganggap perkataan Ali saat itu hanya karena rasa khawatirnya.

Ariq berdeham setelah keheningan menyelimuti keduanya. Yang lain datang, dan ia melanjutkannya dengan suatu lelucon di dunia manusia, bahwa ada seorang jin yang terkurung dalam suatu lampu tua dan ia akan mengabulkan tiga permintaan manusia yang membebaskannya. Ketika mereka mendengar bagaimana cara membebaskannya, mereka tertawa.

Sesungguhnya segala urusan yang ghaib, hanya Allah yang dapat mengetahuinya.

"Dan sekiranya aku (Muhammad) mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya. Dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman." (QS. Al-A'raf: 188)

Laila berdiri memandangi orang-orang yang mulai mendatangi Mushala untuk melaksanakan shalat magrib dari dalam kamarnya. Astagfirullah, mengapa wanita ini membuka jendelanya di saat pergantian siang dan malam, syetan sangat suka waktu ini, apa ia tidak takut? rapal Ariq dalam hati. Perempuan itu mengenakan kerudung merah muda bermotif bunga yang sangat pas di wajah ovalnya, dengan tetesan air yang masih mengalir di wajahnya.

"Dengan basah dari air wudhunya, ia semakin terlihat cantik," ujar Ariq. Mashaallah tolong ingatkan makhluk ini jika ia tidak boleh menyimpan perasaan apa pun pada makhluk lain yang bukan haknya, terlebih ia adalah seorang wanita. Mana batasanmu soal nafsu dan ketetapan Riq, ingat itu.

Laila menutup jendelanya, melaksanakan shalat. Dan Ariq yang berlalu menuju Mushala untuk berjamaah. Ia mengambil wudhu dan melaksanakan shalat dengan khusuk. Namun setelah shalat dan beberapa ayat terlontar untuk memuja kepada-Nya, entah mengapa ia kembali teringat peempuan itu. Maka ia memutuskan untuk kembali melihatnya. Ariq terkikik geli saat mendapati wajah mengantuk Laila ketika sampai pada surah Al-Mulk, bahkan kepalanya sempat terantuk-antuk untuk kemudian tersadar kembali, melanjutkan bacaannya. Tanpa sadar ia mengikuti bacaan Laila, seolah membantunya. Tak sadar Ariq mengeluarkan suara yang ia butuhkan saat berada dalam bahaya. Laila mulai tersadar dari kantuknya, dan menyadari sesuatu.

Matanya menatap sekeliling kamarnya heran. Suara siapa tadi, pikir Laila dalam hati. Ariq menyadari kebodohannya saat melihat gelagat perempuan itu. Laila keluar dari kamar dengan Ariq yang masih membuntutinya. Kemudian ia menemukan ayahnya di ruang keluarga.

"Abah! Apa tadi Abah mendengarku mengaji lalu mengikuti bacaanku?"

"Abah bahkan baru saja sampai rumah. Mana Ibumu? Dan ah iya, abangmu sedang Tadarus bersama pemuda yang lain, nanti tunggu ia pulang sekitar jam sepuluh dan siapkan makan malam untuknya. Abah dan Ibu akan pergi keluar." Nafas Laila tercekat, dilihatnya jam dinding tepat di atas bufet pajangan milik Ibunya. Bahkan ini sudah masuk waktu isya mengapa ia bisa tak sadar? Laila kembali ke kamar lalu bergegas melaksanakan shalat, tanpa tahu Ariq juga mengikutinya, berdiri di depannya, seolah mengimaminya.

"Tiada sesuatu pun yang ghaib di langit dan di bumi, melainkan (terdapat) dalam kitab yang nyata (Lauhul Mahfuzh)." ( -Naml: 75)

"Kamu ke mana saja Ariq?" Ariq berhenti berjalan saat mendengar pertanyaan Abinya, ia tertunduk di depan beliau. Ia khawatir Abinya mengetahui apa yang perbuat, ia tidak bisa menandinginya. Abinya seseorang yang kuat. Ia punya mata di mana-mana.

"Apa kegiatanmu sekarang beralih menjadi pengawas manusia?" Gawat, ujar Ariq dalam hati. Sepertinya Abinya berhasil mendapatkan informasi dari rekannya, mungkin ada yang melihat saat dirinya turut melaksanakan shalat di Mushala.

