Warning: AU, Ghost!Mirza

=o^o=

Riota memandangi dua sosok tembus pandang yang berdebat seperti biasa di depannya, dia memangku dahu sambil sesekali meneguk susu yang telah dibelinya, dua earphone menyumbat telinga sambil sesekali Riota menimbrung pertengkaran kecil tersebut—tak mau dianggap orang aneh karena bicara sendiri.

"Sudah sana pergi kalau memang kangen!" Gadis itu mengusir hantu di sebelahnya agar cepat pergi, yang langsung ditanggapi kesal oleh pemuda itu dan menghilang. Mirza menghela napas lelah, "Dia benar-benar menyebalkan."

Lelaki bermarga Futanabe itu tertawa, "Dan aku sudah mengenal Kazuki hampir tiga tahun," dia berkata dengan santai, kini mencoreti kertas kosong.

Mirza melayang di dekat Riota untuk melihat apa yang digambarnya, dan tersenyum tipis—ternyata Riota sedang menggambar sketsa dirinya. "Tanganmu terampil seperti biasa," ujar Mirza memuji.

"Akunya nggak terampil gitu?" Tanggap Riota pura-pura cemberut, sedangkan satu-satunya hantu yang bersamanya itu tertawa. "Tapi, memang sih," Riota melihat hasil sketsanya, "Mirza cantik."

"Aku memang cantik."

Riota lupa dengan kenarsisan Mirza. "Tapi kalau cantik kenapa tidak hidup?"

"Kurang ajar." Mirza memukul kepala Riota, tapi hasilnya hanya menembus dan gantian Riota yang tergelak.

Meredakan tawanya, Riota memandang kertas itu dengan pandangan yang nampak—redup. "Mirza," dia memanggil dengan begitu pelan, "bagaimana rasanya mati?"

"Menyakitkan."

Riota lekas menoleh pada Mirza yang sangat cepat menjawabnya, Mirza tak balik menoleh padanya melainkan melihat dedaunan pohon saling bergesekan tertiup angin. "Rasanya menyakitkan," dia mengulang, "karena kau sadar kau tak lagi hidup. Tak bisa dilihat oleh orang lain, tak bisa dirasakan oleh orang lain, dan tak bisa menyentuh orang lain, berbicara dengan mereka pun tidak." Mirza mengatakannya dengan senyuman di wajah, baru lah dia memandang Riota dengan pandangan yang sangat berarti.

"Dan kau akan sadar pula, kau tak lagi bisa berinteraksi dengan orang yang kau hargai, yang kau sukai, yang kau sayangi."

Lekas Riota melempar tatapan ke mana Mirza menunjuk; pemuda bersurai hitam legam dan pemuda beriris biru kelabu berbincang bersama di kejauhan.

Riota mencerna semua kalimat itu seksama dalam otaknya, menyadari apa yang Mirza katakan adalah sebuah kebenaran yang menyedihkan. Riota memandang Mirza untuk sekian kalinya, sekarang menemukan bahwa gadis itu menyunggingkan senyum yang tak bisa diartikan oleh Riota. Pasti, rasanya sangat tak menyenangkan mati. Lelaki itu berusaha menyentuh tangan Mirza, dan hasilnya sama seperti biasa—menembus.

"Kau baik-baik saja?" Riota bertanya dengan hati-hati, merasa agak bersalah karena pertanyaannya yang tadi sepertinya cukup sensitif.

Mirza mengangguk, "Aku sudah terbiasa dengan itu semua," Mirza mengibaskan tangan sambil tersenyum lebar dan melayang di sekeliling Riota, "lagian, sekarang aku juga tak merasa seperti itu lagi. 'Kan, aku sekarang berteman dengan Riota!"

Senyum itu kini terlihat begitu tulus di netra langit Riota, akhirnya mengangguk semangat. "Aku pasti akan menemani Mirza selamanya!" Dia berkata penuh antusias.

"Oh kau ingin mati juga?"

Dan Riota langsung menggembungkan pipi, "Bukan begitu," dia merajuk sementara Mirza tergelak.

"Iya, iya tahu kok, jangan ngambek gitu ntar tambah jelek," Mirza dengan sengaja menembus tubuh Riota hingga Riota berjengit sendiri karena hawa dingin yang cepat berlalu yang dia rasakan.

"Mirza lebih jelek lagi!" Balas Riota menahan kesal, tapi Mirza sama sekali tidak terpengaruh.

"Wah~ aku jadi bingung siapa yang menyebutku cantik tadi."

Bisa dirasakan panas yang merambat di wajah Riota mendengar itu, "Aku menariknya lagi! Mirza tidak jadi cantik, boo." Dia bersedekap sambil menatap Mirza jengkel.

"Ututu si malaikat ngambek pada setan, eh?" dan Mirza tambah gencar menjaili Riota.

"Diam, ih!"

"Tidak mau, boo."

"Mirza jelek."

"Yang bilang lebih jelek lagi."

"Apa?!"

Dan pertengkaran mereka terus berlanjut.