Perjalanan dari daerah sekitar apartemen Sidaine menuju Pengadilan Utama biasanya dapat ditempuh selama satu jam, mengingat lalu lintas pinggiran Avilion menuju daerah tengah lumayan ramai. Tapi, karena kali ini ia dibawa menggunakan mobil polisi, ia yakin akan tiba lebih cepat. Buktinya, sedari tadi mereka sudah melewati beberapa lampu lalu lintas yang sedang menyala merah, membuat beberapa pejalan kaki menatap kursi bagian belakang dari mobil polisi yang memimpin rombongan—tempat dimana Sidaine duduk—dengan tatapan beragam. Sidaine hanya bisa bersyukur jendela itu dilapisi plastik hitam tipis, jadi ia bisa lebih jelas melihat helaian rambut coklatnya yang mulai lepas dari ikatan kuncir kudanya dibanding tatapan menilai dari orang lain.

Sudah berkali-kali ia berusaha menenangkan dirinya sendiri. Menghitung satu sampai sepuluh bahkan nyaris tak berhasil lagi. Ia sama sekali tak bisa tenang.

Karena, Sidaine tak mengerti dimana ia berbuat salah. Ia tak tahu apapun soal kehidupan Fabiola diluar masalah percintaannya, tapi tetap saja. Sidaine menggertakkan gigi. Hanya karena satu tuduhan kecil dan sekarang ia akan disidang.

Negara ini benar-benar gila.

Setelah melewati beberapa belokan lagi, mobil yang ditumpanginya itu menuju ke sebuah gedung dengan gerbang emas besar dengan beberapa orang berdasi dan berkemeja yang berdiri di sekitarnya. Polisi yang duduk di kursi pengemudi membuka jendelanya dan mulai bicara dengan salah satu orang tadi.

'Satpam para Ruler,' Sidaine menatap simbol fleur de lis berwarna kuning keemasan yang tercetak cukup besar di dasi mereka.

Setelah berbicara tentang entah apa selama beberapa menit, mobil yang ditumpanginya kembali masuk ke dalam parkiran gedung sebelum akhirnya berhenti. Dari jendela, Sidaine bisa melihat lapangan tempat parkir Pengadilan Utama yang dipenuhi mobil-mobil mewah dan dedaunan yang berjatuhan dari pepohonan di sekeliling daerah lapangan parkir.

"Akhirnya sampai..." Sidaine bisa mendengar supir dari mobil polisi itu bergumam.

Partner polisinya ikut bicara. "Abis ini makan di restoran yang biasa yuk, laper gue."

"Tapi bayarin ya. Lagi gak ada uang nih."

Mereka berdua tertawa santai, tak mempedulikan Sidaine yang duduk diam menatap lantai mobil polisi dengan kosong. Sidaine sebenarnya tahu, apapun yang terjadi hari ini tak akan mempengaruhi mereka sedikitpun, jadi tak ada alasan bagi mereka untuk peduli kepada seseorang sepertinya. Tapi, tetap saja, rasanya sedikit sakit.

Polisi yang baru saja menyetir keluar dari mobil terlebih dahulu, diikuti dengan partnernya. Beberapa saat kemudian, salah satu diantara mereka membuka pintu bagi Sidaine.

Tanpa perlu aba-aba apapun, Sidaine melangkah keluar dari mobil.

"Tolong berbalik sebentar."

Sidaine membalikan badannya tanpa basa basi. Ia tak ingin berlama-lama lagi berada di sekitar mobil polisi karena yang bisa ia rasakan hanyalah tatapan tak senang dari pejalan kaki yang bisa melihatnya dari luar gerbang. Dan ia yakin mereka sudah mulai mengatakan hal-hal buruk tentangnya.

Polisi tadi mengikat tangannya dengan borgol yang menempel dengan kulitnya sedikit terlalu kencang.

"Nah, sudah."

Sidaine tak yakin komplainnya akan didengar, jadi ia tetap menutup mulut.

Setelah sang polisi sekali lagi memastikan bahwa borgol tadi telah terpasang di pergelangan Sidaine dengan pas, ia akhirnya digiring ke arah gedung putih pucat yang disebut Pengadilan Utama itu.