"Ariq hanya melihat-lihat Mushala yang Abi ceritakan dan turut melaksanakan shalat di sana. Ariq sudah izin pada Ummi." Ia melihat sekeliling berharap menemukan keberadaan umminya untuk mendapat bantuan.

"Dengan tambahan masuk ke rumah seorang muazin? Kamu tahu apa konsekuensinya jika mereka melihatmu?"

"Ariq suka mengamati mereka Abi. Mereka memiliki sesuatu yang lebih dari kita namun mereka sesalu merasa kurang, Ariq hanya ingin tahu apa yang membuat mereka kurang bersyukur."

"Lantas apa yang kau harapkan setelah mengetahui hal itu? Kau merasa kita lebih hebat dalam hal bersyukur? Ariq, Abi ingatkan, Allah menitipkan kelebihan yang berbeda pada setiap makhluknya. Katakanlah jika memang benar manusia diciptakan lebih sempurna, lalu apa kita bisa memahami mereka? Menyalahi mereka karena tidak dapat menjaga kesempurnaan itu? Allah tidak mengatakan bahwa makhluknya yang ini lebih hebat, atau yang lainnya lebih hebat. Seperti dalam kisah nabi Sulaiman, ingatlah bahwa ia menguasai bangsa Jin pada masa itu. Dan ingatlah juga bahwa ia berasal dari tanah."

Astagfirullahaladzim. Ariq menggigit bibir bawahnya, ini sudah skak mat, pikirnya. Maka ia hanya dapat meminta maaf dan berjanji untuk tidak mengulanginya di kemudian waktu. Meskipun ia tidak tahu apa ia bisa menepatinya atau tidak. Wallahua'lam bisshowab.

"Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras sehingga (hatimu) seperti batu, bahkan lebih keras. Padahal, dari batu-batu itu pasti ada sungai-sungai yang (airnya) memancar daripadanya. Ada pula yang terbelah, lalu keluar mata air darinya. Dan ada pula yang meluncur jatuh karena takut kepada Allah. Dan Allah tidakklah lengah terhadap apa yang kamu kerjakan."

(QS. Al-Baqarah: 74)

Laila tertidur setelah memasak makan siang dan melaksanakan shalat duha. Dalam tidurnya ia bermimpi ada seseorang yang menyentuh pipinya, seperti tangan seorang lelaki, kasar namun menyentuhnya dengan halus. Ia terduduk dalam keadaan berpeluh, siapa orang dalam mimpinya tadi, pikirnya. Maka dengan buru-buru ia mengambil tasbih, merapalkan doa kepada sang khalik, memohon perlindungan.

Di lain sisi, Ariq turut kaget dengan hal yang baru saja ia lakukan. "Aku memohon maafmu ya Allah, sungguh aku telah melakukan dosa besar." Sentuhan yang bisa dilakukan bangsa Jin jika mereka benar-benar ingin, Ariq melakukannya.

Menyentuh seorang manusia, bersinggungan dengan hidupnya, sesungguhnya suatu perbuatan dosa. Ia paham itu, namun tadi, tadi … Sebenarnya ia tidak dapat memahami gelenyar aneh di hatinya saat melihat perempuan ini. Ia ingin selalu di dekatnya, melihat seluruh kegiatannya, melihatnya tersenyum, melihatnya mengaji. Ah, sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan.

Sungguh awalnya Ariq turun hanya untuk turut melaksanakan shalat Jumat di Masjid, karna jujur ia menyukai hal itu sejak dulu, mendengar bagaimana indahnya lantunan adzan yang berkumandang. Terlebih saat shalat Jumat, dirinya bisa melihat Masjid yang lebih padat dari biasanya, dan ia bisa mendengar khotbah yang disampaikan manusia. Sesuatu yang ia sukai, mengamati manusia dan pikirannya. Ariq menjauhi kamar Laila dan mulai melangkah mengikuti Abah Laila, menuju Masjid.

Sejak khotbah dimulai hingga satu-persatu orang mulai meninggalkan tempatnya, pikiran Ariq hanya dipenuhi dengan Laila. Ariq mulai bisa mengeja rasa. Terlebih menyadari bagaimana perasaannya yang kini sedang meluap-luap. Allah, apa ini salah? Apa tujuanmu menitipkan perasaan ini padaku? Hanya kepada-Mu aku menyembah. Dan hanya kepada-Mu lah aku memohon pertolongan.

