Anggaplah ini sebuah cerita tentang seekor beruang kutub yang sedang menikmati senja sore sambil minum kopi. Kopi hitam hangat nan segar di dalam cangkir kecil itu ditelan sedikit demi sedikit, dari ujung bibirnya langsung ke dalam kerongkongan.

Matahari yang terbenam di ujung pinggir daratan itu terlihat bewarna kuning kejinggaan. Beruang menatap matahari jingga itu dari belakang jendela, dengan kepala agak menengok ke kanan, menghadap ke jendela. Dengan jarak yang lumayan jauh, matahari itu tetap terlihat indah bercahaya.

Sang beruang yang duduk di bangku kecil dengan meja kecil berbentuk kotak terlihat santai. Ruangan sekitar hanya dipenuhi dengan dinding-dinding kayu, ditambah pintu berkayu yang tepat berada di samping dinding lain yang berhadapan dengan dinding di mana beruang sedang menatap jendela. Jendela yang ditatap beruang hanya terdiri dari 2 jendela kecil berukuran 3 banding 4. Sedangkan jendela yang berada di sekitar pintu terdiri dari 2 jendela lumayan besar berukuran 3 banding 4, semuanya berada di sisi kanan pintu jika dilihat dari dalam ruangan.

Tangan kanan beruang memegang cangkir kecil dengan isi kopi yang baru saja ia minum. Tangan kiri memegang garpu. Garpu dengan 3 tusukan itu menancap sebuah kue brownies bewarna cokelat agak kehitaman. Beruang mengambil sedikit potongan kue brownies tersebut dan memasukkannya tepat ke dalam mulut si beruang.

Ini seperti hari-hari yang seperti beruang lakukannya setiap hari.

Dari arah pintu, terlihat seekor penguin yang baru saja membuka pintu tersebut. Sang penguin membawa 3 ekor ikan segar yang tergantung di tali. Sayap kanan sang penguin memegang gantungan tali berisi ikan-ikan segar tersebut. Sedangkan sayap kirinya memanggul alat pancingan yang dipanggul di samping pundak sang penguin.

Dia berjalan memasuki ruangan. Dia menaruh gantungan ikan itu di pojok ruangan, tepatnya pojokan di belakang badan sang beruang. Sedangkan alat pancingannya dia taruh tepat di samping kanan gantungan ikan itu juga. Beruang yang terlihat keheranan itu pun bingung melihat kelakuan si penguin tersebut.

"Sedang apa kau?" tanya penguin.

"Minum kopi sambil menikmati senja," jawab si beruang kutub dengan santai.

"Senja kopi senja kopi. Bapak kau senja kopi," seru si penguin.

"Ye... bodoh amat!" seru balik si beruang.

Kemudian, si penguin duduk di bangku kecil, berhadapan langsung dengan si beruang.

"Ya... kalo begitu terus, kau tidak ada bedanya dengan kumpulan anak-anak indie itu, nak," kata penguin.

"Ya bodo amat!" seru si beruang.

Sang beruang pun tetap meminum kopi hangat tersebut. Si penguin makin keheranan.

"Kenapa kau lanjutkan minum kopi tersebut, nak...?" tanya penguin.

"Ya kan ini sudah jadi kebiasaan aku," jawab si beruang.

Semakin kesal dengan omongan tersebut, penguin melayangkan sayap kanannya dan memukul cangkir kopi yang baru saja diminum oleh sang beruang tersebut. Cangkir yang baru saja terlepas dari tangan si beruang jatuh tepat di atas lantai dan menumpahkan seluruh isi kopi hitam hangat yang lezat tersebut. Beruang yang melihat cangkir itu kemudian marah besar.

"Eh goblok!" marah sang beruang. "Lu malah buang-buang isi kopi punya guwa," lanjutnya.

"Ye biarin!" seru si penguin. "Lagian minum kopi terus. Gak mabok apa?"

"Enggak."

Muka penguin pun semakin cemberut. Kaki kanannya mengangkat dan menendang bawah meja sang beruang. Meja pun terangkat, terbang, melayang, dan akhirnya terbalik. Meja terbalik itu berpindah beberapa kaki dari tempat semula. Dan sisa-sisa brownies yang dimakan sang beruang pun tumpah kemana-mana.

"Memang kau tak tahu sopan santun ya, nak!" marah beruang kutub.

Tangan kanan sang beruang mulai mengepal dan menghajar bagian kiri wajah penguin, tepat di sisi kiri paruh si penguin. Paruh si penguin mulai membengkak.

Si penguin mulai mengelus paruhnya yang mulai bengkak itu. Tak mau ketinggalan, penguin kemudian menghajar balik muka sang beruang dengan sirip sayap kanannya, tepatnya di bagian ujung pojok kiri di mata kiri sang beruang. Mata itu pun mulai membengkak juga.

Si beruang mulai mengelus juga mata kirinya yang membengkak itu. "Wuanjir!" seru beruang.