Sambil berjalan, Sidaine menyadari bahwa di akhir musim gugur seperti ini, warna gedung Pengadilan Utama terlihat makin pudar dibanding biasanya. Ia yakin hal itu hanyalah efek samping dari estetika Albion lama yang sangat disukai para Ruler, tapi karena kontras dengan warna kuning cerah dari dedaunan yang jatuh, gedung itu terlihat makin tak bisa didekati.

Arsitektur dari gedung Pengadilan Utama mirip dengan kastil-kastil lama yang ada di daerah Western, dan terlihat seperti versi lama dari kastil milik High Ruler yang hanya berjarak beberapa blok dari gedung itu.

Karena memikirkan soal High Ruler, Sidaine kembali ingat bahwa Pengadilan Utama berada di bawah kuasa dari sang 'Raja' dengan nama gelar yang diubah itu. Sebenarnya gelar High Ruler tak setara dengan Raja, tapi dengan estetika dan kewenangan yang dimiliki orang dengan gelar itu, di mata Sidaine, New Albion seakan memiliki sistem pemerintahan monarki absolut.

Dan jika suatu gedung berada di bawah kuasa High Ruler, mereka memiliki beberapa persamaan. Salah satu diantaranya biasanya dipajang di dekat pintu.

Tepat di bagian atas pintu masuk, sebuah pahatan emas yang cukup besar menghiasi abu-abunya gedung itu.

'Guilty until proven Innocent'—'Bersalah sampai terbukti tidak bersalah'

Pahatan itu berkilau terkena cahaya matahari musim gugur, sama seperti badge dari polisi yang sedang menggiringnya sekarang. Tulisannya memang diukir dengan indah dan dipasang di beberapa titik di Avilion yang sepenuhnya dikuasai High Ruler, cukup terkenal, tapi juga cukup mengundang pertanyaan dan perdebatan. Rasa mual di dalam perutnya selalu makin menguat setiap membaca kalimat tadi, dan kali ini rasa itu menjadi lebih kuat dibanding biasanya karena keadaan yang sedang ia hadapi.

Tapi hanya karena ia sudah berada di posisi seperti ini, bukan berarti Sidaine akan menyerah.

Ia digiring menaiki tangga, melewati tangga dan masuk ke dalam gedung tua itu.

Pintu di Pengadilan Utama selalu susah dibuka dan terdengar jauh terlalu berat untuk pintu kayu biasa. Bahkan, kali ini, yang membuka pintu utama pengadilan agar ia masuk adalah dua orang yang sepertinya pegawai pengamanan pengadilan, melihat mereka memakai rompi dan dasi hitam tanpa simbol fleur de lis kuning yang mencolok.

Mereka mendorong pintu yang Sidaine yakin pernah berwarna putih terang itu dengan sepenuh tenaga. Kemudian, decit engsel bergema di seluruh penjuru ruangan, membuatnya merasakan seluruh pandangan mata para penonton sidang yang teralih padanya.

"Terdakwa kita telah datang."

Suara maskulin yang sedikit robotik menggema dari pengeras suara, jauh lebih keras dibanding decit engsel beberapa detik sebelumnya. Sidaine memang tak mengenali suara itu, tapi setelah beberapa tahun mengikuti sekolah menengah atas, ia tahu hanya ada satu orang yang diperbolehkan 'menyambut' terdakwa dengan menggunakan penyamar suara.

Siapa lagi kalau bukan oh pemimpin tinggi misterius yang dipuja-puja semua orang.

"Hehe, terima kasih atas sambutannya, High Ruler." Kali ini suara feminim yang bicara, lebih menggema dan pelan karena suaranya berasal dari bagian depan ruangan sidang, tempat dimana para Ruler duduk.

High Ruler yang suaranya kembali terdengar dari pengeras suara menjawab dengan datar. "Sama-sama, Samantha Dahlberg."

Samantha Dahlberg.

Sidaine mengenal nama itu. Ia tak akan lupa, apalagi saat ia sedang berada di persidangan karena dugaan pembunuhan atas Fabiola O'Brian.