"Dan rahasiakanlah perkataanmu atau nyatakanlah. Sungguh, Dia Maha Mengetahui segala isi hati." (QS. Al-Mulk:13)

Laila terpekur seorang diri. Makhluk ini sekarang berani menampakan wujudnya. Ia tidaj mempan dengan segala doa, maka ia Laila menunggu apa yang akan dilakukannya. Makhluk ini mengakui perbuatannya selama ini. Makhluk yang membuatnya merasa takut, namun aman di saat yang bersamaan. Laila sadar setiap pernyataan lelaki di depannya ini syarat akan keputusasaan, ia tidak menyalahkan itu, namun tidak juga tahu bagaimana cara menanggapinya. Sejatinya dijelaskan tentang qiran dalam Alquran, kamu pasti bukan qiran-ku 'kan, lantas jenis apa kamu? tanya Laila. Lelaki ini mengakui bahwa ia dari bangsa Jin, Laila terdiam. Namun sepertinya lelaki ini ingin membuktikannya, maka ia melantunkan setiap surah yang Laila minta. Dan Mashallah lantunannya sangat merdu menggetarkan hati. Ia bahkan mengaku seorang Hafiz. Laila mengerti, sebab iblis dan syetan tidak akan pernah sudi melakukannya.

"Kamu menjelaskan sejak tadi, tapi aku tetap tidak bisa mengerti apa tujuanmu menjelaskannya," ujar Laila menatap lelaki dihadapannya. Kalau lelaki ini mengatakannya hanya untuk menyalurkan perasaannya, lalu apa hubungannya denganku? Setidaknya begitu pikir Laila.

Detak jantung Ariq menggila akibat ucapan panjang yang Laila utarakan. Suara gadis ini begitu manis, Ariq memejamkan matanya agar tidak melulu menatap perempuan dihadapannya. "A-aku hanya ingin mengenalmu lebih dekat lagi," jawab Ariq terbata.

"Untuk apa?" Laila dengan wajah datarnya dan Ariq dengan senyuman bodohnya. Laila pun meninggalkannya sendirian.

Sekali lagi Ariq dipermainkan, hatinya diuji. Meskipun ia tahu bahwa ia belum cukup kuat untuk godaan maupun takdir semacam ini, namun ia bersyukur. Allah adalah zat yang mampu mengetahui segala isi hati. Allah maha baik, Ia mengabulkan permintaannya di tengah dua khotbah jumat agar Laila bisa melihatnya, menganggapnya ada. Perasaan lancang melingkupinya. Jika Allah mengizinkannya untuk ini, mungkin Allah juga akan mengabulkan permintaan agar Laila bisa memiliki perasaan yang sama terhadapnya. Ia ingin melindungi gadis ini, melihatnya setiap hari. Bukan maksud tidak percaya kekuatan Allah, ia hanya ingin memastikannya sendiri, entah mengapa. Mungkin ini yang manusia dan teman-temannya namakan cinta. Ariq dihadiahi sesuatu yang luar biasa, ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.

Biarlah semuanya mengalir. Seperti aliran sungai Niil yang membawa Musa hingga sampai dipelukan istri Fir'aun. Seperti Allah yang menukar Ismail dengan seekor domba saat Ibrahim ingin menyembelihnya. Seperti bagaimana selanjutnya kisah ini berjalan. Keduanya mulai menaruh hati namun sadar untuk tidak melangkah lebih. Maka Ariq hadir sebagai seorang teman dan Laila hadir sebagai warna baru di hidup Ariq. Biar hanya menjadi seperti itu. Inshaallah Ia tidak akan menurunkan murka-Nya pada kisah ini, juga kedua makhluk di dalamnya. Wassalam.

"Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur." (QS. As-Sajadah: 9)

Manusia bukan satu-satunya makhluk Allah SWT. Semua makhluknya diwajibkan untuk senantiasa beribadah kepada Allah. Jangan merasa hebat sendiri, jangan pula merasa bahwa dalam segala hal kau mampu berdiri di atas kakimu sendiri. Allah menciptakan kita semua untuk beribadah kepada-Nya, dan masalah hati yang dengan mudahnya terbolak-balikan, itu semua juga hak perogratif dari Sang Pencipta.