Tak lama berselang, kaki kanan sang beruang mulai mengangkat dan menendang bagian bawah selangkangan sang penguin. Selankangan penguin kram. Dua sayap penguin pun mengelus bagian selangkangan yang kram tersebut. Dan kemudian, badannya terjatuh.

Beruang yang melihat badan penguin terjatuh pun mulai menghempaskan kaki kanannya. Telapak kaki kanan tersebut mulai menghajar muka si penguin berkali-kali, hingga muka si penguin tampak bengkak kemerah-merahan.

Penguin dengan muka bengkak tersebut mulai berdiri kembali. Beruang berjalan sedikit, membelakangi jendela. Namun yang terjadi kemudian, kepala penguin malah mulai menyeruduk perut si beruang, dan beruang terperosok ke dalam jendela hingga menyebabkan kaca jendela tersebut pecah berkeping=keping.

Matahari yang terbenam itu pun semakin tampak terlihat sedikit lengkungannya. Langit hitam pun mulai memunculkan kegelapan. Namun badan beruang kutub tergeletak tepat di atas daratan. Beruang kutub yang sudah berada di luar ruangan tersebut mulai berdiri lagi dan melihat jendela dengan kaca yang sudah berlubang itu. Namun belum selesai dia melihat-lihat, sang penguin mulai berlari-lari dan melakukan serudukan lagi hingga badannya keluar jendela. Kali ini serudukannya tepat menghadap muka sang beruang. Badan beruang pun terjatuh. Dan penguin yang baru saja menyeruduknya juga terjatuh berbaring, namun tak lama setelah itu penguin berdiri dan bangkit kembali hanya untuk melihat muka sang beruang yang makin bengkak itu.

Beruang yang cukup kaget dengan serudukan penguin tersebut tampak kebingungan. Penguin yang berada di sisi kanan beruang tersebut masih tetap melihat penampakan muka bengkak beruang kutub tersebut.

"Ya lord," kata beruang. "Itu serudukan macam apa tadi?"

"Yak!" jawab penguin. Namun si penguin tidak berbicara banyak. Namun kemudian pandangan penguin berubah alihan ke arah matahari yang sudah benar-benar tenggelam penuh itu. Tidak ada lagi penampakn matahari di ujung sana. Yang ada hanyalah langit malam dengan bintang-bintang kecil yang mulai menyinari daratan.

"Nah! Kau lihat itu kan?" seru penguin. "Waktu senja sudah habis," lanjutnya.

Sang beruang pun mulai membangunkan punggungya dan tetap merebahkan kakinya. Dia pun melihat arah matahari yang menghilang tersebut.

"Ini waktunya untuk tidur...," lanjut si penguin.

Beruang kutub pun bingung.

"Kau tahu ini waktu yang pas buat apa?" tanya penguin ke si beruang.

"Apa?"

"Waktunya minum teh."

Beruang kutub tetap kebingungan.

"Mau minum teh?" tanya kembali si penguin.

Beruang kutub pun makin tetap kebingungan.

Sesaat kemudian, dia pun menjawab, "Enggak."

"Lah?!"

Walau terlihat kekecewaan, namun sang penguin mulai menjulurkan sayap kanannya dan menarik kedua tangan sang beruang. Badan sang beruang mulai berdiri penuh lagi.

"Jadi, mau minum teh enggak?"

"Enggak."

"Mau enggak?" paksa si penguin.

"Kan aku udah bilang dari tadi. Enggak."

Penguin yang mulai makin kecewa itu mulai menghajar lagi muka si beruang, namun kini menggunakan layangan sayap kiri. Beruang dengan muka yang makin membengkak itu kemudian mencoba menyerudukan kepalnya ke atas kepala penguin. Namun yang terjadi dia malah terpeleset dan terjatuh karena target serudukannya tidak mengenai tepat di atas kepala penguin.

Badan beruang yang terjatuh berbaring itu pun kemudian diinjak-injak oleh kaki kiri sis penguin. Injakan yang tepat di atas punggung sang beruang pun membuat punggung sang beruang mengalami kesakitan dan nyeri.

Tak mau menyerah, beruang pun membalikkan badannya. Kaki kiri penguin pun terpeleset hingga menyebabkan badannya terjatuh kembali.

Tak lama berselang, beruang mulai mengangkat kaki kanannya dan mulai menginjak-injak punggung penguin. Berkali-kali berhasil, namun tiba-tiba gagal. Kaki kanan beruang pun ikut terpeleset juga karena badan sang penguin mulai menegakkan diri lagi.

Sang penguin membalikkan badannya dan mulai menghajar dengan sayap kiri. Beruang pun tak mau ketinggalan dengan jurus hantaman tangan kanan dan kaki kanannya. Baku hantam semakin tak terhindarkan.

Si anjing laut yang melihat dari kejauhan tersebut tampak makin bingung.

"Kok guwa makin gendeng aja lihat nih tingkah dua hewan?" bingung si anjing laut.

Tak mau ikut dalam pertarungan tersebut, si anjing laut mulai menyeretkan badannya, mengayuhkan kedua siripnya, kemudian pergi menjauhi titik tersebut, entah kemana. (")