Samantha ini adalah salah satu dari banyak selingkuhan pacar Fabiola. Sayangnya karena Fabiola menyuruhnya agar lebih fokus ke selingkuhan pacarnya yang lain, jadi ia hanya mengenal namanya saja. Mana tahu ia kalau wanita itu adalah seorang Ruler.

Perlahan, alasannya ditangkap menjadi semakin jelas.

'Tapi jangan seenaknya menyimpulkan dulu,' Sidaine menarik napas dalam. Salah satu pelajaran paling berharga yang ia dapatkan selama beberapa tahun bekerja menjadi detektif—walau hanya mengurusi kasus percintaan—adalah jangan mudah menyimpulkan sesuatu. Mungkin saja ini hanya kebetulan. (Walau ia tak yakin.) Jadi ia kembali fokus kepada pemandangan di depannya.

Polisi yang sedari tadi menggiringnya mendorong punggungnya sedikit, memaksanya untuk berjalan masuk ke dalam ruangan sidang.

Rasa yang pertama kali Sidaine rasakan saat memasuki ruangan itu adalah takut. Selain itu, ia juga merasa seluruh otot di tubuhnya menjadi tegang. Bukan hanya karena ia sedang digiring polisi untuk diadili oleh para Ruler yang keadilannya diragukan, tapi juga karena ruangan besar itu mengingatkannya pada penjara dan rumah sakit disaat yang bersamaan.

Sidaine tak akan pernah mengerti dengan sifat kemewah-mewahan dan tak penting yang dilakukan oleh para Ruler. Kebanyakan dari interiornya memang bergaya vintage atau klasik, seperti jenis kursi yang dimiliki landlord dari apartemennya. Tapi, berbeda dengan landlordnya yang setidaknya memiliki fashion sense untuk mengatur dan mengkombinasikan warna dari furniturnya, nyaris semua warna yang dapat ditangkap matanya adalah putih. Putih pucat, putih terang, putih keabu-abuan—warna-warna yang membosankan.

Selain itu, entah bagaimana caranya bau steril dari obat-obatan yang biasanya tercium di bagian apotek rumah sakit terasa di dalam sebuah ruangan sidang yang sebagian dibuat dari kayu. Memang tidak terlalu kuat, tapi bau itu membuat Sidaine bertanya-tanya jenis cairan pembersih apa yang digunakan oleh para pembersih gedung pengadilan ini dalam pekerjaan mereka.

Pandangannya kemudian beralih ke bagian paling depan dari ruang sidang itu. Tempat yang biasanya diisi dengan tempat duduk hakim di dalam pengadilan biasa, disini digantikan dengan kursi yang memang mirip dengan bentuk kursi judge tapi lebih panjang agar beberapa Ruler dapat duduk disana. Warna dari meja dan kursi-kursi mewah itu juga berwarna putih, tapi jelas-jelas lebih terawat dibanding furnitur lain di dalam ruangan.

"Silakan duduk di tengah sana," Samantha memberi gestur tangan kepada Sidaine dari posisinya yang lumayan tinggi. Tangannya diarahkan ke satu-satunya warna mencolok di ruangan tersebut. Merah. Merah untuk bantalan dari sebuah kursi yang berdiri sendirian tepat di sekitar tengah ruangan yang dihiasi lampu gantung megah. Merah yang kontras dengan segala hal di dalam ruangan itu. Merah yang merupakan salah satu warna yang melambangkan New Albion.

Tanpa perlu didorong lagi oleh polisi di belakangnya, Sidaine maju sedikit demi sedikit ke kursi merah itu, berusaha menghiraukan tatapan dari para penonton sidang. Mungkin jika mereka merupakan penonton biasa, seperti penonton sidang di pengadilan negara lain, ia akan bersikap biasa saja. Tapi, ia sudah dituduh tanpa bukti, digiring ke sini, dan sekarang ia harus ditatap oleh puluhan pasang mata dari balik topeng-topeng yang cocok untuk dipakai di dalam pesta topeng. Hari ini benar-benar sudah gila.

Sambil memposisikan dirinya untuk duduk, Sidaine hanya bisa berpikir betapa megahnya pengadilan ini. Sudah berkali-kali dan sejak kecil ia membaca tentang Pengadilan Utama yang disebutkan sebagai salah satu pengadilan tertua dan paling penting di New Albion. Tempat dimana para Ruler membela kebenaran, mengusir para pembuat dosa besar dari masyarakat.

