Silent

by: Phantom Devil

Original Character Belong to their respective author


Prologue


"Ah, kau sudah pulang, Kabuto," sapa seorang wanita dengan surai coklat, sembari tersenyum dan menyambut pria dengan surai perak itu yang saat ini tengah melepas sepatu yang ia kenakan.

"Aku pulang, Yon-chan." ucap pria itu sembari tersenyum lalu memeluk erat wanita dihadapannya itu.

"Hehe, jadi bagaimana pekerjaanmu hari ini?" tanya wanita itu.

"Biasa sih, semua pekerjaan selesai. Jadi aku tidak perlu lembur," ucap pria itu, membuat wanita itu tersenyum dan berkata,"Baguslah. Ayo masuk, kau pasti capek. Aku sudah menyiapkan air hangat untukmu,"

"Hehe makasih, Yon-chan. Kau memang yang terbaik," ucap pria itu, Magatte Kabuto, sembari tersenyum.

"Tidak masalah kok. "

Kabuto mengangguk kecil, sembari mengikuti istrinya memasuki rumah yang mereka tinggali.


"Daichi? Kau pulang larut lagi?" tanya seorang wanita yang berada di ujung sana.

"Ah, ya, tiba-tiba saja ada pasien dengan gangguan jantung yang belum lama ini datang," jawab pria dengan surai pirang itu yang saat ini tengah duduk di ruangannya sendirian, ditemani oleh suara seorang wanita yang melalui telepon tersebut.

"Begitu..."

"Maaf ya, akhir-akhir ini aku selalu pulang larut, Ruki," ucap pria dengan surai pirang itu, dengan nada bersalah.

"Yah, mau bagaimana lagi, kau ini kan dokter. Jadi aku maklum kok. Hanya saja, jangan terlalu memaksakan dirimu berlebihan, Daichi,"

Pria itu tersenyum kecil lalu berkata,"Baiklah. Ah, iya kalau capek kau tidur saja duluan, tidak masalah kok tidak menungguku. Aku tidak mau jika kau sakit, karena menungguku hingga larut."

"Aku mengerti, Daichi. Kau juga jaga kesehatanmu. "

"Pastinya, ah iya sudah waktunya. Aku harus kembali bekerja,"

"Baiklah, selamat bekerja Daichi."

"Terima kasih, Ruki. Dan selamat malam, mimpi indah ya? Usahakan bermimpilah tentangku,"

"Dasar bodoh. Ya sudah jangan berbicara yang macam-macam."

Sambungan telepon terputus, pria dengan surai pirang itu, Alicio Daichi hanya tertawa kecil, lalu menyimpan ponselnya di saku celananya sebelum melangkah keluar meninggalkan ruangannya.


"Takashi?"

"Ah, Celestia, selamat malam,"senyum seorang pria dengan surai hitam itu, sembari menghentikan aktivitas yang saat ini dilakukannya.

"Maaf, aku menganggumu ya?" tanya seorang wanita dengan surai pirang sepunggung itu, membuat pria dengan surai hitam itu menggeleng dan berkata,"Tidak kok. Kau belum tidur? Ini sudah larut,"

"Kau sendiri?"

"Ah, aku akan tidur setelah menyelesaikan ini sedikit lagi kok," jawab pria dengan surai hitam itu, sembari menunjuk tumpukan kertas ulangan yang tersusun rapi di meja ruang tamu.

"Baiklah. Kalau begitu, aku duluan tidak apa-apa?" tanya wanita itu sembari menguap pelan, membuat pria itu, Takashi Haruta hanya tersenyum lalu mengacak pelan surai pirang wanita itu dan berkata,"Tentu saja. Selamat tidur,"


"Ataya?"

Pria dengan surai pirang itu menoleh, melirik seorang wanita yang saat ini berdiri di belakangnya dengan iris biru langitnya.

"Yumi? Ada apa?"

"Bagaimana sidangmu hari ini?" tanya wanita dengan surai coklat itu sembari tersenyum.

"Semuanya berjalan lancar, Yumi." jawab pria itu sembari tersenyum lalu mematikan laptop yang digunakannya.

"Syukurlah, aku senang mendengarnya. Kau kan tau, entah kenapa setiap kau menghadiri sidang, aku yang merasa takut dan gugup, aneh ya?" ucap wanita itu sembari tertawa.

"Maaf ya, aku sudah membuatmu merasa khawatir." ucap pria itu, Ayari Ataya.

"Asalkan, kau baik-baik saja, kupikir itu sudah cukup, Taya."

"Baiklah, ayo istirahat, hari sudah mulai larut," ucap Ataya sembari beranjak dari tempat duduknya dan meregangkan tubuhnya sejenak.


"Kirigaya?"

"Ya? Ada apa Ryukota?" jawab pria dengan surai abu-abu itu tanpa mengalihkan pandangannya dsri koran yang dibacanya.

"Kau harus berhati-hati, kau tau sendiri kan? Akhir-akhir ini banyak sekali peristiwa aneh terjadi, lebih tepatnya banyak tindakan kriminal terjadi setiap harinya," jawab gadis dengan surai merah itu, sembari duduk di sofa yang posisinya bersebrangan dengan pria itu.

"Aku tau, tenang saja. Aku berjanji, kalau aku akan menjaga diriku baik-baik. Aku tidak mungkin keluar dari pekerjaan ini kan?" tanya pria dengan surai abu-abu itu sembari melipat koran yang dibacanya.

"Tentu saja tidak. Kalau kau berhenti, akan sulit mencari pekerjaan baru, apalagi bosmu saat ini orangnya baik kan?" tanya wanita itu.

"Yep, meski bosku ini agak tegas dan disiplin tapi dia orang yang baik dan bijaksana. Jadi kau tidak perlu khawatir, Ryukota." jawab pria itu, Masa Kirigaya sembari tersenyum.


Terkadang, ada beberapa hal yang terpaksa- tidak, lebih tepatnya harus dirahasiakan. Terutama dari keluargamu sendiri. Bukan karena kau tidak percaya pada mereka, namun akan lebih baik jika mereka tidak tau.


*Sometimes Silent is the best answer for a certain situation*


To be Continue