Huh. Ya, terserah. Menurutnya, gedung besar ini lebih mirip seperti gedung opera di dekat rumahnya dahulu. Besar, kosong, memiliki panggung, dan dibentuk hanya sebagai permainan dan entertainment bagi para penontonnya.

Setelah Sidaine duduk dengan tegak, Samantha Dahlberg-sang Ruler yang sedari tadi memberikan instruksi padanya berdeham dan mengangkat mikrofonnya sebelum kembali bicara dengan senyuman seorang ringleader dari sirkus.

"Para penonton sidang sekalian, selamat datang."

Puluhan orang di belakang Sidaine menggumamkan balasan terima kasih dan pujian-pujian lainnya yang tak bisa ia pedulikan.

"Hari ini kami akan memulai sidang awal bagi Nona Sidaine LeBlanc—"

"Moreau," Sidaine bicara dengan menahan amarahnya. "Nama saya Sidaine Moreau."

Samantha menatapnya dengan singkat. Dengan kedua mata biru mudanya yang memantulkan kebahagian yang sangat jelas dibuat-buat. Dengan senyuman liciknya yang seakan siap memangsa siapapun yang berani melawan. Kemudian, Ruler itu kembali bicara pada para penonton.

"Sidang atas tuduhan pembunuhan terhadap Nona Fabiola O'Brian, yang baru saja ditemukan dini pagi tadi, dua blok dari apartemen Nona Sidaine!"

Beberapa orang yang menarik napas kaget, yang menurut Sidaine kedengarannya terlalu komedik dan dibuat-buat. Dan ditambah dengan cara bicara Samantha barusan, ia merasa sidang ini makin lebih mirip dengan sirkus setiap detiknya.

"Ruler yang akan membawa persidangan hari ini adalah saya, Samantha Dahlberg, dan Nathanael Augustus." Tangannya menggestur ke arah kanannya, ke arah kursi kayu tempat dimana duduk seorang lelaki dengan rambut hitam yang ditarik ke belakang, tanpa sehelai pun yang jatuh. Sidaine tertawa di dalam hati. Sepertinya rambutnya dirapikan dengan gel rambut seharga dengan makanannya untuk seminggu.

Dibanding dengan Samantha yang memakai sundress berwarna biru cerah—di musim gugur—yang dilapisi dengan kardigan putih tipis, Nathanael sepertinya memiliki sedikit lebih banyak otak untuk memakai jas hitam, rompi abu-abu, dan kemeja putih, membuat pakaiannya sedikit mirip dengan jubah yang biasa dipakai di pengadilan biasa.

Lelaki yang duduk di sebelah Samantha terlihat seperti kebalikan dari Ruler berisik itu. Dan bukan hanya dari pakaian.

Tatapannya yang diedarkan ke seluruh ruangan itu sepenuhnya dingin, tanpa ada apapun yang dibuat-buat. Yang ada hanya kebosanan dan sesuatu yang tak Sidaine kenal dari warna hazel itu. Jemari kanannya yang dilapisi sarung tangan sehitam rambutnya menutupi sebagian dari bibir dan hidung sang lelaki, membuat ekspresinya sedikit tak jelas bagi Sidaine.

Di tengah observasinya terhadap Nathanael, ia bisa mendengar teriakan tertahan dari beberapa penonton perempuan. Fansnya, mungkin? Sidaine tak mengerti kenapa seorang Ruler bisa mempunyai fans. Memangnya apa yang menarik dari lelaki yang berdiri di salah satu kursi elit negara korup seperti itu?

Nathanael memang mungkin termasuk dalam kategori menawan, tapi ia masih punya standar. Dan seorang pemimpin korup jelas-jelas jatuh di bawah standarnya.

Setelah Samantha menyelesaikan omong kosongnya yang tak Sidaine dengarkan karena ia terlalu sibuk menilai Nathanael, sang Ruler duduk di kursi kayunya dengan santai, lalu, bicara ke arah mikrofon.

"Silakan duduk di kursi Anda karena sidang siap kami mulai."